“Aku tidak akan pernah pacaran Ma. Aku tidak akan dekat dengan laki-laki lain,” kukatakan dengan tegas tekadku saat itu, saat aku masih berusia sebelas tahun dan belum tahu apa-apa. Kukatakan itu kepada ibuku yang khawatir anak perempuannya menjalin hubungan dengan laki-laki yang belum tentu mahramnya.

Namun, semua berbeda ketika lingkungan menuntutku beradaptasi. Maafkan aku Ma, aku sudah berusaha mengendalikan diri, tapi sulit untuk hatiku berkompromi. Memang tak ada cinta di antara kita, atau lebih tepatnya mungkin tidak ada cinta di hatinya untukku.

Dia tak pernah mengatakan apapun tentang cinta, dia tak pernah menyinggung sedikit pun tentang hati, tapi aku selalu menerka-nerka isi hatinya di setiap minggu perjumpaan kami via suara.

Bahkan aku tak pernah menyangka dia akan hadir tepat ketika palung kekosongan hati mulai merindukan sosok yang siap mengisinya. Aku mengenalnya hanya sebatas teman satu angkatan. Tak lebih. Kami tak pernah saling berkomunikasi, bahkan sekadar menyapa pun jarang. Kami sering dipertemukan dalam kegiatan yang sama, tapi hal itu pun masih hambar. Dia hanya mengenalku sebatas teman angkatan dan aku pun juga sama.

Namun semua berbeda ketika masa putih abu-abu berakhir. Aku tak tahu begitu banyak kebetulan kala itu yang memang sengaja mempertemukan kita dalam dua manusia yang berbeda. Sekolah kami yang kebetulan hanya bertetangga kota, teman sekamarku yang kebetulan juga teman SMA dari teman sekamarnya. Dan itulah awal dari semua ini. Melalui perantara teman sekamarku dan teman sekamarnya, akhirnya dia tahu di mana sekolahku yang ternyata tak lain dan tak bukan adalah bertetangga kota.

Advertisement

Telefon pertama darinya membuatku bertanya-tanya, membuatku gelisah, membuatku selalu berharap agar setiap hari adalah akhir pekan. Telefon kedua datang, secara tak kasat mata, mungkin saat itu di kepalaku penuh dengan bunga-bunga walaupun dia tak pernah menyinggung soal cinta. Kami hanya bertukar cerita tentang perkuliahan masing-masing. Hanya itu, tapi cukup membuatku tak berhenti tersenyum dan membayangkannya.

Hingga suatu ketika aku mengetahui bahwa perlakuannya tersebut tidak hanya terjadi padaku. Namun, hampir kepada semua teman se-angkatan. Hatiku sedikit kecewa. Namun, aku tak mampu menghindari setiap panggilan masuk darinya. Bisikan-bisikan untuk mengangkatnya selalu menang mengalahkan apapun. Bahkan aku tidak peduli jika dia hanya mempermainkanku

Di saat-saat tertentu, terngiang kembali pernyataanku di usiaku sebelas tahun. Teringat kembali kepada Allah. Menyembul pertanyaan-pertanyaan yang hanya berakhir retorika. Dosakah semua ini? Toh kami tidak pacaran kan? Kami hanya bertelfonan. Kami juga tidak menyinggung masalah hati.

“Lalu kamu senang ditelfon hingga sejam lamanya? Padahal hampir semua teman seangkatan juga ditelfon. Apa kamu gak merasa murah di matanya?”

Astaghfirulah… aku terhentak dengan pertanyaan tajam dariku sendiri. Aku berada di ambang kebingungan. Aku ingin menjaga jarak dengan laki-laki, tapi hatiku yang terlalu iri dengan orang lain yang mendapat perhatian dari lawan jenis mulai mencari kebenaran semu.

Namun suatu ketika tekadku untuk menjauhi lawan jenis sudah bulat, lagipula aku tak mau jika ternyata akulah yang menanam benih cinta, sementara dia tak juga menuainya.

Aku mulai menjauhinya. Dua bulan aku melaksanakannya, tapi batinku tersiksa. Kesepian yang dibumbui oleh setan membuatku berharap kembali akan kehadirannya. Muncul lagi benakku untuk bertukar cerita seperti dulu.

Terlebih statusku sebagai seorang pengurus rohis membuatku merasa munafik melakukan semua ini. Namun, hatiku cukup teraniaya sunyi dan dia hadir mengisi palung kekosongan ini. Andai saja aku bisa menahan nafsuku. Andai saja hatiku tidak menahan iri, pasti aku tak akan bersandar pada cinta tak halal ini. Ya Allah… maafkan hamba terlalu lemah menghadapi ini. Aku tidak mampu menjauhinya lagi.

Andai kesalahanku ini bisa kutebus dengan ibadah lain, karena aku tak mungkin mampu meninggalkannya. Biarkan semua mengalir apa adanya.

Hingga tiba di ujung cerita akan ada hati yang tersakiti. Aku masih di persimpangan saat ini. Aku lemah untuk meninggalkannya, meskipun cinta ini hanya milikku semata.