“yah kertasnya jatuh”,, ungkap Melda saat berjalan di tangga menuju ruang kerjanya.. “ini..” sambil mengembalikan kertas Melda yang terjatuh, “kamu siapa?”,, Tanya Melda pada seorang lelaki muda yang membantunya tersebut. “Raka, karyawan baru bagian Engineering” jawab Raka,

Raka adalah karyawan baru di perusahaan tersebut, seorang lelaki muda dengan berawakan tinggi , agak kurus, dan merupakan lulusan terbaik di salah satu perguruan tinggi swasta di ibu kota. “ohh, makasih ya..” jawab Melda sambil berlalu meninggalkan Raka.

Haripun berlalu dan tak terasa sudah hampir sebulan, saat dimana Melda dibantu Raka. Melda merupakan sosok yang independen, tegas, tapi baik hati yang susah sekali terpesona dengan lawan jenis, bayangan seseorang di masa lalunya belum benar-benar hilang dari memorinya. Tapi sosok Raka, mampu membuatnya terdiam memikirnya walaupun di saat jam kerja,

“hey nglamun ya?” Tanya Fia pada Melda. Fia merupakan teman satu bagian dengan Melda di Bagian Accounting, gadis jawa dengan rambut teurai tersebut sebenarnya merupakan teman satu perumahan dengan Raka, sosok yang sampai detik ini masih membuat Melda berdegup kencang saat memikirnya.

“siapa juga yang nglamun? Lagi mikirin kerjaan nih? Sahut Melda dengan tersenyum. “kerjaan apa mantan? Hayoo””,, cela Fia. “kerjaanlah,, samaa,,” jawab Melda, “sama mantan ya ciee,,, udah dund move on” kata Fia. “susah..” jawab Melda.

Advertisement

Sosok independen dan tegas seperti Melda pun susah berpaling dari lelaki yang sejak kuliah sudah menemaninya, berbagi suka dan duka menikmati indahnya menjadi mahasiswa, tapi apa daya, cinta berkehendak lain, saat keduanya harus berpisah karena pekerjaan mengharusnya untuk Long Distance Relationship, cinta pun harus mengalah.

Tapi tidak, ini bukan lamunan bayangan mantan Melda, tapi tentang seorang lelaki yang baru ditemuinya sebulan yang lalu, Raka. Tak ada yang special dari Raka tapi sosoknya menghidupkan bayangan mantan Melda dalam dirinya, dia seperti melihat sosok Bayu, mantan yang dulu begitu dia cintai terlahir dalam fisik Raka.

“eh laporanmu udah belum?” Tanya Fia pada Melda, dengan agak kesal karena Melda masih dalam lamunan soal Raka.. “eehh iya neh, sori sori hehe” jawab Melda sambil menampilkan senyum termanisnya.. “yaudah q cek dulu , pas istirahat crita ya” kata Fia,, “siap bos” jawab Melda masih dengan senyuman, bukan karena Fia yang mulai manis dengan sikap nya tapi karena Raka yang tiba-tiba ada dalam ruang kerja Melda.

Raka adalah karyawan baru, dan kebijakan karyawan baru di perusahaan tersebut adalah melakukan kunjungan ke bagian-bagian terkait, dan kali ini Raka ke bagian finance. Raka duduk tepat dibelakang Melda. Dag dig dug, konsentrasi Melda mulai terbagi antara harus focus dengan pekerjaannya, dan memandang Raka.

“Mel, aq meeting dulu ya” ungkap Bu Eva ke melda,, mendengar kata si boss meeting, berbungalah hati Melda, karena dapat mencuri pandang ke Raka. Sesosok pria yang sempat menarik hatinya duduk sendiri membaca materi dari sang mentor finance, tak sedikitpun sempat menatap Melda yang sudah agak lama memperhatikannya.

“hey,, km disini” kata Fia pada Raka, Melda hanya terdiam melihat keduanya mengobrol lama seolah sudah saling kenal lama,

“kenalin ini Melda” Fia mencoba mengenalkan Raka dengan Melda,

“iya sudah kenal kok” jawab Raka.

“yasudah aku duluan ya mau kembali ke ruang kerjaku dulu ya’ jawab Raka seraya merapikan materi-materi di meja,

“ok, ntar jadi kan?” Tanya Fia pada Raka,,

“sip” jawab Raka sambil berlalu meninggalkan Melda yang tak sempat disapanya hanya senyuman manis yang bakal terus melekat pada hati dan pikiran Melda.

“aku nanti mau makan-makan ma Raka dan temen perumahan lainnya, ikutan yuk?” pinta Fia pada Melda,, “boleh deh” jawab Melda, sambil terus membayangkan pertemuannya dengan Raka nanti malam.

Tapi tak terduga, ban sepeda motor Melda bocor sehingga dia memutuskan untuk tidak ikut dengan acara Fia, mungkin sudah jodoh, Raka menawari untuk memboncengi Melda saat itu. “dia beda” ungkap Melda saat sudah pulang dari acara makan-makan tersebut.

Raka memang beda, dia lelaki yang baik, memperlakukan wanita selayaknya puteri “modus atau tulus ya?,, ah bingung”,, Melda masih terus memikirkan Raka sambil senyum senyum sendiri dan berharap tidurnya kali ini didatangi Raka dalam Mimpi.

”hah sudah jam 6 lebih..” sontak Melda saat melihat jam tangannya di meja, dan melihat kedua hpnya mati karena dia lupa tidak mencharger HP sebelum dia tidur “ah harus buru-buru nih,,”..”yah airnya mati lagi,, duhh sial sekali,, yaudah mandi bebek aja,, atao gag mandi aja???”,, dengan buru-buru Melda ke kamar mandi, dan tepat pukul 7, dia sudah tiba di kantornya…

Seperti biasa Melda tak pernah menyempatkan diri untuk sarapan pagi sehingga camilan yang dijual pak udin, selalu menemani pagi harinya,, “untung ada camilan ini” ungkap Melda. Hari ini adalah hari dimana semua boss lagi keluar kantor, hari dimana Melda bisa dengan leluasa membayangkan pertemuannya dengan Raka semalam,

“hei” sapaan Raka membuyarkan lamunannya, kalau kata iklan Good Day, rasanya itu kaya naik roller coaster, trus tiba-tiba pas diatas putus, akhirnya jatuh, jatuh dihadapanmu eaa,,,

“nanti malem, kita mau nonton lo, kamu ikut ya?” pinta Raka ke Melda,,

“dimana? Bole deh, sama Fia juga kan?” Tanya Melda,,

“iya dund” jawab Raka,, pertemuan demi pertemuan pun semakin intens dijalani, ejekan dari teman-teman tak urung mewarnai persahabatan mereka, sampai pada akhirnya cewek dari Raka mengunjungi tempat Raka.

Pyarrrrrr,,, seperti piring yang tak sengaja terpecah ke lantai, seperti hati Melda yang baru sadar bahwa Raka sudah punya kekasih, seakan smeua harapannya kini hangus menjadi abu yang terbang bebas tak tersisa.

“aku bingung,, disisi lain aku gag mau nyakitin cewekku, juga gag mau kasih harapan palsu ke Melda” curhatan Raka pada Fia,,”kamu jadi cowok harus tegas dund ka” desak Fia,, “tau ahh,,, biar mengalir aja kaya air” jawab Raka pasrah,, “tapi kasian Melda dund” ungkap Fia,,

Benar kata pepatah semakin kita berusaha melupakan semakin kita akan semakin ingat terhadap hal tersebut. Dan itulah yang dialami Melda, dia berusaha terus melupakan Raka tapi bayangnya selalu hadir dalam tiap lamunannya.