Aku terlahir sebagai anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku adalah seorang perempuan yang cantik, berintelejensi tinggi, sebuah paket lengkap yang mungkin banyak di gandrungi kaum adam.

Aku bangga memilikinya, bangga menjadi seorang saudara dari wanita sepertinya. Aku kagum, dan hampir di setiap detik dan selama napas ini berhembus, aku selalu berusaha meniru seperti kakakku.

Kedua orang tuaku sangat bangga memiliki kakakku sebagai anaknya. Aku bisa melihat binar puas di kedua mata orang tua kami saat kakakku berhasil memasuki salah satu Sekolah Menengah Pertama yang cukup terpandang namanya, saat itu aku masih di bangku taman kanak-kanak, meski terbilang masih sangat muda, aku terbiasa melihat dan menilai perilaku orang sekitarku. Dan hal pertama yang kutahu adalah kedua orang tuaku sangat bahagia.

Bagaimana denganku?

Jangan tanyakan definisi bahagia terhadap anak sepertiku, karena sampai sekarang pun aku tak tahu bagaimana menjadi seseorang yang bahagia.

Advertisement

Baiklah, kembali ke permasalahan awal..

Kedua orang tuaku sangat menyayangi kakakku, dan kurasa

hampir semua orang menyukainya.

Kalian pasti berpikir.. mungkinkah aku iri dengan kakakku?

Ibuku pernah berkata..

"Kau dan kakakmu sama-sama anakku.. aku tak pernah membedakan kalian berdua.."

Baiklah, pernyataan itu cukup membuatku merasa lega. Itu artinya ibuku tidaklah sama seperti ibu dari teman-temanku yang sering kali suka membandingkan antara anaknya dengan anak yang lain.

Pengertian dari ibuku itu tertanam hingga aku beranjak dewasa. Ibuku menyayangiku, terlihat paling menyayangiku karena aku adalah anak kedua yang paling kecil, ayah pun dan kakak juga begitu. Aku merasa hidupku begitu sempurna.

Kesempurnaan itu lama-kelamaan membuatku terlena. Aku tidak menjadi wanita seperti kakakku.

Aku suka bermain bersama teman yang berbeda gender denganku, itu membuatku memiliki sisi maskulin yang lebih kental ketimbang kakakku yang jelas lemah lembut. Karena terlalu sering bermain bersama lelaki, aku pun jarang memperhatikan prestasi akademisku di sekolah. Bagiku, apa gunanya kau punya kepandaian otak bila kau tak memiliki kepandaian dalam berteman?

Aku jarang menangis di depan orang. Entah kenapa lubuk hatiku sering melarangku memperlihatkan sisi lemahku sebagai seorang wanita, dan kedua orang tuaku pun berpikiran kalau aku adalah seorang wanita yang berkarakter tegas dan keras.

Seorang wanita yang dominan. Bukan seorang wanita yang asal menurut dan pada akhirnya menangis belakangan.

Kupikir.. mungkin itu yang bisa menjadi sisi kelebihanku, kelebihan seorang yang tak bisa sesempurna kakaknya.. tapi kurasa aku salah.. atau mungkin aku saja yang terlalu naif..

"Kau dan kakakmu itu berbeda.. meski kau pintar.. kakakmu jauh lebih unggul darimu.. kau bisa pintar juga berkat kakakmu.. kepintaranmu dengan kakakmu pun berbeda.."

Aku tak tahu sejak kapan pastinya, namun seiring bertambahnya usia aku pun akhirnya menyadari perbedaan sikap kedua orang tuaku antara aku dan kakakku.

Mereka tetap menyayangiku. Tapi, segala sesuatu yang kucapai, apapun yang kuraih dalam hidup, entah ibu maupun ayah selalu berkata soal kakakku.

Ego mulai menguasaiku, aku berpikir ini semua tentang diriku, keberhasilanku, hidupku, lantas mengapa harus ada satu pembahasan yang jelas bukan aku? Mengapa kakakku lagi? Lalu…

..apa artinya aku di mata kalian?

Aku tahu, kedua orang tuaku sangat menyayangiku, mereka sangat protektif terhadapku. Tapi, mengapa aku merasa ini seakan hanya semu?

Mereka menyayangiku, tapi apapun yang kukatakan, apapun yang kulakukan, mengapa semuanya tertutup oleh bayangan kakakku?

"Aku bingung ketika harus membagi.. mana yang harus kudengarkan dulu.. ceritamu atau cerita kakakku.."

Aku terdiam saat ibuku berkata demikian. Namun opsi terakhir tetaplah jatuh di kakakku, ceritaku tetaplah hanya menjadi pelengkap saja. Aku tak keberatan, aku tidak membenci ibu atau ayah pun kakakku.

'Jika aku terbiasa sendirian.. selama masih ada Tuhan.. aku tak butuh siapapun untuk bercerita.. biar.. biarkan saja aku membisu.. aku terlalu lelah hanya untuk berdebat ataupun bicara.. karena pada akhirnya aku tahu.. tak akan ada yang pernah mengerti perasaanku.. Tuhan bunuhlah rasa dengki dalam hatiku.. kalau bisa ambilah perasaan ini agar aku tak lagi merasa sedih ataupun risau.. Aku terlalu penat memikirkan siapa yang menjadi tempatku beradu.. tempatku berkeluh kesah.. jadi biarkanlah hambaMu ini rehat sejenak.. Biarkanlah air mata membawaku tidur.. biarkan aku lupa dan mengahadapi esok pagi dengan senyuman palsu.. Aku tak apa.. '

If I can live myself alone.. why should I let someone know about my life..