Anak Motor! Meski anak motor namun aku bukanlah anak motor yang mempunyai uang banyak dan berkumpul dengan club-club motor elit dengan motor-motor bagus atau mewah. Motorku butut, namun aku memodifikasinya sedemikian rupa hingga menyerupai sebuah motor berjenis Cruiser seperti merk dagang Harley Davidson yang mempunyai stang panjang nan melengkung.

Karena itu, aku sering berkumpul dengan penyuka motor-motor tua dan vespa club motor. Anak-anak di sana, sederhana. Motor Club kami seperti berkebalikan dengan motor club orang-orang berkecukupan yang mempunyai tunggangan motor-motor gede yang mahal.

Ada suatu prinsip yang aku pegang,

Dengan bebas kamu bisa mengekspresikan diri.

Dengan lepas kamu adalah makluk yang merdeka dan bahagia.

Advertisement

Dan hidup apa adanya dikelilingi oleh teman-teman yang juga apa adanya adalah suatu kejujuran dan rasa syukur bahwa kita juga merupakan ciptaan Tuhan yang tidak ada bedanya dengan makhluk lainnya yakni sama-sama bisa mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan’ .

Aku sudah enam bulan lebih berada di bengkel ini. Bersama beberapa teman, aku membangun bengkel ini. Dari prinsip hidup itulah aku memantapkan hati hidup di sini. Di sinilah aku lebih banyak meluangkan waktuku untuk menservis, memodif dan mempelajari seluk beluk dunia otomotif, terlebih motor-motor tua.

Meski hidup pas-pasan tetapi hari-hariku selalu terisi dengan cinta, tawa dan rasa saling mengerti karena prinsip hidupku telah aku jalani bersama teman-teman yang aku ingini.

Jika aku bisa melukiskan diriku saat ini, aku seperti burung muda yang hanya mempunyai sarang lalu terbang untuk mencari pengisi perutnya, setelah kenyang pulang dengan mengepakkan sayang di cakrawala penuh kebebasan sembari menyanyikan lagu-lagu merdu di sepanjang perjalanan.

Aku sudah tidak memperdulikan masa depanku. Aku hanya ingin menjadi manusia yang bersyukur bahagia dan mati. Aku tidak pernah bermimpi menjadi orang kaya. Yang terpenting adalah hatiku tenang, damai dan bahagia.

Menurutku, orang yang paling kaya adalah orang yang terbebas dari siksaan dan jeratan pikiran mereka sendiri.

Aku kasihan, jika melihat ada seseorang berpakaian rapi mempunyai gaji melebihiku namun ia mengeluh tentang uang. Seperti dunia ini adalah penjara baginya, orang-orang terdekat adalah teror untuknya.

Aku belajar dari itu semua. Kedamaian dan kebebasan adalah kunci kebahagaiaan.

Suatu ketika aku touring bersama teman-teman motor club. Hari itu seperti suatu pembebasan, kedamaian dan kebahagian yang luar biasa untukku, yang hari-hari biasanya sibuk dengan urusan bengkel.

Aku senang bukan main saat melintasi beberapa kota dengan keceriaan, saat melintasi banyak pepohonan hijau ditambah dengan segarnya udara. Meski aku sempat terjatuh dan mukaku tergores karena jalanan yang licin karena sempat hujan. Akan tetapi, itu sungguh tidak menghalangi rasa bahagia dalam hatiku saat ini.

Saat kami balik pulang dari tour, aku teringat akan rumah. Dalam hati, aku bertanya, “bagaimana keadaan mereka disana?” Mereka itu adalah ayah, ibu dan adik-adikku. Meskipun aku pernah mengalami momen buruk di rumah, tetapi karena itu pula aku bangkit.

Aku pergi dari rumah, memutuskan untuk tidak menjadi benalu lagi dan mencari jalan hidupku sendiri. Orang tua juga mendukung-dukung saja.

Aku tahu benar, dulu sewaktu aku sudah kerja di bengkel, tentu ada pengharapan-pengharapan sendiri dari orang tuaku bahwa kelak dengan hasil keringatku akan bisa membantu menyekolahkan adik-adikku.

Namun melihat dari penghasilanku yang pas-pasan, sepertinya itu akan selalu menjadi beban jika terus aku ingat-ingat. Lantas aku melupakannya dan memprioritaskan diriku untuk bersyukur saja dengan apa yang ada sekarang.

Tapi, hari ini, aku kangen dengan mereka, aku ingin sekali berjumpa dengan mereka meskipun aku juga tahu aku tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan kepada mereka.

Malamnya, aku sampai di rumah. Hatiku sedih, ketika menjumpai adikku sedang sakit. Mukanya dipenuhi bentol-bentol merah. Mukanya resah melihatku.

“Kakak kemana aja?” tanyanya.

Aku tahu benar pertanyaannya itu dari hati yang terdalam. Bagaimana tidak, dulu sewaktu aku masih di rumah tiada lain, tiada bukan yang menemaninya, selalu bermain dan melakukan banyak aktivitas adalah aku.

Aku dimatanya seperti kakak yang hilang dan tidak perduli lagi dengannya.

Tetapi ibu segera menjawab, “Kakak lagi sibuk saat-saat ini, lagi banyak kerjaan.”

Aku tahu, dalam ucapan dan pembelaan ibu terhadapku, ada suatu pengharapan besar terhadap anak sulungnya ini.

“Iya, Dek. Kakak lagi banyak kerjaan. Maafin kakak ya kalau hari-hari ini kakak agak jarang pulang ke rumah. Tapi kakak kan di sini sekarang buat nemenin, Adek.”

Muka resah dari adikku sedikit menghilang, sedangkan senyum ibu adalah senyum lega yang mendengarkan ucapanku bahwa aku memang sedang banyak kerjaan.

“Sudah berapa lama Agus sakit, Bu?” tanyaku ke ibu.

“Sudah Lima hari ini. Tetapi bengkak merah di wajahnya semakin banyak. Ini juga Ila baru sembuh.”

Ila atau Nila, adik pertamaku yang sudah memasuki masa remaja dan sedang duduk di kelas dua SMA hanya bisu memperhatikan kedatanganku. Ia tumbuh menjadi perempuan yang pemalu.

“Tetapi sekarang kamu udah sembuh kan, La?” tanyaku ke Nila sekedar basa-basi.

“Sudah, kak.” jawabnya singkat dan padat, ia benar-benar perempuan yang pemalu dan dulu aku memang jarang mengobrol panjang dengannya.

Aku kembali memandang si bungsu. Aku sangat miris melihat keadaanya dengan benjolan merah yang agak besar untuk sebuah benjolan di muka. “Agus udah dibawa ke dokter, Bu?”

“Ke dokter belum, tetapi empat hari yang lalu udah berobat ke Datuk Rejo.” Datuk Rejo adalah orang yang sering mengobati penyakit dengan cara tradisional dan dibayar seikhlasnya. Jawaban ibu adalah jawaban halus yang menjelaskan bahwa ia tidak mempunyai uang sekarang.

Aku tidak bisa menyambung lagi pertanyaanku karena aku tahu sendiri, aku tidak mempunyai uang. Dengan bertanya lebih, aku akan masuk ke dalam lubang yang aku gali sendiri, sementara aku tidak mempunyai tangga untuk kembali naik.

“Cepat sembuh, ya!” sapaku kepada si bungsu Agus. “Biar kita bisa main lagi.”

“Iya,” jawabnya. Suaranya masih tetap keluar meskipun aku tahu, ia juga menahan sakit ketika mengucapkannya.

Ibu tidak menanyakan tentang goresan luka lecet di wajahku, paling tidak sampai besok ketika keadaan sudah agak santai. Tetapi ibu dan aku menyadari selalu ada kesamaan antara aku dan si bungsu. Seperti saat ini, kami sama-sama mempunyai masalah di wajah.

Aku menemani Agus dengan ikut berbaring disampingnya. Si bungsu hanya menatap wajahku namun ia tidak bertanya tentang luka gores di wajahku, mungkin menahan sakit membuatnya menjadi pemdiam sekarang. Ia menyampaikan pesan sayangnya kepadaku dengan tatapan rindu dan rintihan batin.

“Makan dulu, Nak!” ujar ibu yang sudah menyiapkan makanan ala kadarnya di tempatku sekarang. Ruang tempatku sekarang adalah ruang keluarga, ruang tamu, ruang santai, ruang makan dan ruang apapun itu sesuai fungsinya.

Terkadang berada di tempat jauh membuat keluarga merindukanmu dan ketika kamu pulang, dia akan menyambutmu dengan penuh kasih sayang.

Aku makan diantara jeritan hati. Mengapa aku begitu bodoh. Aku menahan bila mana air mataku mendesak keluar.

Ibu makan sedikit sekali, ayah juga demikian, begitu pula dengan adikku, Nila. Aku juga melihat di bakul bahwa nasi tinggal sedikit. Tidak ada yang berani menghabiskan nasi itu, mungkin mereka mengantisipasi jika aku mau menambah.

“Ibu masak tidak banyak. Ibu tidak tahu kalau kamu pulang hari ini.”

“Gak pa-pa, Bu. Sebenarnya aku tadi sore juga aku sudah makan. Aku sekalian ke sini karena barusan pergi ke rumah teman kerjaku, kebetulan searah dengan rumah.”

“Gimana pekerjaanmu? Lancar?”

“Lancar, Bu. Do’akan saja agar semakin ramai.”

“Pastinya, Nak, ibu selalu mendoakanmu. Mendoakan semua anak-anak ibu.”

Sebelum tidur, Ayah berbincang denganku. Ia mencari topik yang menyenangkan dan berkaitan dengan pekerjaanku. Aku tahu semenjak sebelum aku pergi, dagangan di pasar sepi. Itulah yang membuat ayah sering resah dulu, beban sebagai kepala rumah tangga memang berat dan aku sepertinya belum menyadari sepenuhnya tentang itu.

Malam ini, di pembaringan aku memikirkan betapa egoisnya diriku. Aku selalu memikirkan tentang kedamaian dan kebahagianku, padahal jauh di sana, masih ada keluarga yang mengharapkanku.

Aku lebih sering mementingkan teman-teman, menggunakan seluruh uangku jika ada salah seorang teman kesulitan makan atau butuh bantuan. Tetapi apa yang aku pikirkan dan pedulikan tentang keluarga? Jawabannya Nihil, mereka hilang dalam pikiranku.

Menghindari tuntutan tanggung jawab dan beban keluarga demi kebahagiaan bukan berarti kamu harus tidak memikirkannya sama sekali.

Apakah aku bahagia sekarang? Aku sungguh miris melihat diriku sendiri, mengira semua urusan dalam keluargaku akan baik-baik saja, namun nyatanya mereka membutuhkan dan mengharapkanku.

Bagaimana pun juga aku sudah sebesar ini karena keluarga. Ibu memelihara dan membesarkanku dengan ikhlas, ayah membanting tulang bekerja untuk memberi uang saku kepadaku dan adik-adik sebagai penghias rasa cinta dan cerminan kasih sayang tulus.

Betapa banyak salahku, betapa salah pola pikirku. Terkadang merasa aman membuatmu lalai dalam segala hal. Namun keadaan tak aman tidak sepenuhnya buruk, hal itulah yang menyadarkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan butuh pertolongan.

Mulai malam ini, aku bertekad akan menyisihkan uangku meskipun sedikit untuk keluarga. Merekalah kebahagianku.

***

Paginya, aku langsung berniat balik ke bengkel. Aku jadi bersemangat mencari uang untuk kesehatan si bungsu serta apapun yang akan menimpa keluargaku kelak. Paling tidak aku sudah menyiapkannya.

Aku berpamitan kepada ibu dan ayah. Dan berbincang sejenak dengan ibu. Sejak dulu, aku memang lebih akrab dengan ibu. Aku mempunyai uang dua ratus lima puluh ribu di dompet. Aku ambil sertus lima puluh dan aku serahkan kepada ibu. “Ini seratus lima puluh, Bu. Kemarin aku memang tidak bawa uang. Tapi nanti akan aku kirimkan ke ibu lagi.”

Ia mengkhawatirkanku dan hendak bicara namun aku segera berpamitan dan memeluknya. Aku juga berpamitan dengan kedua adikku dan memberinya uang saku lima puluh ribu agar Nila membaginya dengan Agus.

Aku pulang dengan uang lima puluh ribu untuk bensin dan uang makan. Meskipun masih ada kesedihan melingkupiku namun di sisi lain, semangat kerjaku terpacu.

Semoga tidak terjadi apa-apa di jalan karena aku membawa uang sangat minim.

Keluarga… Kalian adalah tawaku.