Maaf! Diriku telah memutuskan berhenti menali kisah antara kita. menghapus segala apa yang pernah tersusun. membungkus kenangan dengan senyum tipis tanda perdamaian. Perihal janji akan masa depan yang kau utarakan, simpan saja untuknya yang mungkin kau temukan lain waktu.

Kini saatnya harus memulai semua dengan yang baru, menghapus seluruh yang ada dalam diriku untuk tak lagi mengenangmu. Bekal yang telah ku siapkan untuk dapat kembali berjalan tanpamu, kini telah terkumpul! Aku siap kembali menghadapi duniaku, menatap dinding-dinding langit biru, merasakan kembali percikan – percikan sejuk air hujan, menari-nari bersama burung serta mengikuti lambaian angin yang terus berirama.

Biarkan sejenak raga ini rehat menikmati kesendiriannya, menghabiskan waktu untuk ketenangan, mengubur kisah yang telah ia saksikan bersama derasnya air mata yang tak segan membasahi pipinya. Biarkan raga menyadari jikalau tak semua yang berjanji akan "masa depan” tak mampu melukai.

Terima kasih dariku atas terciptanya rasa untukku, namun rasa yang tak memberikan keindahan. Terima kasih dariku untukmu lelaki yang dulu sangat dekat denganku sebagai sahabatku. Namun menjadi lelaki sama yang menyimpan rasa lain untukku. bagiku kau bukanlah lelaki biasa.

Kebersamaan yang tak mampu lagi terhitung oleh menit dan detik, pengalaman yang tak luput kita dapatkan. Ukiran kenangan yang terlalu banyak kita lalui menjadi alasan. aku sangat mengenalmu. Karena itu aku ingin mencoba menjalani sesuatu yang berbeda bernama cinta bersamamu. Mungkin terbesit keyakinan jika kau tak akan menyakiti. Tapi nyatanyaa… aahhh sama saja.

Advertisement

Tak ada pandangan pertama maupun pertemuan untuk jatuh cinta. hanya karena sudah terbiasa saling berbagi dan habiskan waktu bersama. Mungkin itu sejarahnya ! itu kenangan yang menyejukkan. kEtika kata-kata yang kau ucap begitu sempurna, senyum indah berbalut rindu menjadi perombak hati yang mulai membeku. Hati bersua, "Apa itu kamu?"

Tatapan mata kosong dalam keheningan seakan menjawab keberadaanmu ada, memohon kesempatan untuk menjadi bagian dari hidupku. Untuk apa? bukankah persahabatan lebih dari sekedar sesuatu yang spesial dalam hidup? Kau ngotot dengan pendapatmu seakan tak pernah runtuh untuk mendapatkanku. Itu kenangan manis (lagi) yang tak sengaja melintas! Harus aku pastikan untuk berbaik sangka dan mencoba membuka pintu yang sudah terlalu lama membeku ini.

Namun kau yang dekat menjadi kumpulan urusan yang semakin sulit untuk diurai. Jarak satu kota seharusnya membahagiakan berbalik menjadi gumpalan mendung yang siap menjatuhkan hujan setiap saat. Hubungan ini tak semanis yang di bayangkan… Ombak itu datang menghampiri, hembusan angin sejuk berubah menjadi sayup-sayup kicauan yang menyakitkan. Senyum-senyum manis yang berbalut kata indah tak lagi tersua, tatapan mata kekaguman berubah menjadi tatapan kosong tanpa makna. Ini bukan tentang kau dan aku, namun tentang orang disekelilingmu.

Sesekali aku selipkan namamu dalam pintah dihadapan rabbku, bersama bait-bait syair do’a yang menghiasi. Dengan harapan kau tak masuk list kesekian manusia yang hanya menawarkan masa depan. Namun Rabbku menjawab dengan keadaan yang berbeda, kau dan diriku bukan mendapat takdir yang disatukan dalam sunnahnya. Takdir yang diperkenankan hanya untuk menjadi anak manusia yang saling menyayangi dalam ikatan yang berbeda, ikatan yang tak akan memutuskan keberadaan kita.

Jeda yang kau ciptakan sangatlah tipis antara menjadi sahabat dan menjadi seseorang yang kau janjikan masa depan, berhasil merombak kembali rasa yang terombang-ambing mencari dermaganya. Meski rindu menghampiri dengan caranya, keikhlasan yang harus di tanam dalam pangkuan menyadarkan jika takdir tuhan sedang berjalan. Kini saatnya berdamai dengan keadaan, meski ada yang berbeda, meski ada yang aneh dalam hidupku dan meski harus kembali terbungkam dengan rasa sepi.