Aku sering merasa gemas pada takdir. Karena dia selalu memberiku kejutan. Kadang dia membawaku pada kebahagiaan, kadang pada keceriaan, atau bisa juga pada kesedihan, pada kekecewaan, tak terkecuali juga pada pertemuan dan perpisahan. Mereka bilang ‘tak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua yang terjadi karena satu alasan.’ Apa itu berlaku untuk pertemuanku denganmu?

Berjumpa denganmu merupakan ketidaksengajaan yang mengacaukan hatiku. Sekilas aku menemui sosok masa lalu pada dirimu. Berawal dari rasa penasaran yang terus membawaku pada ketertarikan. Pembawaanmu yang dingin dan tenang diam-diam memikat hatiku. Menghidupkan lagi saraf-saraf di hati yang lama tak berfungsi. Menghadirkan kembali rasa yang telah lama pergi. Menatapmu tersenyum, memperhatikanmu berjalan tegap, bahkan mendengarmu bersuara pun adalah hal-hal sederhana yang berhasil membuat hati ini jatuh.

Rasa penasaranku semakin hari semakin menjadi. Berbagai cara kupikirkan untuk bisa mengenalmu, tanpa perlu kau tahu bahwa aku telah jatuh hati padamu. Sayangnya semua tak berjalan semulus itu. Dalam hitungan hari kekagumanku padamu telah menjadi rahasia umum. Dari mulut ke mulut, rahasiaku terbawa angin hingga sampai di telingamu. Betapa malu yang kurasa saat itu. Tapi aku sadar aku bukan anak abege lagi yang harus mengalah dengan rasa malu. Lagipula tak ada salahnya aku menyukaimu bukan? Itu hal yang wajar yang pasti pernah dirasakan semua manusia di muka bumi ini.

Hei apa kau tak sadar aku sering menebar pesona hanya sekedar untuk menarik perhatianmu? Aku juga sering menanyakanmu pada teman-temanmu dengan harapan aku bisa mendekatimu. Aku selalu menunggu kesempatan untuk bisa berbincang denganmu meski hanya sesaat. Tapi mengingat responmu yang terkesan biasa saja aku tak berharap banyak. ‘Ku tak harus memilikimu tapi bolehkah ku selalu di dekatmu’ sepenggal lirik lagu milik Raisa cukup menggambarkan suasana hatiku saat ini. Karena aku tak mau jatuh kecewa lagi maka sengaja tak kutaruh anganku di atas langit.

Dan pada akhirnya waktu mengungkap kenyataannya. Waktu juga yang memberitahuku untuk menghentikan semuanya. Dengan terpaksa aku harus menghentikan rasa penasaranku saat aku mendapat jawabannya. Kamu yang hampir membuatku jatuh cinta ternyata telah memiliki kekasih. Tak lain adalah wanita yang sering kujadikan narasumber tentangmu. Kudengar kalian belum lama menjalin hubungan. Oh andai saja kita bertemu lebih awal. Takdir memang selalu penuh kejutan. Kutarik napas dalam untuk menjernihkan otakku dan meredam ke-egoisanku. Aku juga wanita yang paham dengan perasaan wanitamu. Maka kuputuskan untuk mundur teratur.

Advertisement

Merelakan harapku terlepas, membiarkan anganku melayang. Hanya saja secuil rasa masih tertinggal disana.

Semuanya berlalu dengan kecewa kecil di hati. Aku tak peduli lagi dengan mereka yang masih saja membicarakan tentangku, kamu, dan dia. Kali ini kesempatanku untuk berbincang denganmu datang. Aku tak berani menatap matamu lebih dari dua detik. Aku takut rasa itu masih tersirat dimataku. Kuatur kalimat yang keluar dari bibirku. Dengan susah payah kusembunyikan rasa canggung yang menyergapku. Hatiku bergetar lirih.

Kau tahu bagaimana rasanya menyembunyikan perasaanmu saat sedang berhadapan dengan orang yang kau suka, sementara kau tahu kenyataannya tak mungkin kalian bisa bersama. Yah, takdir selalu menghadiahi kejutan.