Luka menyayat tak berdaya. Air dalam pelupuk jatuh berpeluh. Sendu menyeruak dalam-dalam, sendiri terselimut oleh kabar angin yang tadi sore datang. Tak pernah disangka, membayangkanpun tak pernah berada dalam keadaan seperti ini. Bahwa aku terluka sedalam-dalamnya.

Hati perempuan mana yang tak terluka jika kasihnya terbagi? Jika ketulusan dibalas dengan kebohongan yang dimunafikkan?

Ada lembaran lain dimana cerita lain yang kau ukir bersama perempuan lain selain cerita antara aku, kau. Aku sudah meyakini bahwa hati perempuan feelingnya kuat, dan tak jarang itu adalah benar. Dan aku sedang tersayat oleh luka itu, saat ini.

Berapa lama kau munafikkan ini semua?

Aku tak akan menahanmu atau bahkan melepasmu. Biarkan engkau yang memilih jalanmu sendiri, apakah engkau akan di sisi atau kau akan pergi. Hatimu yang akan menggerakan langkahmu. Dengan yakin antara hati dan logika yang seimbang, aku akan menerima apapun itu, tak apa.

Advertisement

Dan jika memang engkau terlalu takut untuk memilih, lebih baik kau tak denganku. Karena dengan perasaan yang tidak yakin, aku tak akan melanjutkan apapun, cerita aku, kau. Dan aku belum siap untuk kembali terlukai.

Lalu bagaimana cerita aku, kau? Akankah aku, kau sudah menemukan untuk men-titik-kan cerita aku, kau?

Aku tak apa, jika pada akhirnya cerita aku, kau akan terhapuskan dan akau akan kembali mengukir cerita di lembaran bersama perempuan yangbarangkali lebih membutuhkanmu, sayang.

Aku rela, melepaskan.