2 tahun sudah kita bersama menjalin hubungan percintaan. Terima kasih kepadamu yang mau membagi kisah hidup bersamaku. Maafkan aku harus memilih jalan untuk sendiri. Kamu adalah ketidak mungkinan yang terlalu aku paksakan. Sulit memang harus mengakhiri ini tetapi aku merasa lebih sulit lagi jika harus terus bertahan dengan orang yang tak tertakdirkan.

Sebelumnya kita memang bertekad untuk melawan dunia bersama, kita terlalu mendahulukan keinginan kita ego kita tanpa kita melihat orang terdekat kita membuat dinding pembatas yang sangat tebal untuk memisahkan kita. Dinding itu terlalu kuat untuk kita terjang. Dulu ketika aku menyadari tidak ada restu dari semua orang tua kita untuk hubungan kita, aku hanya menghiraukannya. Aku selalu bertekad untuk bertahan bersamamu, ya aku memang menentang orang tuaku untuk dapat bertahan denganmu. Kamupun melakukan hal yang sama, menentang orang tuamu untuk dapat bertahan denganku. Kita tidak pernah menyadari bahwa ridha Allah adalah ridha orang tua. Doa orang tua untuk anaknya selalu dikabulkan oleh Allah. Dulu aku selalu berpikir seiring berjalannya waktu aku dan kamu bisa mengubah keadaan, kita bisa mengajak mereka untuk merobohkan dinding pembatas itu. Tetapi semakin lama kita bersama semakin terlihat bahwa kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Kita memang masih muda, untuk hubungan pacaran tidak perlu terlalu dipikirkan, tidak terlalu dipusingkan masalah restu. Tapi coba pikirkan kembali, sudah terlalu lama kita mengecewakan orang tua kita, sudah terlalu lama kita menuruti ego kita tanpa kita sadari orang tua kita berharap kita mendapatkan orang yang memang cocok dengan kita. Mereka tidak ingin anaknya gagal membina rumah tangga, mereka tidak ingin anaknya sakit hati karena percintaan. Mungkin terlalu dini untuk membicarakan pernikahan tetapi apakah kita akan terus bersikap seperti anak ABG yang hanya memikirkan kesenangan?

Saat ini sudah waktunya kita mencari pasangan yang cocok untuk menjadi teman hidup kita kelak, bukan hanya pasangan yang diajak berpacaran kemudian jelang beberapa bulan bahkan beberapa minggu putus dan tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan pengganti. Kita sudah tumbuh menjadi pribadi yang dewasa.

Maafkan aku yang memilih mengakhiri semuanya. Memang semua berat, bukan hanya untukmu tetapi juga untukku. Tapi coba renungkan kembali akhir-akhir ini kisah kita jauh berbeda dengan yang dulu. Dulu kisah ini sangatlah indah tetapi semakin lama bertahan pertengkaran semakin sering terjadi, cacian makian sering kita lontarkan. Tidak ada diantara kita yang mau mengalah dan dinding pembatas itu semakin lama semakin mengganggu pikiranku. Kita bersama tidak hanya tentang aku dan kamu tetapi kita harus menyatukan 2 keluarga yang keduanya sama-sama membangun pembatas untuk kita. Apalagi yang harus aku lakukan selain aku belajar menuruti orang tuaku?

Terlalu sering aku tidak mendengarkan mereka, terlalu sering aku membuatnya kecewa. Aku hanya ingin berusaha membahagiakan mereka berusaha menjadi yang mereka mau. Aku tidak ingin umurku aku sia-siakan untuk menyakiti perasaan orang tuaku. Maafkan aku yang harus melepaskanmu demi mereka. Mungkin ini memang jalan yang terbaik untuk kita. Terima kasih atas cinta yang kamu berikan padaku. Semoga kita diberikan jalan yang terbaik tanpa ada permusuhan. Aku yakin kalau memang kita berjodoh suatu saat kamu akan kembali. Kita akan bersama tanpa ada sedikitpun dinding pembatas. Jadilah laki-laki yang kuat menjalani kerasnya hidup. Jangan pernah menyerah pada keadaan. Dekatkan dirimu pada Tuhan, jangan penuhi pikiranmu dengan emosi. Semoga kamu mengerti aku memilih jalan ini untuk kebaikan kita bersama.