Malam semakin larut, aku yang masih berstatus single tak pernah merasa takut, ihkwal siapa yang akan menjemput. Saat lampu-lampu kota belum padam, kusibak tirai jendela kamar, kuintip sedikit cahaya bulan dari celah temaram. Indah begitu terang kala netra memandang. Kubisikan harapan pada langit saat sayup-sayup tahajud menyapu separuh lelap. Dalam hening kuberdoa untukmu yang entah siapa.

Kupahat rahasia-rahasia kecil dalam doa, hidup sebagai degup menjelma debar yang tak pernah engkau dengar.

Apa kabar kau yang bergelar tulang rusuk? apakah serupa tentang suara-suara yang tak padam dalam dada? Aku tak bosan mengejamu dalam doa. Entah sudah berapa musim, berapa puluh purnama kupinta kau dalam lirih penantian. Setiap pagi, siang dan saat-saat senja menuju petang aku berteman keping-keping keyakinan. Meski kadang meragu dalam tunggu aku selalu berdiri kokoh menyelamatkan keresahan dalam dada.

Kelak angin akan berbisik halus di telingamu.

Mengatakan bahwa kau

satu-satunya nama yang terbentang luas

di antara sujud dan doaku.

Usia 20 tahunan bukan lagi masa-masa saling mencocokan diri, berlomba-lomba mengumbar status di berbagai media sosial, aku tak butuh hal demikian. Sudah sepatutnya kita yang menyandang usia matang, berjalan lurus melangkah maju menata masa depan, mempersiapkan bekal-bekal demi kesejahteraan kelak. Ya sebuah istana sederhana yang akan kita bina dengan seseorang yang pantas menurutNya.

Advertisement

Walau terkadang aku jatuh dalam jenuh, merasa cemburu saat melihat jauh ke sekitar. Aku mencoba memelihara rasa tegar. bagaimana tidak, teman-teman seusiaku lebih dahulu terhunus bahagia. Namun tak pernah kulupa, setiap insan selalu berada di bawah kuasaNya kapan pun itu aku tetap menunggumu wahai tulang rusuk.

Dan kuharap, siapa pun kau tetaplah teguh dalam memantaskan diri menuju pendewasaan yang hakiki. Mengupayakan diri menjadi lebih baik terlebih di jalan-Nya sebab aku pun demikian. Aku yang jauh dari kata sempurna selalu berusaha menabur benih-benih ikhlas dalam jiwa. Agar ketika semesta sudah merestui, aku tak akan mudah mengurai kalimat yang tak seharusnya terujar. Akan lebih indah bila kita saling tulus menerima kekurangan satu sama lain dengan hati lapang.