Mentari terbenam, ia selalu menasihatiku bahwa hidup ini akan berakhir. Setiap melihatnya, setiap itu juga aku mengingat kematian yang entah masih jauh atau sudah dekat. Kematianku tidak lah penting untuk dipikirkan, yang terpenting adalah menyadari sepenuhnya bahwa saat ini aku masih hidup.

Iya, hanya waktu senja, waktu yang begitu tepat untuk merenung. Aku paling suka mengamati terbenamnya mentari di belakang rumahku. Di kala pantai sudah sepi, sendirian aku termenung mengamati bekas langkah kaki di pasir putih yang perlahan terhapus oleh arus ombak, dan akan berakhir ketika langit mulai membiru, seketika itu pula gelap tempatku.

Bekas langah kaki itu selalu menyeretku ke sebuah memori saat bersama sahabat-sahabatku. Senyum, canda, dan tawa mereka masih terlihat dan terdengar begitu jelas. Aku pun masih mampu merasakan mereka bercanda di atas pasir putih ini. Wajah-wajah mereka yang ceria selalu mengingatkan aku, bahwa aku pernah bahagia bersama mereka di tempat ini. Rasanya baru senja kemarin ini kami masih bersama, tapi waktu tak pernah memberi toleransi kepadaku. Faktanya mereka sudah lama pergi meninggalkanku di tanah air tercinta. Apa kabar mereka saat ini?

Tanpa aku sadari air mataku menetes begitu melihat langkah kaki itu mulai terhapus oleh arus ombak. Seakan mereka megejekku. Sementara aku tidak pernah berpikir persahabatan ini akan terhapus oleh jarak dan waktu. Apa aku bodoh bila merindukan mereka? Mereka sudah pasti sibuk dengan studinya. Bahkan mungkin ingatan mereka tentang tempat ini benar-benar telah terhapus oleh gemerlapnya dunia. Hatiku selalu tercabik-cabik oleh tempat ini. Bagaimana mungkin aku akan lupa, semenatara aku melihatnya setiap hari?

"Wahai sahabat-sahabatku, kunjungilah aku di tempat ini walau hanya sekali ketika kalian pulang ke tanah air! Tidak tahu kah kalian aku di tempat ini tak bisa lepas dari ingatan tentang kalian?"

Advertisement

Ketika langit mulai gelap, aku pun bangkit dari dudukku untuk melangkah pulang. Sepenuhnya aku menyadari bahwa hidup ini selalu berlanjut. Setidaknya dulu aku telah menjadi sahabat terbaik buat mereka. Entah mereka mengingat hal itu atau tidak, aku yakin banget mereka tidak lupa dengan persahabatan kami. Aku akan selalu menunggu mereka kembali dengan kabar kesuksesan mereka.

Aku hanyalah wanita yang kurang beruntung, sehingga tidak bisa melanjutkan belajar ke luar negeri. Tapi aku adalah wanita yang sangat bahagia hidup di Indonesia bersama anak dan suamiku. Begitulah hidup, begitulah caraku bersyukur dengan yang aku miliki saat ini. Untuk apa aku memikirkan kematianku yang masih menjadi misteri, untuk apa aku memikiran sahabatku yang belum tentu akan kembali?

Semata-mata hanya untuk mensyukuri sesuatu yang masih ada digenggamanku. Ya suamiku, ya anakku, ya hidupku. Semua itu akan pergi pada waktunya, seperti senja dan para sahabatku. Sehingga aku harus menjadi yang terbaik untuk mereka, mereka yang ada untukku saat ini.