Sore ini aku ingin bercengkerama bersamamu. Menikmati setiap luka dan perih di dada bersama indahnya senja. Bila kopimu tak manis, barangkali kau bisa menambahkan kenangan kita di antaranya. Semoga kau bisa tersenyum lalu menangis.

Aku hanya ingin sedikit bercerita tentang mu. Tentang pertemuan kita yang tak pernah ku duga. Tentang perjuangan ku yang sia-sia. Dan tentang dirimu yang kini lebih memilih bersama dengan seseorang yang ku panggil sahabatku. Aku paham, aku tak bisa berlari sekencang dia untuk selalu mengejar mu. Aku tak bisa menggapai bahagiamu lebih cepat. Aku tak bisa memberikan seuntai senyum yang selalu ingin ku lihat. Ya… senyum bahagiamu.

Saat itu kau berkata kau akan selalu menemani jatuhku dan tetap di sini berbagi pilu. Namun sepertinya itu hanyalah bualanmu yang lantas pergi tanpa merasa sedikitpun bersalah. Lucu sekali. Aku ingin tertawa lalu menangis menertawakan diriku. Begitu bodoh? Tidak.. Aku hanya terlalu berharap pada harapan kosong yang selalu kau kicaukan. Aku terlalu berlebih untuk bergantung pada seseorang yang hanya menganggapku loncatan untuk dirinya meloncat lebih tinggi dan meninggalkanku sendirian. Aku terlalu menganggap semuanya benar yang jelas saja salah.

Dikemudian hari kau pergi tanpa bersalah. Menggapai karibku dengan tak berdosa. Dia dengan senang hati menyambut mu bahagia tak bernalar. Tak pernah terpikir olehnya bahwa sejak lama kau lah yang selalu ku ceritakan kepadanya. Aku harus lebih berbesar hati merelakan semua mimpi yang telah lama ku bangun lalu hancur seketika olehmu. Dan bercermin bahwa mungkin kau bukan lah yang terbaik yang akan kumiliki dikemudian hari.

Lalu kini aku harus bersandiwara bahagia bersama sahabat ku. Berbagi senyum dan menangis bersama. Memberikannya senyum terbaik dan mendengarkan keluhnya atas dirimu. Lalu aku ini apa menurut mu? Ah.. Aku mulai bosan mengeluhkan tentang semua luka yang sengaja kau tinggalkan bersamaku.

Advertisement

Kukira aku adalah rumah tempat mu kembali dan berkeluh tentang lelahmu. Namun ternyata aku hanyalah dermaga atas persinggahan semua petualangan mu. Selamat berbahagia bersama karibku yang tumbuh dewasa bersamaku. Ingat lah bahwa aku tak ingin dirinya terluka bagai aku terdahulu.