Malam tadi saya duduk di stasiun Kiara Condong, Bandung, stasiun yang selalu bersiap mengantarkan saya dengan rindu di ratusan kilometer jaraknya. Ketika saya sibuk dengan kamera analog dan memotret hiruk pikuk manusia yang menunggu kereta, tiba-tiba saja ada yang menyapa:

“Naik kereta jam berapa, mas?”, tanya seorang ibu berjilbab dengan perawakan umur 50 tahun.

Pertanyaan pembuka, untuk pertanyaan-pertanyaan lainnya sehingga bermuara pada cerita hidup kami.

Beliau singgah di Bandung hanya untuk menuntaskan janji kepada anaknya yang sedang berkuliah semester 5 di Institut Teknologi Bandung, yaitu mengantarkannyaberangkat ke kampus. Setelahnya ia pulang sendiri ke kota asalnya, Kutoarjo, menaiki kereta ekonomi dengan harga tiket yang tidak lebih mahal dari pulsa yang kita habiskan setiap bulan.

Ibu ini memiliki kekhawatiran yang sama dengan ibu saya, atau bahkan ibu-ibu yang lain. Kekhawatiran tentang pilihan masa depan anaknya yang berbeda dari apa yang ia bayangkan, tentang biaya kuliah anaknya yang tinggi dan kelak suaminya akan pensiun, dan tentang harapan akan kesehatan dirinya agar mampu menjaga anaknya selama yang ia bisa.

Advertisement

Saya mendapatkan sebuah makna, di balik kemudahan hidup seorang anak, ada ibu dan bapak yang hidup dalam kekhawatiran-kekhawatiran.

Pertanyaan ibu ini mengantarkan pada makna-makna menarik tentang kehidupan. Seandainya saya tak menunggu kereta, tak memperhatikan sekitar, dan hanya sibuk dengan diri saya sendiri, mungkin saya tak akan tau bahwa ada cerita menarik yang menunggu untuk didengarkan.

Ada manusia-manusia yang tidak kita sadari — atau lebih tepatnya tidak berusaha disadari hidup di rutinitas kita. Namun seringkali, kita merasa bagaikan pemeran utama dan mereka hanya singgah sebagai pemeran figuran saja. Berlalu sebagai visual penghias yang kasat mata, namun tanpa cerita.

Seorang ibu muda yang masih belajar menjadi dewasa, yang setiap pagi berangkat ke kantor di pukul enam, lalu sampai rumah di pukul enam. Menemani anak yang rewel sampai pukul dua belas, atau terkadang tiga.

Seorang ayah yang dengan tabah menukar peluh tanpa keluh untuk menjadi mimpi-mimpi anak kesayangannya, yang selalu ia doakan di sepertiga malam untuk kelak dapat hidup lebih leluasa dan bahagia.

Seorang nenek yang hidup di desa dan merindukan datangnya libur tahunan agar dapat melihat wajah anak dan cucunya, yang mulai ia lupakan karena kesenjangan usia. Saat itu tiba ia akan menjadi orang paling bahagia di dunia.

Mereka ada di setiap inci dari kehidupan kita, membawa ceritanya masing-masing, namun seringkali terdengar begitu asing. Kita terlalu sering berbicara, tapi lupa mendengarkan. Terlalu sibuk mencari, tapi lupa menghargai. Terlalu sibuk menuliskan cerita milik kita sendiri, hingga acuh pada cerita milik orang lain.

Mata manusia mampu menangkap visual, namun untuk mengenalinya, mata saja tidak cukup. Kita perlu membuka diri untuk meletakkan ego kita di sisi paling bawah. Melihat lebih dalam melampaui apa yang kasat saja. Memulai satu atau dua sapaan untuk mengantarkan pada ratusan cerita, dan mengenali semesta mereka.

Alam raya ini menyediakan buku yang selalu dapat kita baca dan pelajari. Bukan untuk membuat kita mengadahkan kepala, tapi untuk menjalani hidup dengan bijaksana dan apa adanya. Buku tersebut bernama manusia, namun sudikah kamu meluangkan waktu tuk membacanya?

Sekadar untuk melihat apa yang tidak benar-benar ditangkap mata manusia, yaitu makna dan cerita.

Ini saatnya kita mulai mendengarkan cerita yang disampaikan mata manusia: bit.ly/facebookmatamanusia