Sebagai seorang perempuan aku memang lebih banyak menggunakan perasaan dari pada logika dalam memutuskan suatu pilihan atau dalam mencerna suatu kerumitan hidup. Termasuk dalam urusan hati.

Setelah bertemu denganmu, aku menjadi semakin yakin bahwa masih banyak orang baik di dunia ini. Kamu selalu bisa membuatku tersenyum serta bisa diandalkan saat aku memerlukan bantuan. Walau terkadang kamu sedikit menyebalkan, iya hanya sedikit saja menyebalkan. Kesederhanaanmu sering membuatku kehabisan kata-kata, jarang sekali aku mendengarmu mengeluh.

Sikapmu yang lembut sungguh membuatku malu dengan keadaan diri sendiri yang berbeda 180 derajat denganmu. Aku masih kekanak-kanakan, masih sering marah-marah tidak jelas atau bahkan mengeluh hanya karena sedikit lelah. Tak pernah sekalipun aku mendengar kata-kata kasar yang keluar dari mulutmu. Sebaliknya ungkapan-ungkapan penuh syukur dalam kesederhanaanlah yang akrab di telingaku saat aku ada di dekatmu.

Entah selama ini kamu menganggapku sebagai apa? Mungkin hanya sekedar teman biasa. Apa kamu tahu bahwa dengan sikapmu yang begitu care kepadaku selama ini telah berhasil melumpuhkan pikiran rasionalku? Oh Tuhan, mengapa aku bisa sangat baper?

Namun aku juga menyadari bahwa tentu saja kamu akan bersikap baik kepada semua orang yang kau temui, tanpa memandang perbedaan latar belakang keluarga, status sosial, atau tingkat pendidikan mereka. Aku tahu akan hal itu dari cerita-cerita hidupmu yang menunjukkan kedekatanmu secara emosional dengan keluarga, terutama ibumu.

Advertisement

Jadi bisa aku simpulkan bahwa kamu juga akan memperlakukan orang lain, terutama para kaum hawa dengan penghormatan yang tinggi, termasuk kepadaku.

Ketika berada di dekatmu aku merasa nyaman dan ketika jauh darimu aku merasa rindu. Namun dalam satu waktu aku juga merasakan yakin sekaligus ragu akan perasaanku sendiri. Mungkinkah aku jatuh cinta kepadanya? Atau itu hanya naluriku untuk berterima kasih atas kebaikannya? Cinta? Itu terlalu absurd untuk disebut sebagai cinta.

Benar, mungkin aku hanya mengagumi dirinya yang begitu baik hati dan supel. Entahlah aku tidak cukup pintar untuk dapat menafsirkan perasaanku sendiri. Aku pun tidak mau terus hidup dalam pikiran irrasionalku sendiri yang berisi tentang hal-hal absurd yang aku ada-adakan sendiri. Dan aku pun memutuskan untuk mencoba melarikan diri dari perasaan yang aku ciptakan sendiri, terus melangkah kedepan dan tidak menengok lagi ke belakang.

Aku sadar kini aku bukanlah seorang ABG Labil lagi, karena masa itu sudah aku lewati bertahun-tahun yang lalu. Kini aku telah menjelma sebagai seorang perempuan dewasa yang mulai menapaki kehidupan yang cukup rumit untuk ditebak, sudah seharusnya aku tahu bagaimana seharusnya aku menempatkan diri dan bersikap. Membiarkan perasaan berceceran dan mengumbar kata-kata cinta sebelum waktu yang tepat tiba adalah hal bodoh bagiku.

Akhirnya aku memilih untuk lebih fokus pada aktivitas lain yang akan bisa mengalihkan perhatianku pada rasa rindu yang muncul. Cukup lama aku berhasil melakukannya dan hampir saja aku lupa akan sosok malaikat tanpa sayap itu. Hingga pada suatu hari dia hadir kembali dalam alam bawah sadarku, dalam mimpi-mimpiku dia kembali menyapaku dengan senyum tulus. Masih sama seperti dahulu dan tentu saja tetap sedikit menyebalkan.

Entah bagaimana kamu bisa hadir dalam alam bawah sadarku dan kemudian kita kembali dipertemukan dalam kehidupan nyata, kemudian tanpa bisa aku kendalikan kamu kembali hidup dalam pikiran irrasionalku. ”Apakah kamu adalah orang itu? Orang yang sudah bertahun-tahun aku tunggu untuk menggenapiku kelak?" Pertanyaan-pertanyaan konyol itu silih berganti hadir dalam benakku ketika aku kembali ada di dekatmu.

Aneh, mengapa aku bisa kembali mengagumimu sama seperti dulu. Bahkan diam-diam aku akan cemburu ketika kamu membawa-bawa nama teman perempuanmu yang lain dalam sela-sela obrolan kita. Waktu yang telah lama bergulir ternyata belum juga mampu menghapus memori lamaku, yang sudah terbiasa nyaman dengan suatu kelembutan.

Dan sama seperti dulu, tetap ada keyakinan dan keraguan dalam satu hembusan napas ketika aku berpikir tentangmu. Bedanya sekarang rasa ragu lebih mendominasi.

Maafkan aku yang sudah lancang, berani-beraninya menyelipkan namamu dalam do’a-do’aku kepada Tuhan. Maafkan aku yang tidak bisa membendung perasaanku untuk turut terlibat dalam persahabatan kita sekarang. Jika kamu terlalu baik padaku mungkin aku harus sedikit jahat kepadamu.

Dalam ruang tunggu kita masing-masing kita akan belajar tentang banyak hal, termasuk belajar untuk menjadi pribadi yang dewasa dan cerdas. Nanti kita akan bersama atau tidak, itu telah menjadi hak-Nya. Masa depan masih menjadi misteri, tidak ada yang mengetahui kejutan apa yang akan dibawa oleh masa depan untuk kita.

Yang terpenting adalah fokus pada masa sekarang, hidup dengan logika dan perasaan kita masing masing. Tugas kita adalah menyeimbangkan keduanya. Kita akan tetap menjadi baik dan terus memperbaiki diri agar layak mendapatkan yang terbaik menurut versi-Nya. Amin.