Aku bilang hujan selalu hebat. Iya hebat. Kau tahu kenapa? karena hujan tak pernah datang sendirian. Ia selalu membawa secuil kenangan yang memaksaku tuk mengintip di balik ruang rindu. Kau kah di sana sayang? Ah mungkin aku benar.

Ternyata kamu tidak benar-benar pergi dari anganku. Atau aku yang benar-benar tidak bisa melupakanmu? Bisa jadi (mungkin) hanya sekedar merindu. Entahlah. Kupikir karena hujan terlalu kuat menyeretmu kembali dalam angan.

Aku tak ingin membenci hujan yang selalu berkomplot dengan kenangan. Kenanganmu. Kenangan kita.
Karena membenci hujan sama saja dengan membenci Sang Pencipta hujan, bukan? Ah sungguh aku tidak ingin.

Aku hanya ingin menikmati syahdunya hujan dengan secangkir cokelat panas. Kedengarannya itu lebih menyenangkan, Dibanding harus ditemani dengan bayangmu yang tak mampu ku paksa pergi.

Sungguh, aku hanya ingin sedikit saja menikmati nikmat Tuhan melalui hujan yang (menurutku) juga mampu membuatku tenang, bahagia, walaupun kau tak lagi bersamaku. Tolong, mulai sekarang sampai seterusnya, biarkan aku berusaha menikmati hujan. Sendirian.Tanpa perlu bayangmu datang kembali walau sekedar bertegursapa.

Advertisement

Dan biarkan aku bergulat dengan semua kenangan di tengah derasnya hujan. Bergulat untuk menyuruhmu enyah dalam angan. Kelak, akan ada senyum di tengah hujan yang menggantikan resah karena merindu. Dan itu senyumku.

Kelak, akan ada tawa tanpa perlu merasa kacau karena bayangmu. Dan itu tawaku.