Tidak benar-benar mengerti ternyata restu keluarga punya andil besar mengubah banyak hal dengan cepat bahkan ikrar janji dua insan saling cinta seakan tak punya makna saat perjalanan manis-pahit bersama selama bertahun-tahun dipaksa tamat.

Tahun-tahun yang kulalui bersamamu cukup membuatku mengenalmu dalam segala sisi. Tapi apakah semua tak cukup berarti? Benarkah perjuangan kita segitu mudah dikalahkan oleh restu yang belum kunjung kita terima?

Berdua kita bisa diandalkan menghadapi masalah bertubi-tubi, lalu mengapa kali ini kau memilih pergi?

Tak bisa kuhitung berapa kali kita diterpa masalah, tapi sebanyak itu pulalah kita bisa membuat semua kalah. Banyak yang terperangah memandangi kita dari segala arah bertanya mengapa kita tak pernah mengalah?

Yang aku dan kamu tau saat kita bersama bahagia selalu lebih besar daripada lelah-lelah.

Advertisement

Katamu kau akan selalu ada menemaniku menerjang semua badai yang memaksa kita berpisah. Lalu mengapa di keadaan kali ini kau mengaku kalah?

Aku terlalu takut memikirkan seperti apa hidupku nanti, tanpamu. Rasanya tak mungkin kutemukan seseorang yang dengannya kurasakan waktu berjalan cepat seperti melesatnya peluru. Tak mau kubayangkan betapa sulit mencari penggantimu, dia yang tertawa ketika melihat angka timbanganku bergeser ke kanan. Atau apakah mungkin ada orang yang membuatku tertawa terbahak-bahak bahkan saat di telpon belum sempat bilang kata halo? Mungkinkah kutemukan orang yang menerimaku seperti dirimu?

Jujur aku belum bisa menerima keputusanmu. Yang kutahu, orang yang mencintaiku dulu, tak boleh menyerah denganku

Coba katakan sesuatu padaku. Sesuatu yang membuatku berhenti mengharapkanmu. Atau setidaknya katakan sesuatu yang membantuku sembuh dari semua pilu. Sungguh sulit melepasmu. Aku tau benar kau pasti mengerti mengapa aku setengah mati begini. Tak usah kujabarkan lagi, aku ingin bersamamu hingga mati.

Ayolah sayang, kita masih punya kesempatan untuk membuktikan banyak hal pada mereka. Kita masih bisa bersama. Dengarkan aku, tolong lakukan sesuatu.

Menghujam tembok hingga kepalan tanganmu mengucurkan darah segar. Kau yang ku kenal tegar, akhirnya tumbang dan bergetar

Bagiku 5 kali merayakan ulang tahun bersamamu adalah waktu terbaik yang melekat kuat. Kita tumbuh menjadi dewasa bersama meski rasanya kau sedikit lebih cepat. Aku mengamati banyak perubahanmu. Kau lebih tenang dibanding aku, lebih pelan dalam menikmati hidupmu. Semua masalah yang mendewasakanmu, kau ajarkan juga perihal baiknya kepadaku. Itulah mengapa aku tau benar, kau ditempa oleh Tuhan supaya jadi pria yang tegar.

Lalu kemarin aku melihatmu, raut wajahmu menampakkan kesedihan, kekecewaan, kemarahan mungkinkah itu yang kau sebut kekalahan? Seperti biasa aku coba menenangkanmu tapi kemarin itu aku juga tak mampu. Tenggorokanku sakit menahan tangis karena tak mau membuatmu semakin pilu. Menghujam tembok hingga kepalan tanganmu mengucurkan darah segar. Lalu saat itu kau yang ku kenal tegar, akhirnya tumbang dan bergetar. Kau bilang: “Sayang, aku minta maaf.”

Bagian mana lagi yang lebih menyiksa dari dua hati yang dipaksa berpisah saat sedang cinta-cintanya?

Aku tau semua orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya tapi bagaimana aku bisa dewasa di mata mereka saat hidupku ditentukan oleh mereka sepenuhnya? Sudah kucoba semua daya untuk meyakinkan mereka memberi waktu agar kita bisa melawan. Iya, melawan anggapan bahwa kebebasan yang mereka bilang itu bukan kebebasan jika tetap bisa mereka kendalikan. Itu bukan kebebasan!

Namun tak kusangka kau akhirnya menyerah dan mengiyakan saat keluargaku memandangmu tak cukup baik untuk bertahan denganku. Maafkan aku jika melukaimu sedalam ini.

Akan kuingat perkataanmu disaat terakhir menjadi kekasihku : “kita punya hati yang sama-sama pecah, jadi yang harus aku lakukan sekarang adalah pergi jika tidak pecahan hatiku akan melukaiku namun yang paling tak bisa kuterima, itu bisa melukaimu juga. Selamat tinggal”

Aku hancur berkeping-keping. Rasanya lebih baik menghempaskan diri dari terjal tebing. Namun jika aku sudah tak mampu menahanmu, apalagi yang harus kulakukan? Aku jadi sadar semakin aku menahanmu disini, maka sama saja menghujani dirimu dengan ribuan caci-maki.

Bagian mana lagi yang lebih menyiksa dari dua hati yang dipaksa berpisah saat sedang cinta-cintanya?

Akhirnya aku harus menerima bahwa meski tak bersamamu seperti impianku dulu, perihal mencintaimu tidaklah sia-sia. Pantaskanlah diri dalam segala hal-hal baik ya. Ku yakin itu akan berguna bagi hidup masing-masing kita. Walaupun nanti hidup tidak kita habiskan bersama, setidaknya kita takkan lupa bagaimana mencintai dengan setulusnya.

Tuhan itu suka mengasihi, mungkin ini cara-Nya mengajar kita menemukan jati diri. setelah ini, memang semua tak sama lagi yang selalu coba kuyakini bahagia-bahagia lain akan menanti.