Setiap mendengar kata ‘cinta’ atau melihat ‘orang pacaran’ atau datang ke acara ‘nikahan’, secara tiba-tiba -dan lebih terkesan otomatis-, kuping terasa panas, kepala mendidih, hati terbakar, dan berakhir menjadi hangus. Gosong di sekujur tubuh kemudian menjadi kerak hitam yang membandel. Kalau kalian melihat kerak di bawah wajan atau panci, apa yang akan kalian lakukan? Pasti ingin menggosok dengan abu, sabun colek atau apa pun kan? Jika masih membandel saja, kalian pasti geregetan ingin mencongkel memakai pisau, obeng, bahkan kalau bisa pakai linggis sekalian. Aku juga sudah pernah melakukan seperti itu temans! Pernah mencoba membersihkan dengan cara yang halus, persuasif, preventif, dan segala tindakan berkonotasi positif lainnya. Selanjutnya aku juga pernah berusaha mencongkel kerak yang melekat di tubuhku sendiri menggunakan alat yang ekstrim (yang bisa memasukkanku dengan mudahnya ke penjara).

Baik, mungkin kalian akan pusing dengan keluhan-keluhan ini. Tapi ada baiknya kalau kalian dengarkan penjelasanku terlebih dahulu! Tapi aku ingin teriak dulu ya! Boleh kan? Kalian harus jawab BOLEH. Baik, satu…dua…tiga…AAARRKKKKGGGGGGHHHHH!!!! Huft, oke aku mula cerita!

Kalau kalian bicara tentang cinta, pacaran, atau pernikahan, baik…aku akan tutup kuping dengan segera! Kalian tahu, tingkat kepercayaanku terhadap tiga kata itu sudah berada pada titik terendah, nol derajat celcius –atau bahkan sudah melewati, minus!-. Kalian pasti bertanya, sebegitu bencikah aku terhadap ketiganya? Aku jawab, -untuk saat ini- IYA.
Sebelumnya, aku akan bertanya terlebih dulu pada kalian. Bagaimana perasaan kalian, jika pacarmu, kekasihmu, tunanganmu, atau calon istrimu yang berada di luar kota, ternyata membagi hati dengan orang lain? Berarti aku 50, lelaki itu juga dapat 50 kan? Impas! Tapi kalau dibagi untuk tiga orang? Masing-masing mendapatkan 1/3 bagian. Jatah tiap orang semakin sedikit. Berarti porsiku juga menipis. Betul kan? Kemudian aku tanya lagi, apa yang akan kalian lakukan untuk mengatasinya? Menghabisi lelaki itu, menampar pacarmu, atau tinggalkan saja semua? &^%$@#$()*/

Baik, mungkin kesalahan bukan murni dari pacarku, kekasihku, tunanganku, atau calon istriku –sehingga dia memutuskan untuk membagi hati-. Aku juga turut andil terhadap ‘ulah’ pacarku, kekasihku, tunanganku, atau calon istriku itu. Aku akui kalau kami memang jarang berbagi karena terpisah jarak. Selain itu, aku juga bukan tipe pria romantis (aku tidak bisa menulis puisi seperti Khalil Gibran, tidak pernah berlutut memberi bunga, mengatakan ‘I love u’ setiap saat, atau merayu ala Shah Rukh Khan dalam film Indianya!). Aku adalah jenis pria yang termasuk dalam komunitas pria cuek.
Tapi tolonglah pacarku, kekasihku, tunanganku, atau calon istriku, aku sebenarnya bisa menunjukkan dan membuktikan kalau hubungan kita baik-baik saja, tetapi dengan cara yang berbeda. Caranya adalah, aku tidak membagi hati ini dengan wanita lain. Tapi pacarku, kekasihku, tunanganku, atau calon istriku, ternyata kamu memiliki prinsip yang berbeda. Menurutku, kamu berprinsip “Kalau kamu cuek, jangan salahkan aku kalau aku lebih suka mencari perhatian orang lain”.

Tapi itu semua tidak perlu dibahas lagi pacarku, kekasihku, tunanganku, atau calon istriku. Sekarang kita sudah berpisah. Kamu tahu, apa yang aku lakukan setelahnya? Merokok berpak-pak, ternyata belum bisa mengurangi stress ini. Aku coba yang sedikit lebih berat. Aku habiskan berbotol-botol minuman keras, dari mulai harga yang sedikit mahal, standar, sampai oplosan (yang ternyata rasanya seperti rendaman bangkai, cuuih!). Cara ini ternyata belum sepenuhnya ampuh. Selanjutnya aku memilih untuk menghabiskan waktuku berteman dengan beberapa pil, obat, serbuk, dan jarum suntik. Aku juga kerap menyimpan beberapa helai daun di dompet. Takut sewaktu-waktu kalau lagi butuh!

Advertisement

Coba kalian beri solusi, pantaskah kalau mengalihkan rasa stress dengan hal seperti itu? Pasti kalian akan serempak menjawab TIDAK. Iya kan? Menurut kalian aku harus lari kemana? Pasti kalian juga serempak –lagi- akan menjawab TUHAN. Iya kan?

Wah,,,jangan bicara tentang Tuhan! Aku takut –eh, lebih tepatnya malu-. Aku belum pernah mencoba dekat dengan-Nya. Coba kalian pikir, bagaimana mungkin kalau aku mendekati Dia, pada saat aku lagi stress? Doa apa yang harus aku rapalkan? Menjalankan lima waktu saja nol. Seminggu sekali beribadah, kalau ingat dan sempat. Setahun sekali pun, kebetulan menghormati lingkungan sekitar pas lebaran. Nah, betapa menjijikkannya aku, kalau aku dengan PD-nya menghadap Dia saat keadaan kacau begini. Aku malu!

Sampai suatu saat aku mencoba bangkit. Kata anak gaul zaman sekarang move on –eh, bener kan tulisannya?-. Tapi aku pakai Bahasa Indonesia saja, pakai bahasa asing malah berantakan jadinya, hehe. Baik, aku lanjutkan! Aku mencoba berpacaran lagi, setelah terpuruk. Nah, tahukan kalian, pacarku yang sekarang BERJILBAB! Bayangain men, preman dapat muslimah! Namanya juga rezeki, iya kan? Setelah berjalan beberapa waktu, endingnya putus lagi! Orang tuanya kagak setuju men! Ya jelaslah, anaknya beriman, malah dapat cowok bedigasan!

Karena banyak teman yang kasihan melihat aku yang semakin amburadul, mereka berlomba-lomba mencarikan tambatan hati yang baru buat aku. Mulai mempromosikan adiknya, saudaranya, sepupunya, adik tingkatnya, tetangganya, teman sekolahnya, teman kantornya sampai ada yang nawarin mantan pacarnya! Busyet! Mereka melakukan ini semua, pastinya telah memastikan bahwa keadaanku sudah pulih dan steril dari minuman keras, obat-obatan, serta barang haram lainnya. Alhamdulillah, aku sudah mulai ingat Tuhan dan dengan rasa malu yang mendaging menyumsum pada saat menghadapNya!

Sekarang temans, aku hanya minta doa dari kalian. Biarkan aku memilih untuk sendiri dulu. Karena menurutku, untuk saat ini, hal itu merupakan pilihan yang terbaik. Sebelum aku berkarat kemudian membusuk, biarkan aku menikmati masa jombloku! Terimakasih temans, kalian sudah meluangkan waktu mendengar curhatanku! Memang terkesan alay bin lebay, tapi preman juga manusia kan? 🙂
#apatis #galau #kecewa #gagalmoveon