Menatap matahari senja, membuat memori dalam ingatanku seolah ingin terbenam dalam diam. Arus sang Waktu, membuat langkah kakiku semakin menjauh. Persahabatan. Entah apa dayaku untuk merangkul kalian semua.

Ketika jejak kecil langkah kami terukir dengan manis di pasir pantai, aku tidak ingin deburan ombak menghapusnya. Para pelukis mimpi ini, sedang merangkai jalur kehidupan masing-masing.

Aku menatap cahaya keemasan dalam senja. Indah, pikirku dalam diam. Sahabat-sahabatku, kini mulai beranjak dewasa. Kami berjanji, sejauh apapun kami mengejar mimpi, pasti kami akan menemukan jalan untuk pulang suatu hari nanti. Aku menantikan hari itu tiba. Hari di mana sahabatku kembali saling merangkul dan kembali melukis mimpi kami di pantai.

“Pulanglah, aku rindu kalian.” bisikku dalam deburan ombak senja.

Hari ini, aku memutuskan untuk kembali ke tempat di mana aku mulai merangkai mimpi. Namun, rasanya berbeda sekali daripada saat aku pergi untuk mengejar mimpi. Semuanya telah berubah. Segala hal telah berbeda. Hanya aku yang sama. Diam dalam mimpi yang sama.

Advertisement

Apakabar sahabatku? Apakah mereka telah berhasil mimpi mereka masing-masing? Atau mereka terlalu sibuk hingga melupakan janji masa kanak dulu?

Ah, ini aneh. Mengapa aku kembali? Padahal aku telah berada diseparuh jalan dalam meraih mimpiku. Alasan aku kembali, karena aku merindukan tempat di mana sahabat adalah menjadi hal terindah yang bisa membuatlu tersenyum dalam hal apapun.

Di mana kalian?

Apakah masih ingat pada kaki kecilku yang merangkai mimpi di pasir keemasan di senja bersama kalian?

Aku telah kehilangan asa. Apakah kalian bisa kembali untuk menguatkanku?

Helaan nafas panjang, membuat hatiku sedikit nyeri. Senja ini memaksa memori dalam hatiku berhamburan. Aku rindu sore yang hangat itu. Rindu pada pelukan sahabatku.

Senja telah membuat arus waktu semakin menjauh dari masa lalu. Namun aku masih berdiri menatap masa lalu. Apa guna aku mengharap pada masa yang telah lalu.

Semilir angin senja, mengingatkanku pada hangatnya janji masa depan. Aku berdiri, berusaha menguatkan kakiku untuk melangkah. Mengukir kembali jejak langkah kaki. Jejakku sendiri. Janji pada diriku sendiri. Tiada yang bisa membantu saat ini, selain diriku sendiri.

Aku pasti bisa, tegas aku dalam hati.

Dalam diam, aku kembali menatap sang senja. Kemudian aku tersenyum, jejak langkah kakiku terukir begitu tegas. Jauh dari deburan ombak. Untuk sesaat, aku yakin. Jejak itu akan terus ada untuk waktu yang lama. Semangatku kembali hangat.

Dear, sahabatku.

Sejauh apapun kalian berada, aku akan selalu berdoa untuk kalian.