Kamu dan aku saling percaya, kita dua alien yang entah bagaimana bisa tersasar di Bumi. Bahasa yang kita ucapkan berbeda dengan teman-teman yang lainnya — penuh dengan kata buatan sendiri dan canda yang hanya kita yang mengerti. Kita saling berbagi dan bercerita, seolah hanya punya yang satu dan yang lainnya. Lambat laun, kita menghabiskan banyak waktu bersama. Dan aku melihatmu bukan hanya sebagai teman semata.

Ini berbahaya. Bagaimana bisa aku mulai menyimpan rasa?

Sahabat,

Mungkin ini semua karena satu hal. Bagaimana aku menyukai keterbukaanmu dalam segala aspek dan perbuatan. Seseorang yang tidak pernah segan untuk memarahiku ketika aku salah, "memaki" ketika aku bersikap tidak dewasa dan tidak secerdas biasanya. Saat aku jatuh karena ceroboh, kau menertawaiku dulu sebelum akhirnya menolongku. Hubunganku denganmu tak diisi dengan pura-pura. Semua lepas dan apa adanya.

Aku melihatmu sebagai orang yang bisa kupercaya. Karena kamu jugalah yang selalu ada di sisi ketika aku tak tahu lagi kemana mencari tumpuan untuk berdiri. Kamu yang tak pernah pergi ketika yang lain meninggalkanku sendiri.

Advertisement

Sahabat, denganmu aku tidak takut menampakkan kelemahan. Tidak usah lagi peduli pada gengsi dan harga diri. Denganmu, aku berani menjadi diri sendiri.

Orang lain hanya mengenalku dari permukaan. Kamu rela mengetuk pintu, mengenali lapisan-lapisan diriku yang paling dalam

Ketika yang lain hanya bersikap seperlunya saja, kamu berbeda. Kamu tahu apa yang memang baik untukku sekalipun perkataanmu itu berarti melukaiku. Kamu tahu kapan aku memang kuat dan mampu menghadapi masalahku dan kamu tahu kapan aku memang tidak baik-baik saja sekalipun segalanya terlihat biasa saja.

Tidak jarang, kita pun bertengkar untuk hal-hal sederhana yang di mata orang lain mungkin tidak masuk akal. Tapi kita juga tahu, kita tak tahan untuk berlama-lama mendiamkan. Karena kita selalu rindu untuk tertawa bersama, menggila bersama, dan menjadi konyol lebih dari sebelum-sebelumnya.

Meski aku hampir tak pernah mengatakannya, bagiku kamu berharga. Tak bisa kubayangkan jika kita tak pernah saling mengenal

Kamu mengajariku: kedekatan bisa terjadi tanpa rencana dan rasa bisa tumbuh begitu saja

Kamu yang dahulu sangat asing bagiku, menjadi seseorang yang begitu familiar dan paling kukenal. Seorang sahabat yang selalu ada saat suka dan duka. Tidak ada tuntutan dan ekspetasi di antara kita, kita hanya membiarkan semua yang ada mengalir begitu saja karena kita sama-sama tahu kemana kita harus berlabuh. Segalanya terlihat sempurna.

Hanya satu yang tidak pernah kita bicarakan, kata tabu yang telah menjadi kesepakatan bisu.

Mungkin kita tak pernah bicara soal cinta secara terbuka. Denganmu, aku pun menghormati batasannya

Kita tidak pernah berbicara tentang cinta, tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa muncul dalam hubungan kita berdua. Kamu tidak pernah tertarik, dan pikirku juga, buat apa? Aku sadar bahwa kita punya batasan. Karena itu, meski orang-orang mempertanyakan tentang kita, kadang bergosip dan menggoda, kita berdua paham bahwa olokan orang-orang itu baiknya dijadikan angin lalu saja. Garis batas itu takkan pernah kita lewati. Karena memang melintasinya tak pernah terpikirkan selama ini.

Tapi maafkan aku karena ternyata aku jatuh cinta padamu.

Rasanya seperti orang rabun yang akhirnya diberi kacamata. Aku melihatmu dengan jelas dan lebih jernih dari sebelumnya

Entah sejak kapan, tapi sekarang aku melihatmu dengan cara yang berbeda. Aku baru menyadari ketika mendengarmu bicara tentang dia yang lain, dia yang asing. Aku takut kehilanganmu — bukan sebagai teman yang dilupakan, namun sebagai seseorang yang hanya bisa menyimpan perasaan.

Tapi biarlah pengakuan ini tak terucap, biarkan tertahan dalam hati selagi aku masih kuat. Mungkin ini hanya sementara — meski aku yakin ini bukan hanya sekadar rasa). Mungkin aku akan sedikit menggalau dan teman-temanku yang lainnya, yang tak memahamiku sebaik dirimu, akan tertawa. Mungkin aku akan merasa sedikit — atau sangat — tersiksa.

Aku masih ingin berada di dekatmu. Tak menjadikan kedekatan kita bubar jalan hanya karena membuka rahasiaku padamu. Biarlah begini. Lebih baik mengisolasi rasa dan menyimpannya rapat-rapat daripada menuturkannya kemudian menyaksikanmu tak tahu harus berkata apa.

Sebagai sahabat, kita hebat.

Dan aku ingin tetap melakukan hal-hal gila bersamamu walaupun harus menutupi perasaanku.