“Assalamulaikum Uti , apa kabar ?”

“Masih suka pake gincu? Pake warna apa hari ini ?”

“Gimana , udah bisa main lompat tali normal pake dua kaki ?”

“Pasti udah bahagia kan disana ?”

“Nggak papa , mendung- mendung gini mendadak pengen aja makan singkong rebus goreng bikinan Uti sambil di dongengin gimana elegannya Uti waktu nakhlukin hati cowok-cowok itu”

“Nanti kalau nyari calon suami jangan jauh-jauh, biar bisa sering-sering ngajak Uti jalan-jalan.” Kata Beliau sementara tangan kirinya sibuk menyisir rambutku. Kata Uti, rambutku lebat dan lurusnya mirip iklan shampoo. Aku sendiri sedang duduk bersila di depannya sambil memakan singkong rebus (yang setelah itu di-) goreng super duper enak bikinan Uti.

“Harusnya kalau ngga hujan, mbak putri mau kesini ngajak lompat tali.”

“Halah, main lompat tali kalahan gitu kok, kakimu itu angkat yang tinggi ta Nduk.” Ujar Uti menimpali

“udah Ti.” Kataku sembari mempraktekkan.

Advertisement

“Lha kakimu mesti nyerimpet gitu kok, nanti kalau Uti sembuh, tak ajarin main lompat tali biar menangan kayak Uti dulu” Aku tertawa mendengar Uti berkata dengan mimik yang menggebu- gebu seperti itu.

“Sekarang disini aja, tak critani.” Uti melanjutkan. Dan seketika mataku berbinar. Selalu seperti itu. Bahkan sudah kelas satu SMA pun aku selalu antusias dengan cerita- cerita Uti. Apapun ceritanya dan berapa kalipun Uti mengulangnya, tetap saja aku menyukainya. Dan beruntungnya, disetiap apa-apa yang diceritakan Uti, selalu ada pelajaran berharga yang bisa dipetik. Uti paling suka bercerita tentang masa mudanya, seperti sore itu saat Uti menjabarkan makna Jodoh.

“Dulu waktu hujan gini, Uti tetep main lompat tali sama Mbok Jah. Terus banyak anak laki-laki yang hujan-hujanan jadi ikut main lompat tali juga.”

“Ah Uti, paling pas main gayanya di genit- genitin, di cantik- cantikin, makanya anak laki- lakinya jadi mampir main juga.” Kataku sambil tertawa.

“Lha Uti ini memang cantik kok. Makanya banyak laki-laki yang naksir Uti. Tapi Uti sok jual mahal aja, biar kelihatan lebih cantik.” Aku selalu tertawa jika mengingat gaya bicara Uti waktu mengatakan hal itu, Sudut bibir kirinya diangkat sedikit tapi seketika itu juga langsung tertawa, memperlihatkan garis- garis kerutan di wajahnya dengan jelas juga barisan gigi putihnya yang rapi. Mukanya masih terlihat segar, ditambah warna- warna gincu cerah yang tidak pernah absen dari bibirnya. Iya, Uti suka sekali memakai lipstik. Beliau bahkan punya lipstik pallet dengan banyak warna didalamnya.

Dan Uti cantik. Beliau punya hidung mancung, kulit bersih kuning langsat dan badan langsing semampai. Aku sempat mencari- cari dimana letak kemiripanku dan Uti ketika pernah diperlihatkan foto hitam putih yang sudah usang dengan wajah Uti sewaktu masih muda terpampang disana. Pantas saja banyak laki- laki yang ingin melamar Uti dari mulai penjual gas, tentara, sampai Duda sekalipun. Kata Uti, yang penting kita harus ramah sama orang. Yang banyak senyum, biar awet muda juga.

“Uti masih kecil, masih ngga mau mikirin lamaran orang. Tapi ada satu sih yang Uti suka, sampai kalau main kerumah, selalu Uti masakin.” Lanjut Uti.

“Kakung?” Aku antusias

“Bukan. Ya si Tentara itu. Tapi, ternyata istrinya banyak. Hobi kawin. Sempet tak tangisin juga waktu itu. Padahal Uti masih piyik.”

Aku tersenyum. Ternyata, bagaimanapun elegannya Uti yang mampu mengambil hati banyak lelaki, Uti juga wanita biasa yang rentan di bohongi oleh lelaki.

Cerita Uti selanjutnya, tiba- tiba saja Uti harus hijrah ke Madura karena mendapat kabar mbah Buyut sakit- sakitan. Dan di Madura lah babak baru kehidupan Uti dimulai. Ada satu lelaki dewasa yang tiap malam selalu mengaji di surau dan tidak akan turun dari surau sebelum jam Sembilan malam. Usia Uti 16 tahun, ketika suatu malam Mbah buyut mengajak Uti berbicara serius tentang perjodohan. Iya, Uti akan dijodohkan dengan seseorang yang masih kerabat. Meskipun Uti ingin menolak, karena masih sangat muda dan awam dengan pernikahan, tapi Uti akhirnya menurut saja. Uti percaya mbah buyut tidak akan menjodohkan anaknya dengan lelaki yang tidak baik. Dan ternyata beliau adalah lelaki dewasa yang tiap malam mengaji di surau. Duda tanpa anak dengan senyum teduh menenangkan. Beliau adalah kakungku. Dan perbedaan usia mereka waktu itu sepuluh tahun.

“Jodoh itu sudah ada yang ngatur Ta. Kadang orang yang kamu yakini, yang kamu sukai, belum tentu jadi jodohmu. Tapi yang sering kamu abaikan, yang bukan seleramu, malah digariskan Allah buat jadi pendampingmu. Allah itu maha tau yang terbaik buat hambanya. Termasuk jodoh.”

Uti sering sekali mengulang kata- kata itu. dan aku bersyukur pada akhirnya Uti menikah dengan Kakung. Sosok penyabar, pekerja keras dan sayang sekali pada keluarga. apa jadinya jika Uti menikah dengan tentara itu.

“Uti bahagia hidup sama Kakung?”, aku pernah menanyakan itu di suatu sore.

“Uti sangat bersyukur punya Kakung, makanya Uti sangat bahagia.” Uti nampak sangat yakin waktu mengatakan itu.

Rumah tangga Uti dan Kakung juga sama dengan yang lainnya. Ada pasang dan surut, ada saatnya di bawah dan di atas. Setelah menikah, Uti ditemani Kakung kembali ke Mojokerto. Waktu itu kakung pontang- panting bekerja serabutan karena tidak punya pekerjaan tetap. Di Madura, kakung biasa beternak sapi yang jika dewasa bisa dijual. Tapi di Mojokerto, Kakung harus kerja apa ?

“Uti sama kakung juga pernah nggak punya apa- apa sebelum bisa kayak sekarang ini.”

Iya, kata Uti, Uti bahkan pernah tidak punya beras sama sekali untuk makan waktu itu.

“Kesetiaan wanita itu di uji waktu lelakinya nggak punya apa- apa. Kalau kesetiaan laki-laki itu diuji waktu dia punya segalanya.”

“Nanti kalau kamu jadi istri, dampingi suamimu dalam keadaan apapun. Jangan terlalu banyak ngeluh, jangan banyak nuntut. Tapi Uti selalu doakan biar keluargamu selalu dicukupkan sama Allah.”

“nanti kalau punya pacar, kenalin ke Uti dulu, baru kenalin ke Ibumu. Apalagi kalau milih calon suami. Kenalin ke Uti dulu ya.”

Ah, bagaimana bisa aku melupakan wejangan – wejangan sederhana Uti yang sadar akan sangat aku butuhkan nanti.

Dan kesetiaan Uti memang berbuah manis. Menjajaki dunia dagang, Kakung sukses berjualan daun tembakau kering yang didatangkan langsung dari Madura. Sampai punya kios dipasar yang laris manis, bisa membangunkan rumah untuk keempat anaknya, dan bahkan kakung tidak pernah merepotkan anak-anaknya dengan meminta bantuan uang selama keluar masuk rumah sakit untuk opname karena penyakit paru- paru basah yang dideritanya. Tidak sia- sia semua usaha beliau yang pada awalnya sampai tidak pulang tiga hari demi menjajakan daun tembakau dengan sepeda ontelnya.

“Nanti kalau kamu cari suami, jangan cari yang kaya. Cari yang pekerja keras. Yang punya rasa tanggung jawab besar sama keluarga.” satu lagi petuah Uti.

2008, tepat dua tahun setelah kakung meninggal, tiba- tiba saja Uti juga pergi untuk selamanya. Aku tidak ingat bagaimana persisnya perasaanku waktu itu. yang aku ingat, dadaku terasa sesak saat tahu pembuluh darah Uti pecah. Penyakit struk yang dideritanya selama hampir 12 tahun pada akhirnya berhasil merenggut nyawanya. Iya, selama ini Uti hanya bisa memfungsikan tubuh bagian kirinya. Sementara tubuh bagian kanan nya lumpuh. Riwayat hipertensi yang Uti punya, menimbulkan dampak besar saat Uti terjatuh 12 tahun lalu. Dokter memvonis Uti Struk separuh. Tapi tahukah ? selama hampir 12 tahun Uti sakit, aku tidak pernah melihat Uti meratapi penyakitnya. Uti pribadi yang periang dan sangat bersemangat. Uti ingin sekali cepat sembuh. Biar bisa jalan-jalan katanya. Uti pasti sangat bosan terus- terusan di rumah.

Kini, tidak ada lagi sosok wanita cantik yang gemar mendongengiku tiap sore, yang selalu memanjakanku lebih dari yang lainnya. Bahkan jadi orang pertama yang akan marah dan sangat khawatir jika ibuku memarahiku.

“Sekarang, Uti udah tenang disana kan ya ?”

“Aku baik- baik aja kok, tenang aja. Uti nggak perlu terlalu khawatir kayak yang dulu-dulu.”

“Eh iya, Bentar lagi aku mau menikah Ti, maaf ya, pada akhirnya, Uti nggak bisa ketemu langsung sama calon imamku ini. Tapi Insyallah dia lelaki yang baik. Yang pekerja keras dan bertanggung jawab persis kayak yang Uti pengen. Nanti sebelum menikah, aku ajak dia kesini ya, biar dia ijin ke Uti kalau dia bersedia mendampingi dan menjaga cucu Uti yang manja ini.”

Aku membacakan surat Yasin dan Al-fatihah, lalu mengusap pusara Uti sebentar.

“Aku pulang dulu ya, Ti.”