New South Wales, 1 April 2016

Jum'at kedua pertemuan kita. Rushcutter Bay menjelang senja. Kamu bilang ini salah satu daerah di Sydney di mana orang miskin bermukim. Tempat yang baik untuk berbagi donasi atau zakat.

Sore ini setelah menjemputku di Stasiun Central pukul 6 lewat 10 menit, kamu menginjak gas dan melajukan mobil ke arah Elizabeth Street. Seperti biasa CBD Sydney di akhir pekan agak padat dan ramai. Aku mulai bertanya kemana tujuan kita sore ini. Sambil melinting kertas dan tobako kamu hanya menjawab, "Kita keliling saja berkendara dalam mobil dan mulailah bicara padaku apa pendapatmu tentang proposalku minggu lalu."

"Aku tidak suka kita bicara sementara kamu menyetir. Please stop somewhere and I will start talking." jawabku.

Sekitar 20 menit kemudian, kita akhirnya berhenti di sini. Rushcutter Bay. Kamu memarkirkan mobil tepat di sudut jalan buntu di bawah tanda No Stopping. Lagi-lagi aku yang taat pada peraturan bergumam kita tidak seharusnya berhenti di sini. Kamu hanya tersenyum dan bilang padaku, "No worries. Kita duduk saja dalam mobil dan bicara di sini."

Advertisement

Rushcutter Bay sore ini entah kenapa mendadak sendu. Beberapa yacht berlayar di perairan itu. Bergoyang-goyang terbawa angin. Dari tempat kami duduk, kota Sydney terpampang jelas di seberang sana ditemani cahaya jingga yang mulai temaram. Sydney Tower Eye menjadi satu-satunya bangunan tertinggi tepat lurus di hadapanku. Salah satu tempat wisata yang belum sempat juga aku kunjungi sejak 8 bulan lalu.

Kamu masih terus menghisap rokokmu dan mulai menyuruhku bicara. Sementara aku rasanya seperti hilang rasa dan kata tak tahu harus mulai dari mana. Semua kata yang sudah kususun rapi dalam otakku selama satu minggu membuyar. Lidah dan bibirku kelu. Bukan seperti ini yang kuharapkan sesungguhnya. Namun kenyataan lain yang harus kita hadapi.

"I don't know where should I start. I've been thinking about all you said to me last week, even for every little things. I don't say you're not right. I'm just feeling like there's so much contrary in my heart. I'm sorry I can't accept that." jawabku pada akhirnya.

Sejurus aku melihatmu menarik napas panjang dan melemparkan pandangan ke arah orang-orang di pinggir bay yang sedang sibuk kegirangan melihat hasil tangkapan ikan mereka. Aku tau betul tatapanmu kecewa. Seandainya kamu tahu, di dalam hati aku pun sedih dan kecewa.

Lalu kamu mulai menatapku tajam sama seperti minggu lalu saat kita duduk di kedai kopi di pinggir jalan. Namun kali ini kamu tidak lagi tersenyum dan berkali-kali menyebut Masha Allah saat memandangi wajahku. Tatapanmu penuh kekecewaan kini.

Tak lama setelah itu kita mulai berargumen tentang apa yang kita yakini. Tentang semua perbedaan paham yang membentengi hati dan pikiran kita. Tentang betapa jauh rasanya jarak membentang di antara kita meski kita mungkin merasa memiliki tujuan yang sama dalam hidup. Sampai pada akhirnya ucapku di luar kendali. Aku mulai berkata betapa muaknya berdebat soal keyakinan dan aku memohon padamu untuk berhenti bicara lebih jauh lagi.

Kamu mulai melinting kertas dan tobako lagi. Rokok kedua sejak kita berangkat dari stasiun. Sambil kembali menghirup dan menghembuskan nikotin, kamu mengecek telpon selulermu yang kulihat sangat lusuh dan retak layarnya. Beberapa pesan masuk dan panggilan tak terjawab tak kamu indahkan. Kemudian kamu memainkan lagu Over The Rainbow.

Sesaat kita hanya terdiam dan terbawa dalam alunan lagu itu. Kita sangat dekat duduk berdua dalam mobil ini namun pikiran kita menjelajah pada prinsip-prinsip yang sangat jauh berseberangan. Minuman berenergi dalam botol mu mungkin sudah hampir habis. Kamu meneguknya lagi dan mulai membuka suara.

"Aku tidak berharap kamu percaya pada semua kata-kataku. Tidak pula ingin mempengaruhi apalagi memaksa mu untuk mengikuti keyakinanku. Lakum dinukum waliyadin. Ini bukan tentang kita berdua tapi tentang hubungan kita pribadi dengan Tuhan. Seutuhnya kamu punya hak penuh untuk memilih jalan mana yang kamu yakini. Karena di hari pengadilan nanti masing-masing kita hanya akan berdiri sendiri." katamu dalam.

Aku mendengarkan tapi tak kuasa menatap matamu saat kamu bicara. Pandanganku arahkan jauh melalui jendela kiri melihat yacht-yacht yang berlayar sendu. Aku mulai merasa mataku panas dan berkaca karena terbawa emosi. Aku mulai menarik napas panjang dan menjaga untuk tidak menjatuhkan air mataku di depanmu. Namun percuma saja karena rupanya kamu bisa membaca air mukaku.

"I don't wanna make you sad. Tidak ada yang kebetulan dalam pertemuan kita. Allah juga yang sudah merancang jalan cerita ini untuk kita. Jangan terlalu dipikirkan, nanti kamu stres. Kita ambil saja sisi positif dari semua ini."

Lagi-lagi sisi kewanitaanku berlaku berlebihan. "Tentu saja kamu sudah membuatku stres memikirkan semua ucapanmu selama satu minggu ini." jawabku ketus.

"Ucapanku yang mana? Apa yang membuat kamu stres? Aku hanya menceritakan tentang siapa diriku."

Rupanya jawabanku kembali membangkitkan argumen demi argumen tentang solat wajib, Al Qur'an, sunnah, pernikahan dan halal haram.

"I just can't accept about marriage concept you believe. For me, it's not fair. Nothing's fair for woman who been married with only "halal" concept. Then what come after a year? You could leave me whenever you want. People change. You might change your mind about me." kataku terbata-bata.

Lalu kamu mulai panas dan menyerobot ucapanku dengan sedikit keras. "Listen, listen, listen to me! It has nothing to do with what kind of marriage we intend to do. Everybody could just split up anytime if they felt the relation was not good. Whether we are doing my "halal" concept or your marriage concept, split up could be happened to us."

Tak mau kalah aku menimpalinya lagi dengan keras, "Yeah I know. But still it's not fair for woman. For me marriage is not only about to join two person but also whole of family. I wanna marry someone who will be my companion forever until I die. I don't wanna break up."

"Itu masalahnya. Kamu terperangkap dalam konsep pernikahan menurut adat istiadat dan tradisi. Aku sudah bilang untuk saat ini aku belum mampu menghadapi kesulitan-kesulitan itu. Di saat harus menikahimu, aku juga wajib "menikah" dengan orang tuamu, saudaramu, paman dan bibimu."

Di saat aku ingin menyela, kamu mulai berkata lagi. "Aku kehilangan istriku dua tahun lalu dalam kecelakaan mobil. Setelah itu hidupku rasanya jungkir balik. Dia meninggalkanku dengan dua orang anak balita. Aku sudah menjalani cukup banyak kesulitan dua tahun terakhir ini. Aku hanya ingin seorang istri yang halal. Itu saja. Tapi kalau aku diwajibkan memenuhi pernikahan seperti yang kamu minta. Mohon maaf aku belum bisa."

Selesai dia bicara rasanya aku ingin membalas lagi. Tapi lagi-lagi aku hanya memilih diam dan kembali menarik napas panjang. Aku tau pasti kamu masih sangat mencintai almarhumah istrimu. Seorang mualaf berkebangsaan Jepang yang sangat kamu cintai. Kamu meng-Islamkannya dalam pernikahan yang bahagia selama 8 tahun. Lalu kemudian Allah mengambilnya dari hidupmu. Sungguh aku masih bisa merasakan aura betapa kamu masih sangat mencintainya. Wanita yang kau bilang pergi dalam keadaan khusnul khotimah karena dia telah menjadi muslim sejati. Bahkan lebih baik darimu.

"Sampai detik inipun aku masih mencintai istriku. Aku harap kamu mengerti. Ya, aku bisa membuka hatiku untukmu atau orang lain jika memang bukan kamu. Namun rasanya butuh waktu yang sangat panjang untuk mengenal seseorang. Oleh karena itu aku ingin menjadikanmu halal. Agar kita bisa mengenal satu sama lain setidaknya selama satu tahun ini. Kemudian setelah itu kita bisa berpikir untuk melakukan pernikahan seperti yang kamu mau."

Sungguh hatiku sebenernya panas mendengar kata-katamu. Bagiku tidak ada bedanya konsep halalmu dengan hidup bersama tanpa pernikahan. Bagiku tetap zina namanya. Bagaimana mungkin halal yang kamu maksud ditentukan seberapa lama waktunya. Bukankah pernikahan sejati tidak terbatas waktu? Sisi plegmatisku dapat menahan perseteruan paham yang lebih dalam lagi. Aku memilih diam saja dan mencerna baik-baik kemana arah tujuan pembicaraanmu. Sudah jelas semuanya. Mungkin aku hanya kamu butuhkan demi melepaskan kebutuhan laki-lakimu saja, yang kamu bungkus dalam kata halal di mata Tuhan.

Burung-burung mulai berkicau berterbangan mencari jalan pulang. Menandakan hari akan segera berganti malam. Angin awal April ini belum terlalu dingin namun akan kian mendingin tatkala masa day light saving berakhir di sekitar minggu kedua nanti.

Sambil menghabiskan rokokmu, kamu mulai berkata-kata lagi. "Kalau kamu tau pernikahan itu sesungguhnya bukan hal yang mudah. Pertengkaran dan perbedaan pendapat akan terus terjadi berulang-ulang dengan orang yang sama. Tetapi yang menjadi istimewa adalah saat kamu dan pasanganmu bisa melewati semua itu bersama-sama tanpa terpisah. Itulah yang membuat kalian semakin mencintai satu sama lain."

Hei kamu yang sedang bicara padaku. Ingin rasanya aku bilang bahwa sepertinya kamulah orang yang tepat menjadi imamku kelak karena aku merasa setiap perkataanmu sejalan dengan harapanku selama ini. Tentu saja di luar semua perbedaan keyakinan kita, rasa-rasanya itu kamu yang bisa menjaga dan melindungiku.

Sepersekian detik berlalu dan tersadar bahwa tembok ini begitu tinggi menghalangi kita. Kita tidak mungkin membangun sebuah rumah di surga dengan pondasi yang rapuh. Meski kita menghamba pada satu Tuhan yang sama, Allah Subhanallahu Wa Ta'ala. Kita sama-sama tau itu tak mungkin.

Matahari sudah meninggalkan sinarnya sejak tadi. Waktu solat magrib pun tiba. Kamu kembali tancap gas kembali ke daerah Surry Hills untuk solat di mesjid. Aku tidak ingin menunggumu di dalam mobil jadi aku menunggu di seberang mesjid karena aku sedang dalam periode bulananku.

Selesai solat kita kembali berjalan menuju gang di mana mobilmu terparkir. Sepanjang jalan itu tiba-tiba kamu bilang "Seandainya saat ini yang jalan denganku adalah istriku. Kamu lihat kan? Sepertinya kita sudah cocok jalan bersama layaknya pasangan suami istri." katamu mencandaiku yang langsung manyun dan ingin meninju.

Aku sempat lihat beberapa kali gerakan tanganmu ingin menggandengku tapi kamu urungkan. Tidak kamu biarkan sedikitpun kulitmu menyentuh kulitku. Itu juga yang kusuka darimu. Meski kamu tak berpenampilan layaknya seorang ustadz atau ahli agama. Kamu tau bagaimana caranya memperlakukan muslimah dengan baik. Aku berharap kamu seperti itu bukan hanya kepadaku saja.

Aku yang begitu cerewet dan overprotektif terhadap keberadaanmu. Kamu si orang asing dari negara asing yang tiba-tiba didatangkan dalam kehidupanku.

Malam belum begitu larut. Orang-orang berpakaian necis dan rapi berlalu lalang di jalan yang sama kami lewati. Malam ini adalah akhir pekan. Sydneysiders biasanya melewati akhir weekdays dengan berkumpul di bar atau cafe untuk sekedar minum atau makan bersama kolega mereka. Tak lagi jadi pemandangan asing bagiku tatkala melihat sekelompok orang berkumpul di cafe pinggir jalan sambil bercakap dan menikmati minuman mereka. Bersulang dalam gelas champagne atau langsung menenggak dari botolnya. Kemudian sudut-sudut jalan di kota ini dipenuhi bau khas alkohol yang tertiup angin malam. Ini Sydney kota dimana siapa saja dari latar belakang apapun dapat tinggal dan hidup dalam harmoni. Tak peduli apa ras atau sukumu. Tak peduli apa bahasamu. Tak peduli apa orientasi seksualmu. Tak peduli apa agamamu. Bahkan tak peduli jika kamu tak percaya Tuhan sekalipun.

Sydney malam ini sangat kontras sekali dengan kondisi kita berdua. Kita seperti berada di dalam satu rumah yang sama namun terpisah kamar dengan tembok yang sangat kuat dan tinggi. Di mana kita tidak mungkin mudah menghancurkannya.

Aku mulai dihinggapi rasa ingin berlama-lama denganmu karena kemungkinan besarnya adalah ini malam terakhir pertemuan kita. Meski sisi diriku yang lain berkata aku harus segera pulang demi menjaga kehormatanku. Berkali-kali aku membuka telpon selulerku untuk melihat waktu juga mengintip jadwal keberangkatan kereta dari Stasiun Central di aplikasi perjalanan kereta.

Kamu sepertinya bisa membaca gerak tubuhku lagi kemudian berkata, "Kamu mau aku antar sampai Stasiun Central lalu aku belikan kamu eskrim coklat atau kamu mau aku antar sampai rumah?" tanyamu. "Aku harus segera kembali ke Ulladulla malam ini mengerjakan pekerjaan yang belum selesai dan pulang ke rumah. Anak-anak sudah menunggu. Jadi cepat putuskan pilihan mana yang sekiranya paling menyenangkan buatmu." lanjutmu.

Sekejap aku menimbang tawaranmu. Sepertinya belum terlalu malam jika aku pulang sendiri naik kereta. Lagipula siapa yang menolak ditawari eskrim selama itu tak bersianida. Namun aku teringat pada radang tenggorokan dan batuk yang mengganggu sejak kemarin, akibat terlalu banyak makan coklat.

"Hmm..nice try. You know I like chocolate so much. Tawaran yang menggiurkan tapi aku sedang batuk dan tak berniat memperparah kondisiku. Aku bilang kan, pagi tadi saat bangun tidur rasanya aku kehilangan suaraku. Jadi pilihanku yang kedua saja." jawabku.

"Pilihan yang kedua? Apa itu?" tanyamu dengan muka jahil mencandaiku lagi. " Ya ke rumah." jawabku singkat.

"Bisa kan bilangnya yang manis, please?" godamu tak henti sambil terus senyum jahil. "Okay. Would you like to take me home to Campsie, please? Please? Puas?!" jawabku kesal.

"Nah begitu kan kedengarannya lebih manis. Aku senang saat kamu bilang please..hehe.." balasmu lagi. Aku hanya menunjukkan muka malas namun sebenarnya menahan untuk tidak tertawa.

Aku hanya bisa mengingat mobilmu sedan berwarna abu-abu. Yang membuatku agak membelalakan mata adalah saat kulihat sign P hijau bertengger manis di plat mobilmu. Semoga mataku yang minus ini tak salah membedakan warna hijau dan merah saat tak pakai kacamata di malam hari. Tapi aku melihatnya tentu saja dari jarak yang sangat dekat. Hmm..masa iya selama hampir 13 tahun lamanya bermigrasi dari Perancis dan bermukim di Australia kamu baru sampai tahap P hijau. Tapi sejak tadi aku merasa tidak ada yang salah dengan caramu mengemudi. Selain mobilmu yang penuh abu rokok dan kebiasaan burukmu menelpon atau mengirim pesan saat mengemudi, rasanya kamu sudah berpengalaman menyetir mobil. Apalagi kulihat kamu sama sekali tak membutuhkan google maps. Itu artinya kamu cukup baik mengenal wilayah ini. Mengingat sebelum kepindahan mu ke Ulladulla, kamu pun bermukim di Sydney. Aku tak ingin berprasangka, mungkin memang kamu baru saja mendaftarkan diri untuk mendapatkan izin mengemudi ala New South Wales.The longest journey ever when you start it from the very beginning level. Lama dan penuh dengan segala macam handbook ujian untuk mencapai full license. Bahkan aku pun baru saja lulus pada tahap learner license alias anak kemarin sore.

Sekembalinya masuk dalam mobil, sebelum kamu menyalakan mesin, kamu mulai lagi melinting kertas dan tobako. Ini rokok ketiga sejak kita bertemu sore tadi. Tas hitam kecil itu berisi semua peralatan merokokmu. Kurasa itu jadi barang paling wajib dibawa dan ditenteng kemanapun kamu pergi. Mungkin kamu lebih rela ketinggalan telpon selulermu yang sudah retak itu daripada ketinggalan tas hitam kecil ini.

Kamu minta izin padaku untuk melakukan ritual melinting tobako lagi. Lalu aku bertanya mengapa tidak dilinting keseluruhannya sehingga mempermudah. Kamu bilang kamu lebih suka tobako yang fresh. Whatever pikirku dalam hati. Aku bahkan tak tahu bagaimana rasanya tobako seumur hidupku kecuali hanya menghirup ampasnya saja.

Then here again, kamu kembali menikmati kecanduanmu terhadap nikotin dan menyalakan mesin mobil. "Off to Campsie we go. Fasten your seatbelt, lady." katamu padaku. Lalu kita mulai menyusuri jalan di Surry Hills yang vintage dan retro ini. Kulihat sesekali kamu menenggak minuman berenergi itu lagi. Yang kukira sudah hampir habis tapi sepertinya kamu menikmatinya seteguk demi seteguk untuk menjaga rasa kantukmu datang. Sementara Sydney-Ulladulla masih membentang selama kurang lebih 4 atau 5 jam lagi, dan saat ini kamu berbaik hati mengantarku pulang ke Campsie terlebih dulu.

Tiba-tiba pikiranku terbawa pada suasana betapa kamu sangat bekerja keras melewati hari-hari setelah kepergian istrimu. Kamu harus bekerja memenuhi kebutuhan hidup anak-anak dan sekaligus menggantikan tugas istrimu untuk menjaga anak-anak. Bisa kubayangkan bagaimana jungkir baliknya hidupmu terlebih lagi harus menempuh jarak Ulladulla-Sydney setiap minggunya guna mengejar pekerjaan dan juga mengecek unit mu di Waterloo yang kamu sewakan. Hingga pada akhirnya kamu harus menyerahkan anak-anakmu pada seorang pengasuh. Beruntung kamu memiliki dua putri cantik yang solehah, yang sudah pandai menjaga dirinya berkat ajaran istrimu. Seandainya saja istrimu masih hidup, mungkin hidupmu akan lebih bahagia lagi. Mungkin kamu tidak perlu mencari orang lain. Mungkin kita tidak perlu bertemu dengan cara yang getir ini. Karena entah kenapa aku sangat percaya bahwa kamu tipikal pria cinta keluarga yang menjaga kesetiaan. Setidaknya itu yang bisa kunilai dari permukaan selama tiga minggu ini. Tiga minggu mengenalmu serasa lama. Lucu dan tak masuk akal. Tapi ini adanya.

Saat berhenti di persimpangan jalan karena lampu sudah berubah merah, tiba-tiba kamu membuyarkan lamunanku dan menunjuk ke arah kerumunan orang di salah satu bar di luar sana. "Mereka semua tidak akan pernah bisa menjadi muslim." katamu sambil terus menunggu lampu berubah hijau.

Dalam hatiku bergumam oh kemana lagi arah pembicaraanmu, mate. "Kenapa tidak bisa?" tanyaku balik.

"Karena kalau mereka masuk Islam mereka tidak bisa lagi minum minuman beralkohol dan party seperti itu." jawabmu.

Oh no, dalam hatiku kembali ketar-ketir jangan bilang kamu mau membahas lagi soal haram dan halal padaku ya. Benar saja dugaanku. Aku tau pasti kemana arah pembicaraan ini.

"Menurutmu alkohol itu haram tidak?" tanyanya padaku. "Ya jelas haram." jawabku singkat dan malas. "Darimana kamu tau? Itulah kenapa alasannya orang-orang yang tidak mengenal Islam jadi merasa takut pada Islam karena sebagian muslim sepertinya menakuti mereka dengan ucapan dan perkataan yang disampaikan oleh manusia bukan dari Al Qur'an. Bagiku sangat tidak masuk akal ketika seorang Bukhari atau Muslim menjadi lebih terpercaya daripada perkataan Allah di dalam Al Qur'an. Aku tidak bisa mempercayai sanad karena kemungkinan besarnya manusia bisa salah menafsirkan."

Damn right! He start it again. Arguing about sunnah. Oh Allah give me strength please, lead me the way. Aku dengan ilmu ku yang sangat cetek dengan enteng bilang bahwa hadis yang patut dijadikan rekomendasi adalah hadis shahih. Kemudian kamu tetap pada pendapatmu tak bisa percaya pada sanad yang katamu lemah sekalipun itu shahih.

Otak ku yang mulai stres mendengarkan setiap perkataanmu bertanya asal. "Kamu suka minum minuman beralkohol?" tanyaku cuek.

"Kadang-kadang aku minum" jawabmu sambil konsentrasi melajukan mobil. "Tapi itu kan haram." jawabku masih sama.
"Coba deh kamu lihat lagi di Al Qur'an apa saja yang diharamkan Allah. Kalau babi jelas haram dan aku nggak makan itu." jawabanmu buat aku kesal dan dongkol. Kamu seratus persen berhasil membuatku merasa jadi orang paling tolol bicara soal Islam. Aku harus akui bahwa kamu jauh lebih berilmu dan pintar. Pintar pada apa yang kamu yakini tentunya. Jika saja kamu pintar pada apa yang aku yakini, kamu pastinya akan jadi imam terbaik yang bisa membawaku ke surga. Oh no, aku mulai mengkhayal lagi. Jelas-jelas sedari tadi topik kita tak kunjung usai jika membahas soal keyakinan.

Setelah merasa tak tahu harus jawab apa aku kembali diam. Kamu terus melajukan mobilmu hingga kita memasuki wilayah Belmore dan kamu mulai kehilangan arah. "Aku biasa pergi ke Lakemba tapi belum pernah ke Campsie. Kamu ingat jalannya, nggak? Urutannya Belmore-Campsie-Lakemba, kan?" tanyamu tak pasti dan mulai ragu membelokkan mobil ke arah sebaliknya. "Urutannya Campsie-Belmore-Lakemba. Tapi aku nggak ngerti jalan. Apalagi ini malam. Aku nggak bisa lihat jelas bangunan-bangunannya." jawabku sama bingungnya.

Aku mengeluarkan telpon selulerku dan mengaktifkan mode GPS menuju aplikasi google maps dan mengetik Campsie NSW. "Kalau kamu bisa mencapai Canterbury Road mungkin lebih baik, dari situ nanti langsung masuk Beamish Street." kataku sambil terus memperhatikan google maps. Namun kamu sepertinya tidak terlalu percaya pada kemampuanku membaca peta lalu mulai membuka google maps lewat telpon selulermu sendiri. Seandainya kamu tahu aku adalah sedikit dari wanita yang bisa langsung mencerna peta dan navigasi sedikit lebih akurat dari kebanyakan wanita yang lemah dalam urusan ini.

Tapi ya sudahlah toh otak kirimu bekerja dua kali lebih cepat daripada punyaku saat kamu memilih arah yang berlawanan dengan Canterbury Road dan menemukan jalan lain hingga kita tiba di Ninth Avenue. Sampai disitu aku tidak perlu lagi google maps karena 8 bulan di Campsie membuatku sudah paham dan hapal jalan sekitar sini.

"Turn right please. Turn left please. Turn right please. Turn left and slowly." kataku memberimu petunjuk sampai akhirnya kita tiba di Frederick Street tepat di depan unit ku tinggal.

Sekali lagi kamu bertindak serampangan dengan memarkirkan mobil tepat di depan jalan masuk gedung unit ku tinggal. Aku berharap semoga tetangga ku sudah pulang kandang semua sehingga tidak perlu ada drama mengganggu jalan masuk mobil menuju tempat parkir di halaman belakang.

Kamu mematikan mesin dan lampu mobil. Lalu kamu mulai menatapku lagi. Kita hening sejenak saling berpandang dan berbalas senyum. Rupanya tak berakhir sampai disitu. "Muka kamu seperti masih ada yang mengganjal. Please tell me something. Mumpung aku masih ada disini. Aku nggak mau buat kamu stres, okay? Jadi please bilang apapun yang masih mengganjal di hati kamu." katamu. Kemudian kamu mulai meminta izin melinting satu rokok lagi padaku. Si trouble maker satu ini mungkin punya indra keenam seperti cenayang atau memang air muka dan bahasa tubuhku yang terpampang jelas menyimpan kegamangan. Sehingga dia bisa tahu aku memang merasa belum final dengan semua ini.

Bukan. Bukan berarti aku mentah-mentah menerima semua penjelasan kamu tentang keyakinanmu. Tapi semata-mata hanya terkait perasaanku yang sangat sensitif dan mulai merasakan perbedaan tatkala kamu mewarnai hari-hariku belakangan ini. Aku tau itu semua masalahku pribadi. Kamu tidak bertanggung jawab atas perasaanku sama sekali. Di perkenalan kita yang singkat ini kamu cukup fair menjabarkan siapa kamu dan apa keinginanmu dengan gamblang dan straight to the poin. Kamu selalu bilang padaku kamu tidak punya banyak waktu untuk melakukan pendekatan dengan wanita karena pernikahan sepertinya bukanlah hal yang relevan lagi bagimu saat ini. Mungkin yang kamu anggap lebih relevan adalah konsep halal mu yang sungguh tak relevan bagiku.

Di tengah kegamanganku kamu memecah sunyi sambil menunduk sedikit melihat ke atas langit lewat kaca depan mobil. Malam ini langit Campsie cerah sekali. Aku bahkan tak pernah tahu Campsie bisa seindah ini saat malam karena aku selalu sudah terlelap di kasur. Kamu masih menunjuk-nunjuk rasi bintang di atas sana seperti anak kecil yang kegirangan dibawa main ke planetarium. Tapi dalam hati aku bisa membaca gelagat mu kemana arah pembicaraan rasi bintang ini.

"Kamu lihat di atas sana itu apa?" tanyamu. Supaya lebih drama aku ikutan menunduk dan menatap ke atas langit. Jika ada yang melihat kita berdua dalam mobil menengadahkan kepala dan menunjuk-nunjuk ke arah langit, mungkin orang akan berpikir bahwa kita dua orang gila yang kurang kerjaan. "Scorpion." jawabku sekenanya karena memang bentuknya mirip rasi itu. Kamu tau aku malas menjawabnya. "Nah, ini murni tentang pelajaran astrologi kok. Aku mau tau aja bagaimana sistem pembelajaran di Indonesia tentang astrologi." katamu bohong sambil senyum menggodaku. Sementara aku sudah tau dan bisa menebak ini bukan cuma soal ilmu astrologi tapi agama. "Ayo itu apa di atas sana? Masa kamu butuh 5 menit sih buat jawab pertanyaan mudah seperti ini?" sekali lagi kamu membodohiku trouble maker. "Iya itu bintang!" jawabku kesal. "Hehehe nah gitu maksudku. Terus menurut kamu bintang itu seberapa besar dan seberapa jauh?" tanyamu berikutnya. "Besaaarr dan jauuhh." jawabku hiperbola. "Bintang itu memancarkan cahaya dari mana?" tanyamu lagi. "Matahari." jawabku bodoh luar biasa dan langsung disambut tawa renyahmu.

Seketika aku tersadar pada pelajaran sistem tata surya mengenai definisi bulan dan bintang. Kemudian merutuki diriku sendiri dalam hati yang bisa begitu bodohnya menjawab asal-asalan pertanyaan yang semua anak sekolah dasar atau mungkin bahkan anak balita tahu jawabannya. Bahwa matahari adalah termasuk salah satu bintang saja dari ratusan atau mungkin ribuan bintang di galaksi yang tak pernah kita ketahui keberadaannya.

Dan kamu mulai lagi berkata wahai trouble maker, "Matahari cuma salah satu bintang yang kita ketahui keberadaannya karena dia menjadi pusat dari sistem tata surya kita. Padahal yang sebenarnya, di luar tata surya kita masih ada banyak sekali bintang yang memancarkan sinar lebih terang daripada matahari kita saat ini. Kamu lihat kan? Di saat malam seperti ini saja bintang-bintang yang jaraknya sangat jauh itu masih bisa kita lihat dengan mata telanjang, berkelap-kelip mengeluarkan cahaya. Imagine how big and shiny they are."

Dan aku yang telah sukses terlihat lebih bodoh daripada anak sekolah dasar ini, kembali terbius dengan permainan katamu. Bagiku sangat masuk akal apa yang kamu bilang barusan. Namun apa yang kamu bilang selanjutnya membuatku gila lagi.

"Di dalam Al Qur'an dikatakan bahwa akan ada kehidupan lain setelah kehidupan di dunia. Itu sangat masuk akal. Bagiku surga dan neraka pasti ada di sistem tata surya lain mengingat betapa banyak bintang di angkasa sana." katamu lagi. Aku hanya mengangguk-angguk tak jelas tanda setuju atau tidak. "Kamu pasti sekarang tambah berpikir kalau aku orang gila kan?" tanyamu lagi. Aku hanya menggeleng dan tersenyum. "I don't say you are crazy. Everything could just be happened. Ya mungkin saja kamu benar." jawabku tanpa perlawanan.

Lalu kamu kembali meneguk minuman berenergi yang tak habis-habis itu dan menyesap dalam satu tarikan terakhir rokok ketiga mu. Membuatku sedikit terbatuk dan kamu meminta maaf kesekian kalinya karena telah memperparah batuk ku dengan asap rokokmu. Hening kembali sejenak. The Beatles sudah setia menemani kita sejak dalam perjalanan dari Surry Hills tadi melalui M5 sampai ke Campsie. Entah setan mana yang membisiki ku sampai aku berani-beraninya memegang tanganmu dan kamu mulai merasa kikuk.

"See. I told you we should be halal first because it's not halal." katamu sambil geleng-geleng kepala dan menarik tangan. Setelahnya aku menunduk malu dan merasa sangat bersalah.

"You are very confusing. You said you can't accept me but then why you hold my hand? Why? Tell me." tanyamu kesal sedikit menunjukkan marah. Dan aku cuma bisa bilang sorry berkali-kali.

"I'm sorry. I don't mean to make you sad and dissapointed. Because I do also sad. Why should we meet while we have so many different like this." kataku emosional seperti ingin membuang saja rute perjalanan hidup bagian yang ketemu kamunya.

Lalu kamu mulai mereda dan berkata, "Pertemuan kita sudah diatur Allah. Kita ambil semua sisi positifnya. Kamu perempuan muslim yang cantik dan baik. Semoga kamu mendapatkan jodoh yang sesuai keyakinanmu dan disukai keluargamu. Bukan aku yang trouble maker ini. Senang bisa mengenalmu. I really mean it."

"Very nice to meet you too. I really mean it. You are the one and only man I meet from that site because you are different from them. That's why I finally decided to meet you up. But then I realize I can't be with you." kataku melemah.

"No worries. Nothings gonna be happened. We still keep in touch, okay. But please don't brother me, we're stranger. Take care yourself." itu kata-kata terakhir mu.

Setelah aku menyuruhnya untuk menjaga dirinya baik-baik juga, kemudian aku turun dari mobilnya. Kami masih saling memandangi satu sama lain. Dua wajah yang sama kecewanya setelah menyadari tak mungkin menyebrangi keyakinan satu sama lain.

Malam itu bintang-bintang menjadi saksi perpisahan kami. Kami hanyalah dua orang manusia biasa yang mungkin saja bisa saling mencintai namun terbentur pada prinsip-prinsip yang sangat hakiki.

Seketika aku merasa sangat benci kepada beberapa nama yang mencetuskan dan memecah belah kaum muslimin pada masa kekhalifahan sahabat nabi. Ya Nabi, solawat serta salam kusampaikan padamu. Seandainya kau masih hidup dan mendampingi umat mu menuju akhir zaman ini, mungkin semakin kokohlah iman kami. Namun Allah menguji kesabaran dan keimanan kami dengan cara Nya sendiri. Cara yang terkadang tak dapat kita pahami.

Ya Allah, Ya Karim. Hanya Kaulah yang mampu membolak-balikkan hati manusia. Kuatkanlah Iman Islam kami, matikanlah kami dalam keadaan Islam.

Kemudian aku merasa angin semakin dingin dan sayup-sayup aku mendengar suara mesin mobilmu menyala dan perlahan menjauh hilang.

Jika Allah mengizinkan kita masih bisa bertemu lagi setelah ini, kuharap Allah sedang membuat skenario lain untuk kita. Jika itu tak baik untuk kita, aku berharap kita bisa dipertemukan dengan orang lain yang lebih baik.

Je partirai. Au revoir.