Ayah, akan ku tuliskan sepenggal surat sederhana untuk mu, tak banyak yang ingin ku sampaikan, tapi aku hanya ingin berkata maaf atas segala hal yang aku lakukan kepada mu dan terima kasih atas segala hal yang kau lakukan untuk ku.

Ayah 1 tahun sudah kepergian ibu meninggalkan kita, meskipun beliau telah pergi namun sosok nya masih menghangatkan rumah kita, kenangan tentang nya masih menyelimuti rumah kita, bahkan rasanya masih ada beliau dirumah kita.

Ayah tak lama setelah kepergian ibu aku tahu kau mulai dekat dengan seorang wanita yang sampai saat ini aku pun belum tahu siapa dia, mungkin kau masih ragu, enggan untuk menceritakan semuanya kepadaku. Atau mungkin engkau malu kepadaku, tak apa ayah aku siap untuk menunggu semuanya.

Tapi ayah perlu kau ketahui, kau memang menutupi semuanya dariku. Tapi setiap tingkahmu, pergerakan mu dirumah, selalu ku perhatikan tanpa kau ceritakan apa pun aku sudah menduga kau sudah dekat dengan wanita lain yang mungkin kau kagumi setelah ibu tiada.

Ayah, usiaku sudah hampir 21 tahun. Banyak hal yang telah aku lewati sehingga semua menjadi kan ku anak perempuan yang bisa berfikir dewasa. Aku hanya minta satu hal kepada mu, jadikanlah aku “temanmu” teman yang bisa kau ajak bercerita, kau tak perlu malu untuk menceritakan itu kepada ku, atau kau takut aku akan berfikir hal buruk tentang mu, jika kau bercerita kau sedang dekat dengan wanita setelah ibu pergi.

Advertisement

Ayah, aku akan mencoba mengerti semuanya, kini usia ku bukan lagi belasan tahun, ibu pun meninggalkan aku ketika usia ku sudah hampir 20 tahun dan aku mulai berfikir dewasa. Banyak hal yang aku pikirkan untuk masa depan ku, tetapi aku juga memikirkan mu. Aku tak masalah jika ayah harus menikah lagi, karena aku berfikir ayah pun pasti membutuhkan teman hidup, membutuhkan pendamping untuk di hari tua ayah.

Ayah, sungguh aku rela dan tak apa jika kau sudah menemukan seseorang yang bisa membuatmu bahagia dan bisa terus menemani ayah, karena aku tahu aku tidak akan terus bisa menemani ayah sampai ayah tua nanti, aku tidak bisa terus disamping ayah, mengurus ayah seperti ibu, karena ayah pasti mengerti suatu saat nanti jika sudah tepat waktu nya aku akan menikah. Akan ada laki – laki yang datang ke ayah untuk meminta izin mempersuntingku dan aku yakin ayah pun akan merelakanku bersama dia.

Ketika aku menikah nanti, aku minta maaf jika aku harus meninggalkan ayah, bukan aku tak ingin berbakti kepada mu lagi dan tidak ingin menemanimu lagi, tapi karena kewajiban ku sebagai seorang istri kelak yang menuntutku untuk ikut kemana pun suamiku pergi, maka dari itu aku tidak akan pernah melarang ayah untuk menikah lagi.

Ayah, jangan sungkan, jangan ragu, untuk bercerita kepadaku, untuk meminta pendapatku, aku hanya berharap kau bukan hanya menganggapku sebagai anak yang tidak mengerti apa – apa tetapi anggap aku juga sebagai teman mu yang bisa kau dengarkan sarannya.

Layaknya engkau sebagai seorang ayah yang ingin putrinya bersama laki – laki yang pantas, aku pun sama, aku ingin ayah ku bersama dengan wanita yang pantas. Mungkin wanita itu tak akan pernah bisa menggantikan ibuku, tapi paling tidak wanita itu bisa memberikan cerita yang baru untuk kita terutama untuk ayah. Bukan hanya aku yang perlu restu dari ayah untuk bisa bersama pasanganku, tetapi bukan kah kau juga perlu restu dari aku untuk bisa bersama pasangan mu.

Ayah, jadikan aku sebagai temanmu, yang sarannya bisa menjadi bahan pertimbanganmu untuk memutuskan apakah dia layak atau tidak, aku memang tidak memiliki banyak pengalaman dalam hal cinta, tetapi paling tidak aku bisa menilai mana seseorang yang baik mana tidak,

Ayah, aku pun yakin ibu sudah merestui mu jika kau memang ingin menikah lagi, aku yakin ibu pun tak ingin kau hidup sendiri di hari tua mu nanti, ibu pasti ingin ada seseorang yang bisa menemani mu setelah beliau tiada, tetapi satu pesan ku ayah..

“Pilih lah seorang wanita yang paling baik diantara yang baik, pilih lah wanita yang sholehah, pilih lah wanita yang bukan hanya siap untuk menjadi istri mu tapi siap untuk menjadi ibu dari anak – anak mu”

Aku tak akan menuntut dia lebih dari itu dan meminta dia untuk sama seperti ibuku, karena bagaimana pun ibuku adalah yang terbaik dan tidak akan tergantikan.