Dua puluh tahun sudah sejak Tuhan mentakdirkanku lahir dan menjadi seorang putri pertama untukmu.

Dan akupun terlibat dengan semua urusan dunia ini.

Ayah, apa kiranya kau mengerti apa yang kini tengah membayangi pikiranku akhir-akhir ini? Hal yang membuatku menjadi sulit untuk sekedar memejamkan mata, hal yang membuatku memaksa logika dan hatiku untuk membantuku menemukan jawabannya.

Kurasa aku dapat menghitung berapa kali kita berbicara dalam lisan lewat indahnya kata-kata, berapa kali kau memintaku untuk sekedar membantu mencuci beberapa pakaian kotormu, berapa kali menyuruhku hanya untuk membuatkanmu teh panas sembari terbitnya matahari, berapa kali kita tertawa karena cerita lucu yang ku buat dengan sengaja. Aku bisa yah, aku bisa menghitung dengan benar hanya dengan jari tanganku. Oh Tuhan sedingin itukah kami?

Kau yang tak pandai bersua lebih memilih diam, tak mudah dengan sengaja mengungkapkan apapun yang sedang kau rasakan dan yang sekiranya tengah mengganggu tidurmu. Yah sepertinya memang benar kalau buah jatuh tak akan pernah jauh dari pohonnya.

Advertisement

Aku sama seperti dirimu, sangat sulit untukku merangkai kata dalam suara.

Sangat jarang pula aku bertemu dengan senyum lebarmu itu, apa mungkin kau lebih memilih sengaja untuk diam lagi?

Mataku berkaca-kaca hingga sampai akhirnya menjatuhkan airnya tanpa kuminta, saat teringat sejahat itukah aku yang tak mau mengerti pengorbanan yang teramat besar selama ini.

Setelah bertahun tahun lamanya mengapa saat ini aku baru sempat memikirkannya dan menganggap semua baik-baik saja. Kurasa kata maaf sajapun tak akan mampu menghapus rasa salahku padamu.

Ku tahu tak selamanya ucapan dan kata-kata adalah prioritas utama, karena sejatinya tindakanlah bukti yang paling nyata.

Kau selalu melakukan hal yang sejujurnya tak pernah sedikitpun aku dapat membayangkannya, kau memberi sesuatu yang memang ku inginkan namun tanpa pernah kuminta padamu dengan suara, kau tak pernah dengan sengaja memaksaku untuk melakukan hal yang memang tak pernah ku suka.

Dalam diammu padaku, aku tahu kau tak pernah diam dengan Tuhan untuk selalu menyematkan namaku di setiap untaian doa seusai sujudmu. Namun terkadang akupun tak menyadarinya.

Ayah mungkinkah kau mendengar kata-kata dalam hatiku dengan jelasnya? atau memang kau tahu tapi lebih memilih untuk tak bersuara? Ayah, untuk sekedar menanyakan hal itu padamu, aku rasa aku tak bisa dengan mudah melakukannya.

Maafkan aku sebagai putirmu yang selama ini mungkin hanya bisa memberimu rasa kecewa. Maafkan aku atas semua kesalahan, keegoisan bahkan terkadang ketidak pedulian selama ini. Maafkan aku sebagai putrimu yang hanya bisa mengucapkan kata maaf yang aku tahu itupun tak akan mampu menghapus semua hal yang pernah aku lakukan.

Terimakasih untuk cinta dan kasih sayang yang tak pernah berkurang meski aku tak begitu menyadarinya. Aku tak akan pernah lupa untuk terus melantunkan doa pada-Nya. Aku menyayangimu laki-laki terhebat yang Tuhan hadirkan dalam hidupku.

Aku telah belajar banyak hal dari satu kata yang bernama “diam”.

Sehat terus, tetap temani ibu, aku dan satu lagi putrimu.

Dariku yang tak bisa merangkai kata dalam suara.