Ayah, berapa usiaku sekarang? Sudah memasuki dua puluh, yah. Orang bilang, aku sudah memasuki usia dewasa. Orang bilang, aku sudah memasuki tahap dimana masalah datang dan aku harus mampu menyelesaikannya sendiri.

Tapi, Ayah. Aku tidak suka tumbuh dewasa. Aku ingin kembali menjadi putri kecilmu. Ingin sekali.

Aku rindu Ayah.

Aku rindu bangun di pagi hari dengan wajah Ayah tertidur pulas di sampingku. Aku akan menggelitiki Ayah hingga terbangun. Lalu kita tertawa bersama hingga sisa-sisa lelah di wajah Ayah hilang.

Aku rindu berangkat sekolah dengan tangan kekar Ayah membimbing tangan mungilku. Kita akan berjalan bersama hingga teras sekolahku. Lalu Ayah melambaikan tanganku setelah bibir tipisku mencium punggung tangan Ayah yang kokoh.

Aku rindu bermain ayunan di sore hari sembari menunggu ayah pulang bekerja. Lalu Ayah akan memasuki pekarangan rumah dengan sekantong apel kesukaanku. Aku akan berlari kecil memeluk Ayah dan kita masuk ke rumah bersama.

Advertisement

Aku rindu mengerjakan tugas sekolah di samping Ayah yang sedang menonton televisi di malam hari. Aku akan pura-pura tidak bisa agar tangan Ayah yang bergerak mengerjakan tugas sekolahku. Aku sangat suka melihat tulisan tangan Ayah yang penuh seni memenuhi halaman-halaman bukuku.

Aku rindu merengek di malam hari agar Ayah berusaha membuatku tertidur. Ayah akan menyanyikan lagu-lagu yang ayah ciptakan sendiri dengan suara berat Ayah. Ayah akan terus bernyanyi meski Ibu bilang aku sudah tertidur.

Aku rindu jatuh sakit dan membuat Ayah khawatir padaku. Ayah akan pulang lebih cepat dari biasanya, membawakan buku-buku dan kaset-kaset dongeng. Ayah bilang agar aku tak bosan berdiam diri di kamar selama aku sakit. Aku menyukainya, aku menyukai semua dongeng yang Ayah berikan.

Aku rindu melakukan hobi menggambarku di samping Ayah yang sedang lembur di rumah. Aku akan menemani Ayah meski Ibu berkali-kali menyuruhku tidur di kamar. Lalu aku dan Ayah akan mengobrol sangat banyak. Ayah akan memuji semua gambarku meski aku menghambur-hamburkan kertas Ayah.

Aku rindu berwisata dengan Ayah, menjelajahi berbagai tempat yang indah. Aku rindu duduk di samping Ayah yang sedang menyetir. Aku akan mengoceh di sepanjang perjalanan sehingga Ayah tak bosan menyetir. Aku akan menanyakan semua tempat yang kita lewati, “Ayah, Ini dimana?”, dan Ayah tak pernah bosan menjawabnya. Bersama Ayah, tak pernah ada perjalanan yang melelahkan.

Ayah adalah yang terbaik. Ayah yang mengenalkanku pada dunia seni, hingga seni menjadi jalan hidupku sekarang. Berkat masa kecilku yang sempurna, aku tumbuh menjadi anak yang punya cita-cita disaat teman-temanku masih bingung dengan arah hidupnya. Ya. Sebegitu sempurnanya peran Ayah dimataku.

Tapi, enam tahun yang lalu semuanya berubah.

Ayah, tahu? Aku menangis setiap kali melihat foto-foto masa kecilku bersama Ayah. Aku terluka setiap kali mengenang cerita-cerita kita yang indah. Terlalu banyak waktu yang kita habiskan bersama, membuatku sulit menjalani hidup tanpa Ayah.

Ayah, kita sudah tak lagi hidup dalam satu rumah. Pun, Ayah sudah sangat berubah. Aku terus bertanya-tanya. Kenapa kita yang dulu sedekat itu, sekarang bisa seasing ini? Aku sakit, sangat sakit memikirkannya.

Masalah Ayah dan Ibu membuatku tak mau memilih keduanya. Kuputuskan menjalani hidupku sendiri. Melewati masalah hidupku sendiri. Kupikir aku bisa, tapi ternyata tak mudah.

Ayah, seandainya situasi sekarang seperti dulu. Pasti aku sudah bersandar di bahu tegap Ayah. Membagi beban hidupku dan menceritakan semua keluh kesahku. Pasti rasanya tak akan seberat ini.

Andai, Ayah. Andai saja kita bisa pulang ke masa lalu. Aku mau menjemput kehidupanku yang dulu, Ayah yang dulu, rumah yang dulu. Aku mau membawanya ke masa sekarang.

Aku rindu, Ayah. Rindu ini berkali-kali melukaiku.

Setiap kali lagu-lagu Ayah terngiang, setiap aku membaca dongeng, setiap aku menonton film kartun, setiap aku menulis dan menggambar, setiap aku melihat buah apel, setiap aku dalam perjalanan jauh, aku akan ingat pada Ayah dan rindu. Menyiksa, bukan?

Tapi kuasaku tak sampai untuk membalikkan keadaan. Berkali-kali pun aku meminta pada Tuhan, segala yang telah digariskan akan tetap sama. Serindu apapun aku pada masa lalu, hidup tetaplah berjalan di masa sekarang.

Ayah, putri kecilmu sudah memasuki usia dewasa. Meski aku tak suka berada di tahap ini, aku tetap harus menjalaninya. Dan harus belajar untuk mendewasakan jiwaku. Mengikhlaskan yang terjadi, dan menyelipkan do’a agar suatu saat masih ada celah untuk kita bersama. Aku harus mampu berdamai dengan keadaan, iya ‘kan Ayah?