Ayah, ibu, jauh dari kalian aku rasanya seperti orang tersesat saja. Tersesat di dunia yang di mana aku tak mengenal siapapun. Sungguh keadaan ini bukanlah keinginanku dan juga bukan keinginan kalian untuk menciptakan jarak yang penuh rindu ini.

Tapi kita tak punya pilihan untuk tidak melakukan ini. Ayah, ibu, aku harus jadi orang hebat. Aku harus bisa menjadi anak yang berguna dan bisa jadi kebanggaan kalian. Meskipun itu aku harus menciptakan keadaan yang tak nyaman seperti ini.

Tapi ayah, ibu tenang saja, aku akan mengakhiri semua ini secepat mungkin. Yah tentu saja, aku akan cepat-cepat mengakhiri perjalanan-yang membuat jarak antara aku dengan kalian-ini.

Ayah, ibu, aku sepertinya sudah lelah. Tapi ini bukannya lelah berjuang di sini yah, bu, hanya saja aku lelah cemburu dan merindu.

Cemburu yang tatkala mendengar teman-temanku bercerita tentang orang tua mereka, yang saat mereka punya tugas kuliah yang deadline, mereka bisa mengadu pada ibu mereka layaknya sahabat mereka sendiri, sedangkan aku tak bisa berbicara dengan kalian bahkan lewat telephone sekalipun.

Advertisement

Ini baru tentang cerita teman, apalagi kalau lihat mereka jalan bareng, kan akunya jadi baper, Yah, Bu. Terus kalau sudah seperti itu, jangan tanyakan lagi bagaimana rindu pada kalian membara dengan cepatnya dan memenuhi dadaku dengan sesaknya.

Ayah, ibu, aku ingin cepat mengakhiri rasa cemburu dan rindu ini. Aku juga ingin kalian mengunjungiku ke tempat rantauan ini, tapi aku sadar betapa egoisnya aku dengan keinginanku itu. Aku bukannya akan mengurangi beban kalian jika kalian berkunjung, aku justru menambahnya saja.

Ayah, ibu, doakan saja aku agar selalu dalam lindungan-Nya dan menyelesaikan pertarungan ini secepat mungkin, lalu berkumpul bersama kalian lagi. Aku di sini juga akan mencoba sebaik mungkin di sini.

Kalian di sana baik-baik saja, tetap sehat dan jangan pernah sakit. Aku punya banyak hal yang aku ceritakan pada kalian, my beloved parents.