"Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca Hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim"

17 tahun yang lalu, aku memulai hidup di dunia ini. Masih jadi seorang bayi yang penuh tangisan. Kau telah bersusah payah untuk kehidupanku. Ketika aku mulai mengerti cara berjalan, dan berbicara. Kau adalah lelaki pertama yang aku kenal, yang  tak pernah lelah menjagaku. Kau selalu menolongku ketika aku hampir terjatuh. Kau yang selalu menggendongku ketika aku menangis. Kau selalu menuruti apa yang aku minta, tapi bukan memanjakanku. Kau buat aku mengenal hidup.

Ayah, 

Kini, ketika aku sudah berusia 17 tahun, aku masih sering jadi anak kecil yang selalu merepotkanmu. Tubuhmu yang kian kering, dan hitam legam terkena panasnya matahari, tak pernah kau keluhkan. Kau selalu berusaha membahagiakan keluargamu. Menuruti semua permintaanku. Bekerja dimanapun, asal kau bisa menurutiku, pasti akan kau lakukan. Meninggalkan rumah untuk bekerja dalam waktu yang tidak sebentar sudah jadi kebiasaanmu. 

Aku tahu, Kau pasti sudah mulai lelah. Tapi kau selalu mengatakan bahwa hidupku masih menjadi tanggung jawabmu. Kau tak pernah sedikitpun mencoba melepaskan tanggung jawabmu itu. Ketika aku mengeluh di tanah perantauan, kau selalu menguatkanku. Walaupun kadang, rasa rindu memaksamu untuk mengatakan bahwa kau ingin aku pulang menemuimu. Walaupun aku tak pernah bisa menuruti keinginanmu, tapi Kau selalu bisa mengerti. Kau tak pernah memaksakan keinginanmu. 

Advertisement

Kau yang selalu membimbingku. Yang selalu menguatkanku ketika aku ingin menyerah. Yang tak pernah marah ketika aku berbuat salah.

Maafkan aku Ayah, aku belum bisa memerdekakan masa tuamu. Tapi percayalah, aku akan segera melakukannya.