Ayah, satu kata yang tidak akan pernah bisa digambarkan bagaimana sosoknya. Seberapa banyak keterangan untuk menjelaskannya pun rasanya tak akan pernah cukup. Kerja keras dan kasih sayangnya yang kian hari kian berarti, tak akan pernah sebanding jika mau dibalasnya.

Seorang Ayah mungkin perangainya terkenal keras dan tegas, tak jarang sering mengekang dan membentak. Terlebih bagi seorang wanita, hal-hal yang demikian pasti sering ia dapatkan. Tak hanya waktu kecil saja, ketika seorang wanita akan memilih pendamping hidup pun seorang ayah tak akan dengan mudahnya melepaskan anaknya ke tangan seorang pria.

Bagi seorang wanita dewasa yang sudah cukup umurnya untuk mencari pendamping hidup, tak jarang selalu melihat kembali sosok ayah pada pria yang akan menyandinginya. “apakah priaku nanti bisa seperti ayah?” “apakah priaku nanti bisa sebaik dan setangguh ayah?” pertanyaan-pertanyaan itu sesekali terlintas di pikiran seorang wanita. Karena bagaimanapun, pria yang tak akan pernah menyakitinya hanyalah ayahnya, ayahnya lah satu-satunya pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya. Sehingga tak jarang, banyak wanita yang mengidolakan ayahnya dan menjadikannya sebagai model untuk mencari pendamping hidupnya kelak.

Sosok ayah sangat berbeda dengan ibu, jika ibu sangatlah perhatian dan pengertian pada anaknya, mungkin tidak demikian dengan ayah. Memang benar bahwa derajat ibu 3 tingkat lebih tinggi dibanding ayah dan surga juga terletak di bawah telapak kaki ibu. Lalu kenapa seorang ayah mesti harus keras dalam mendidik anaknya, sedang surga tak ada di telapak kakinya, kenapa?

Ayah adalah sosok yang tegas, kuat, tangguh dalam mendidik, melindungi, berkorban serta memberi nafkah untuk keluarga, hanya karena tak ingin terlihat lemah, maka seorang ayah selalu berusaha menunjukkan kepada anak dan keluarganya bahwa ia memang pria kuat, hingga terkadang ia bersikap terlihat kasar. Tidak ada bedanya dengan pengorbanan seorang ibu yang sudah susah payah mengandung, melahirkan dan merawat seorang anak, seorang ayah pun juga sedemikian beratnya. Menopang semua beban keluarga karena gelar yang disandangnya yaitu sebagai pemimpin rumah tangga, dengan demikian tentu seorang ayah sangat tidak ingin terlihat gagal dalam memimpin keluarga.

Advertisement

Teruntuk ayah, kini kutulis beberapa bait perasaan yang dari dulu tak sempat aku ucapkan, walaupun tulisan ini juga belum bisa menggambarkan perasaanku saat ini pada ayah, namun setidaknya aku berani menulisnya. Kita hanya terpisah oleh lautan, hati dan perasaan kita masih selalu bertautan.

Ayah… Engkau memang bukan pria yang selalu berpakaian rapi dan berdasi, yang berangkat pagi dengan bau wangi menyelimuti, namun bagiku Engkau adalah pria tangguh dan sejati yang pernah aku temui.

Ayah… Engkau memang tak bergelar sarjana, tidak pula berpangkat perwira atau semacamnya, namun bagiku tak henti-hentinya Engkau selalu membuatku bangga.

Ayah…Engkau memang bukan pria yang memberiku hadiah ketika aku ultah, bukan pula seorang pria yang mengajakku rekreasi saat aku mendapatkan prestasi, namun bagiku Engkau adalah pria hebat yang selalu aku kagumi.

Ayah…

Maafkan anakmu ini, ayah…

Anakmu memang bukan orang yang pandai bilang rindu padamu, bukan pula orang yang bisa bilang cinta dengan mudahnya. Namun jika Engkau tau ayah, di buku diary-ku penuh dengan cerita tentangmu, yang selalu kutulis dan berulang kali kubaca saat rindu melanda.

Sejak aku tak lagi tinggal serumah denganmu ayah, aku tak pernah lagi mendengar suaramu yang lantang saat marah, meski dulu aku sempat menggerutu namun ternyata yang seperti itu justru bikin anakmu ini semakin rindu. Aku selalu ingat dengan pesan ayah “jangan pernah takut selama tak bersalah, jangan pernah merasa malu selama itu benar”, iyaa ayah sampai sekarang kalimat itu selalu terngiang-ngiang di telinga anakmu ini.

Ayah…Engkau memang bukan pria yang suka memanjakan anakmu ini, dari situ aku belajar menjadi anak mandiri. Dulu aku sempat iri pada teman-temanku yang selalu bisa pamer kemesraan dengan ayahnya pamer kemesraan dengan keluarganya, namun yang seperti memang tak pernah aku dapatkan di keluarga kita. Namun sekarang aku sadar bahwa setiap ayah punya cara masing-masing untuk membahagiakan anaknya, termasuk juga ayah.

Ayah ingin sekali aku bilang rindu padamu

Ayah ingin sekali aku bilang sayang padamu

Ayah ingin sekali aku meminta maaf atas semua tingkah burukku

Ayah… maafkan anakmu ini ayah… meski aku tak pernah mengaku, tetap kamu satu-satunya pria yang membuatku selalu rindu.

Yang lagi di perantauan, anakmu.