Sebagai organisasi terkecil, keluarga masing-masing kita bagai sekolah dan madrasah. Disanalah mula-mula kita belajar tentang membaca dan mengeja tanpa pernah menyerah. Disanalah kita belajar menahan diri bahwa tidak semua keinginan kita selalu dipenuhi oleh orang tua dengan mudah. Dan disana pula kita belajar bagaimana cara menghadapi perbedaan pendapat dengan orang tua dan saudara dengan lapang dada dan tabah, terutama denganmu Ayah.

Darimulah Aku Belajar Makna Taguh Pendirian

Pernah suatu kali aku kau ajak ke salah satu pertemuan orang-orang tua sebayamu, lalu kulihat engkau berbeda pendapat dengan mereka. Beberapa dalil kau jadikan dasar atas pendapatmu yang tak bisa diterima mereka. Beberapa logika pun kau ajukan sebagai penguatnya, fakta-fakta pun kau paparkan dengan seksama. Sampai akhirnya, para peserta yang hadir tidak lagi punya dalih lagi untuk menolaknya.

Nyatanya semua itu tidak hanya kulihat darimu sekali dua, sampai tertanam dalam otak bawah sadarku bahwa ketika kita punya pendapat maka harus di perjuangkan. Selagi ia tidak menabrak norma-norma apapun yang harus dipertimbangkan. Dan bahwa jika suatu ketika pendapat kita harus dikompromikan, kita harus tabah melakukannya, asal tidak dalam hal yang jelas di larang Tuhan.

Darimulah Aku Belajar Memikul Resiko Atas Prinsip yang Harus Diperjuangkan

Advertisement

Kebaikan tidak akan teratur berjalan tanpa perjuangan, demikian kau selalu menasehatiku berulang kali. Dan itu pula yang aku lihat darimu saat menghadapi anak-anak muda desa yang mulai tak terkontrol berhura-hura dan mabuk di perempatan tiap malam.

Ketika masyarakat hanya membicarakan mereka dibelakang, ketika para pejabat desa bahkan diam saat melihat kekacauan yang demikian, engkau melakukan lobi-lobi dengan orang-orang tua yang masih punya hati. Lalu berkumpullah semua undangan, termasuk anak-anak muda itu.

Pada pertemuan itulah aku melihat pertama kali engkau begitu diremehkan, dicemooh sok alim dan sebagainya, tapi toh engkau biasa saja, kau hadapi semua dengan dingin kepala. “Itulah resiko perjuangan” demikian kau memberi jawaban atas pertanyaanku.

Aku Tetap Anakmu Meski Kata Orang Kita Berbeda Jalan

Roda waktu berputar begitu cepatnya, tak terasa anakmu ini sudah lulus kuliah. Meski aku tidak mengambil jalan perjuangan yang sama persis denganmu di masyarakat, tapi aku sadar sepenuhnya, semuanya nanti akan tertuju kesatu jalan, ayah.

Ketika tempo hari masyarakat kita geger dengan beberapa kelakuan anak-anak muda di lingkungan sekitar kita, aku dan beberapa teman merasa terpanggil untuk ikut serta berperan mendampingi mereka. Kita buatkan wadah untuk mereka mengaktualisasikan diri agar lebih terorganisir. Olah raga dan skill training coba kita lakukan.

Ternyata, dari sanalah engkau mulai mempertanyakan sikapku. Engkau pertanyakan kenapa mereka tidak dibina langsung dibawah organisasi keislaman. Kenapa malah dibuatkan wadah olah raga dan kewirausahaan. Kini kau khawatir aku akan terjerumus sama seperti anak-anak muda itu kerjakan.

Ayah, percayalah pada anakmu ini. Jangan terlalu mendengarkan kata orang-orang itu. Bukankah kau yang selalu mengajariku tentang apa itu perjuangan dalam kebaikan? Ya, ini hanya salah satu starteginya, ayah. Meski dari luar terlihat berbeda, Insyaalloh semua akan menuju jalan yang sama.

Zaman Twitter, Facebook dan social media membuat tantangan kita berbeda ayah, begitupun strateginya. Dan ini yang sedang kita lakukan disini. Kita sedang melakukan apa yang kata Islamic scholar katakan “mengambil bahaya terkecil dari dua bahaya yang menghadang”. Dari pada mereka tetap membuang masa muda dengan mabuk-mabukan, kita buatkan saja kompetisi olah raga dan kegiatan wirausaha yang menantang adrenalin mereka.

Teruslah Berdoa Untuk Kebaikan Anakmu Ini, Ayah

Aku sadar, tidak semua yang aku lakukan ini selalu berhasil dengan mudah, Ayah. Terkahir kali aku ikut komopetisi business plan proposalku tidak masuk nominasi. Usaha anak-anak KKC (begitu kita menyebutnya) yang harusnya sudah mulai ternyata harus tertunda lagi. Kali ini aku merasa kalah denganmu.

Sedikit kabar baiknya, anak-anak sekarang sudah jarang nongkrong tanpa tujuan diperempatan Ayah. Olah raga sore yang kita buatkan ternyata membuat tenaga mereka tersalurkan dengan bermanfaat. Tidak ada lagi komplen dari masyarakat tentang track-trackan yang biasa mereka lakukan.

Namun begitu, doamulah yang selalu aku harapkan, nasehatmulah yang selalu ku nantikan. Agar kami semua yang sedang bergerak dalam kebaikan ini selalu gigih berjuang, selalu dalam kebaikan yang kita cita-citakan.