Perjalanan membawaku pada suatu kisah.
Kisah diantara bentangan aspal yang menjadi saksi bagaimana kebahagian itu tercipta.
Seorang yang menikmati bagaimana cara hidup itu sebenarnya.
Pertama aku mengerti saat melihat bapak-bapak pengayuh odong-odong di lampu merah depan walikota.
Berhenti dengan musik dangdut yang diputarnya di lampu lalu menggerakkan badannya sedikit dan bibirnya terlihat mengikuti lagu dangdut yang diputarnya.
Senyuman kecil terbentuk melihat pemandangan yang begitu menyejukkan hati tersebut.
Itukah bahagia dari sudut pandang seorang bapak pengayuh odong-odong ?

Senyuman para tetangga setiap pagi ketika aku berangkat kerja.
Melihat para anak-anak diantar sekolah oleh orangtuanya.
Melihat SD yang dipenuhi dengan tawa anak-anak.
Itukah bahagia ?

Menonton video pendek tentang anak-anak kekurangn gizi di Afrika.
Melihat bagaimana mereka bermain dan tertawa dengan keadaan yang serba kekurangan.
Melihat bagaimana tangan-tangan mereka yang sudah hampir busuk karena terkena penyakit kulit menggengggam lolipop yang dihinggapi lalat , namun mereka masih bisa tertawa.
Itukah bahagia menurut mereka?
Dalam keadaan seperti itupun mereka masih bisa tertawa.
Bagaimana denganmu ?
Kau mungkin saja menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak penting.
Lalu bersedih saat tidak ad uang.
Dimanakah rasa bersyukurmu?

Melihat bapak tua penjual kue bambu di pinggir jalan setiap sore menjelang magrib.
Duduk dengan beralaskan koran, duduk di depan tembok rumah orang kaya, menunggu pelanggan yang datang.
Ketika kue bambunya diborong, aku melihat senyum kebahagian dan penuh rasa bersyukur ada dalam matanya.
Itukah bahagia menurutnya?

Seorang bibi bibi tua berbadan kurus yang selalu siap membawa belanjaan mamaku yang sangat berat.
Dia begitu kuat. Dia lebih kuat dengan aku dan mama yang masi muda.
Dia tersenyum bersyukur saat uang lima ribu rupiah diterimanya sebagai upah.
Hari-hari besoknya dia selalu bertanya saat aku dan mama ke pasar, ada yang perlu dibawakan?
Dilain waktu aku melihatnya membawakan orang lain barang belanjaan,
Uang dua ribu rupiah yang diterimanya tidak membuatnya kecewa.
Dia tetap tersenyum bersyukur dan dengan semangat yang masih kuat dia kembali ke dalam pasar.
Begitukah bahagia menurutnya?

Advertisement

Wanita dan pria yang sedang berboncengan berdua tertawa bersama.
Seorang lelaki paruh baya bersama seorang anak TK tertawa bersama.
Seorang ibu-ibu bersama anak balitanya, membawa balitanya ke PIN untuk diimunisasi polio tertawa melihat tingkah anaknya.

Seorang perawat yang puas ketika pasiennya dibolehkan pulang karena sudah sembuh.
Seorang penjual sapu ijuk tua renta yang tersenyum bahagia saat sapu ijuknya masih.
Begitukah bahagia menurut mereka?

Bagaimana bahagia menurutmu?
Menurutku,
BAHAGIA itu BERSYUKUR 🙂