Lira berjingkat memasuki ruang kerja ibunya. Menatap lekat ke arah pojok, mengendap diam-diam hendak menangkap handel laci mesin jahit.

“Sedang apa kau?” tegur ibunya yang berjalan masuk. Lira meringis menyerah dengan tindakannya yang ketahuan.

“Boleh aku pinjam jarum?”

“Untuk apa?” tanya ibunya berjalan mendekat

“Aku ingin menjahit hatiku.”

Advertisement

“Kenapa lagi? Bukankah baru kemarin kau menjahitnya?” sahut ibunya sambil meraih laci dan menyodorkan jarum simpanannya, di saat Lira menunduk malu untuk menerima jarum itu.

“Sepertinya, jahitannya terbuka.. mungkin kemarin aku belum menali mati akhir jahitannya.”

“Hm.. apakah Vinsa lagi yang merobekkannya?”

“Ya, tadi ia datang dan kembali memenuhi hatiku, mungkin jika ia sendirian hatiku akan baik-baik saja. Namun tadi ia masuk bersama kekasih barunya, hatiku jadi sesak menampung mereka sampai tak muat lagi dan akhirnya jahitan itu terlepas lagi. Bagaimana cara menjahit hati? Haruskah ibu yang menjahitnya? Bukankah ibu sangat pintar menjahit segala sesuatu?”

“Hmm..pekerjaan ibu banyak, lagipula jika ibu yang menjahitnya, lalu apa gunanya ibu mengajarimu menjahit?” sahut ibunya seraya beranjak untuk membeber kain di atas meja lebar di tengah ruang.

“Tapi, ibu lihat sendiri, aku tak bisa menjahit dengan baik. Bagaimana jika akhirnya hatiku membeku karena terbuka terlalu lama, kedinginan? Jadi bagaimana cara menjahit hati?” sahut Lira kecewa pada jawaban ibunya, “…. dan lagi bagaimana kalau mereka berdua membuat lubangnya semakin besar? Hati ini bisa putus terbelah-belah menjadi perca! Menjahitnya lagi pasti akan sangat sulit.”

“Kalau begitu tak usah dijahit.” jawab ibunya santai.

“Apa?”seru Lira shock, “Aku bisa mati tanpa hati ini!” protesnya.

“Kau takkan mati, jika Vinsa dan kekasih barunya sudah merusak hatimu, biarkan saja. Jika kau berusaha terus menjahitnya maka kau akan kelelahan sendiri, jadi biarkan saja, biarkan hingga mereka pergi sendiri atau datang orang lain membuatkan hati baru untukmu.”

“Omong kosong, mana ada seseorang yang mau membuatkan dan memberikan hati untukku!”

Ibu pun menghentikan aktivitasnya dan beralih menarik putrinya untuk duduk di sampingnya.

“Sayang, apa kau lupa jika kau memiliki Tuhan?” tanya sang ibu sembari membelai rambut panjang putrinya. “..Dia sudah janji pada kita, untuk takkan membiarkan kita kehilangan sesuatu. Kalau pun ada satu yang hilang, Tuhan pasti akan mengirimkan yang baru yang lebih baik. Jadi biarkan saja hati itu, hati yang lebih baik akan datang padamu. Tuhan hanya ingin mengganti hatimu dengan yang lebih luas dan lebih kuat. Kau hanya perlu bersabar menunggu, hanya sebentar. Seseorang yang membawa hati titipan Tuhan pasti akan segera tiba.”

“Apa ibu yakin demikian?”

“Ya. Tentu saja. Kalau pun sekarang belum datang juga, kau bisa meminjam hati ibu. Ibu selalu memiliki banyak ruang untukmu menggunakannya.”

“Mm.. apakah Tuhan juga sudah pernah mengganti hati ibu?”

“Hmm.. ya, sangat sering. Mungkin hati ibu sudah berganti ribuan kali, hingga sekarang hati ibu begitu lapang untuk bisa kau masuki bersama ayah dan adikmu, kalian berkejar-kejaran, bermain sepak bola, atau bahkan berlatih menembak. Bahkan saat ayahmu datang bersama teman wanitanya, hati ibu sekarang masih sangat luas. Pastinya akan tersedia ruang menginap juga untuk orang-orang yang nantinya tinggal di hatimu. Kita akan tinggal bersama dengan bahagia.”

“Lalu, siapa pengantar hati terbaru milik ibu itu? Yang membawa hati super kuat dan super lapang itu? Apa dia seseorang yang baik? Apakah dia orang yang hebat?”

“Bukan seseorang, melainkan dua orang! Terlalu berat pasti jika hanya satu orang membawa hati yang sangat besar. Lalu jika kau bertanya, apakah orang yang baik? Itu adalah pilihanmu untuk menjawab baik atau tidak. Karena kau, dan Adira adikmulah pembawa hati itu.”

“Aku dan Adira?”

“Ya. Kalian berdua. Ah, pasti kalian sudah lupa, karena kalian memang masih terlalu kecil saat membawanya untukku.”

“Hm.. benar, aku sungguh tak ingat, sungguh tak sadar jika telah melakukannya..” gumam Lira.

“Ya, begitulah nanti orang yang akan membawakan hati baru untukmu. Ia takkan merasa keberatan untuk datang kepadamu. Terkadang mungkin juga tak sadar. Sebab Tuhanlah yang mengatur.”

“Benarkah selalu begitu?”

“Buktikan saja sendiri!”