Bagaimana kalau begini?
Tiba-tiba tawa bertambun yang kita nikmati bersama dalam hitungan yang tak terbilang itu perlahan terbenam dalam alunan emosi antara kau:kau lalu aku:aku. Seperti kemarin, ketika mawar kedua belum sempat menyampaikan pesannya pada anggrek, ternyata musim angin telah merengguttnya tanpa ampun, akhirnya jatuhkan setiap putik demi putik, gugur. Kita (yang) berubah.

Bagaimana kalau begini?
Tiba-tiba kunci hatimu yang telah kau titipkan padaku terlepas oleh genggamku, tak tahunya wanita lain memungutnya. Padahal jelas kita masih terlena dalam langkah kaki yang beriring sejajar kanan-kiri. Lalu, akankah kau akan ambil dari genggamnya dan selipkan lagi pada genggamku? Kau (yang) Berubah.

Bagaimana kalau begini?
Tiba-tiba ruang membentang dan waktu merentang disebabkan oleh citamu-citaku. Jelas jarak semakin angkuh mengangkut kepedulian makan pagi dan malam kita nantinya. Lalu, akankah masih ada niatmu mengingatkanku menegakkan lagi memori berpilin kemarin-kemarin? Aku (yang) berubah.

Bagaimana kalau begini?
Tiba-tiba cerita kita terasa hambar oleh karena kau tahu aku, aku tahu kau, semua. Kisah baru seakan menjadi lama. Bahkan mulai eksposisi sampai resolusimu yang berulang-ulang kita putar kemarin, senja tadi, esok, sampai lusa. Lalu, adakah niatmu untuk menguras kosong arus kehambaran itu dan menimba lagi cerita manis untuk kau isi lagi demi kita? Kita (yang) berubah.

Bumi mendadak layu, langit mengamuk geram, musim tak bersahabat. Malangnya, bahasa pun enggan hadir menjadi pahlawan bagi kita untuk memenangkan uji kesetiaan itu. Karena kau dan aku perlu tahu kalau semua bisa berubah dalam rahasia Sang waktu. Tapi tenanglah, hubungan kau dan aku, persahabatan kau dan aku, yang kita sujudkan dalam sunyi di hadapan Sang Khalik, itulah yang akan menolong kita merapat ke dermaga seberang tanpa terbuang.