Ada banyak cara mengungkapkan cinta. Tapi apakah benar rasa cinta bisa dinyatakan hanya dengan kata-kata “Aku mencintaimu”? Apakah kita bisa memberi tahu seseorang seberapa besar rasa sayang yang kita miliki untuknya hanya dengan pelukan? Ataukah bisa terwakili dengan perbuatan? Dengan barang-barang yang kita berikan untuknya? Atau justru dengan waktu yang kita habiskan bersama dengannya?

Jawabannya adalah: tidak ada yang bisa.

Menurutku seseorang tidak bisa betul-betul mengungkapkan apa yang dirasakannya, bagaimanapun caranya. Seorang ibu tidak bisa mengungkapkan seberapa besar rasa cinta yang ia miliki untuk anaknya, sebanyak apapun peluk dan cium yang ia berikan. Seseorang tidak bisa mengungkapkan kesungguhannya hanya dengan banyaknya langkah kaki dan jarak yang telah ia tempuh untuk sampai ke rumah orang yang dicintainya. Persahabatan bukan berarti selesai ketika waktu yang dihabiskan bersama tak sebanyak dulu lagi. Yang sekarang kita hadapi adalah sarana pengungkapan rasa yang begitu terbatas. Jadi bagaimana manusia bisa bertahan hidup dengan rasa cinta sebesar itu tanpa pernah betul-betul bisa mengungkapkannya? Karena bagaimanapun caranya, semua itu tidak sampai satu persen dari apa yang sebenarnya ingin kita ungkapkan.

Ini karena sedikit demi sedikit, tanpa kita sadari, kita membagi memori dan perasaan pada benda-benda mati yang ada di sekeliling kita. Agak aneh ketika kita secara tidak sengaja memasukkan perasaan pada benda mati. Tapi itulah yang terjadi. Seperti kata Tyler Durden, “The things you own, end up owning you.” Kita merasa memiliki benda-benda, padahal benda-benda itulah yang memiliki kita pada akhirnya. Karena kita memasukkan perasaan kepada mereka. “Mobil ini aku beli dengan susah payah.”,“Cincin ini mengikat cinta kami.”, “Bunga ini pemberian dari orang yang aku sayangi.” Dan ketika benda-benda itu hilang, kita merasa lebih emosional daripada yang seharusnya karena ada perasaan yang terbawa pergi.

Lagu adalah mesin waktu. Sebenarnya lebih tepat disebut mesin perasaan, kalau itu bisa dianggap sebuah alat. Ia adalah tempat sempurna yang banyak orang masukkan perasaan ke dalamnya. Musik sebenarnya hanya gabungan suara-suara yang dihasilkan dari berbagai benda mati (ditambah makhluk hidup ketika ada suara manusia di dalamnya). Tapi efeknya magis. Kamu bisa mengingat jelas apa yang terjadi dan kamu rasakan 10 tahun lalu ketika mendengar sebuah lagu. Bukan hanya mengingat. Kamu bahkan bisa merasakannya lagi. Seakan kamu sedang jatuh cinta, sekarang. Seakan kamu baru saja berpisah dengan orang yang kamu cintai, sekarang. Maka aku pikir kita bisa sepakat bahwa lagu adalah sebuah mesin perasaan?

Advertisement

Lalu ada tempat-tempat. Rumah, restoran, jalanan, taman, hutan, pantai. Tempat di mana banyak hal terjadi, tak lagi jadi sekadar sebuah tempat. Mereka berubah jadi kenangan. Setiap sudut dan materi yang berada di dalamnya berubah jadi sarana penumpahan rasa. Kita juga membagikan perasaan pada cuaca dan waktu. Hujan, matahari yang terbenam, siang dan malam. Mereka datang silih berganti dengan perannya masing-masing agar manusia bisa dengan mudah mengingat dan membagi perasaannya.

Ada milyaran orang di dunia. Maka berarti ada milyaran perasaan dan milyaran peristiwa yang terjadi setiap hari. Manusia tidak sanggup menampung semua itu. Banyak yang merasa sudah membagi banyak perasaan dengan manusia lain, tapi itu adalah pekerjaan yang sangat sulit dan hampir mustahil. Maka akhirnya kita berbagi dan bercerita tentang apa yang kita rasakan pada musik, pada foto, pada cuaca, pada aroma, pada langit. Agar kita tidak terseret arus. Agar kita tidak meledak. Agar kita tidak mati karena cinta. Karena itu bisa sangat mungkin terjadi.