Ibu, sepanjang hidupku kau adalah sahabat terbaik yang selalu mendengarkan segalanya. Kau selalu memahamiku, mengerti apa yang aku inginkan, bahkan terkadang bisa menebak isi pikiranku yang belum kubicarakan. Kau selalu menjadi sumber motivasi dan sosok yang masa depan yang kuinginkan. Kata-kata, senyum dan pelukmu, adalah hal-hal terbaik yang selalu kusyukuri.

Ibu, bukankah aku tidak pernah menyimpan rahasia darimu? Maka kali ini, biarlah kuceritakan tentang seorang lelaki kepadamu.

Dia setia mendengarkan cerita-ceritaku, apa saja, dan menanggapinya seperti seorang sahabat yang baik.

Aku selalu bercerita tentang apa saja, bahkan hal konyol sekalipun, seperti misalnya ketika aku kesal karena tidak sempat sarapan pagi. Dia setia mendengarkannya, tidak pernah bosan dan selalu menyediakan telinga untuk kurecoki. Ketika aku merasa lelah dengan pekerjaan dan rutinitasku, dia akan menghibur dengan cara sederhana dan meyakinkan bahwa tidak ada hal yang tidak bisa kupenuhi.

Dia menghadapi dan menyelesaikan pertengkaran-pertengkaran kami dengan cara yang dewasa.

Advertisement

Ibu tentu tahu bahwa aku terlalu sering bersikap manja dan sangat perasa pada semua hal, sekecil apapun itu. Ketika aku mulai bertingkah kekanakan, tidak mau mengalah dan hanya bisa merajuk, dia selalu sabar menghadapiku. Dia menunjukkan padaku bahwa sebuah masalah seharusnya diselesaikan dengan berkomunikasi, bukannya dengan diam dan menjauh pergi tanpa ada penjelasan. Dia menjadi sosok dewasa yang memberikan contoh padaku tentang semua itu, membuatku menyadari kekuranganku dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi di kemudian hari.

Dia menerima seluruh diriku tanpa kecuali.

Ibu juga tahu bahwa aku tidak pandai berdandan cantik seperti gadis lain. Aku tidak sanggup memakai high heels. Aku cenderung cuek pada pakaian dan benda-benda yang kupakai. Tapi dia tidak pernah keberatan, Ibu. Dia tidak pernah memintaku menjadi sosok lain selain diriku sendiri. Dia tidak malu mengajakku nonton ke bioskop sekalipun aku hanya memakai sandal jepit butut kesayanganku. Dia tidak pernah malu mengenalkanku kepada teman-temannya. Dia bahkan tertawa bersamaku ketika aku bercerita tentang kekonyolanku yang berkali-kali gagal memakai eyeliner. Dia tahu aku tidak pandai memasak, tapi dia menghabiskan masakanku sambil tersenyum dan kemudian mengucapkan terimakasih.

Dia tidak romantis, tapi dia menunjukkan perasaannya lewat banyak perbuatan.

Aku masih gadis yang romantis dan melankolis seperti biasanya, Ibu. Aku masih senang menulis puisi. Aku pernah bermimpi memiliki lelaki yang suatu pagi akan meletakkan selembar kertas berisi puisi yang dia tulis untukku di atas meja makan. Tapi dia bukan lelaki semacam itu, Ibu. Dia tidak romantis. Dia lelaki yang akan mengajakku makan pukul 9 malam ketika tahu aku belum makan malam. Dia lelaki yang akan membawakanku sekotak besar kue hanya karena aku berkata ingin makan sepotong kue dari toko itu. Dia lelaki yang tidak malu menemaniku menonton event kesukaanku yang kebayakan dihadiri perempuan. Dia lelaki yang akan memasang wajah penuh kekhawatiran yang tulus ketika melihat aku sakit. Dia lelaki yang menjadi pembaca setia tulisan-tulisanku dan memotivasiku untuk terus menulis.

Dia tidak pernah gengsi untuk selalu mengucapkan tolong, maaf dan terimakasih.

Setiap kali dia merasa kerepotan dengan tugas-tugasnya, dia tidak pernah merasa gengsi untuk meminta tolong padaku. Dan sebaliknya jika aku terlihat kesusahan, dia juga tidak segan menawarkan bantuan. Dia selalu mengucapkan maaf usai pertengkaran kami sekalipun masalah utamanya ada padaku. Dia sering sekali mengucapkan terimakasih untuk hal-hal kecil, semisal waktu yang kuluangkan untuk makan bersama dengannya. Dengan semua itu, aku selalu merasa begitu dihargai.

Dia menerima perbedaan-perbedaan di antara keluarga kita dan tidak pernah mempermasalahkannya.

Aku bercerita padanya tentang keluarga kita, Ibu. Betapa keluarga kita berbeda dalam banyak hal dengan keluarganya. Tapi seperti dia menerimaku, dia juga menerima keluarga kita dengan segala keadaan yang ada, tanpa pernah memandangnya sebagai sebuah masalah.

Dia bercerita tentang masa depan, di mana aku adalah salah satu yang dia libatkan.

Dia bisa menjadi apa saja bersamaku. Dan aku bisa menjadi apa saja bersamanya. Kadang aku menjadi seorang ibu yang menasihatinya dengan kata-kata bijak. Kadang aku menjadi kakak perempuan yang memberinya beberapa saran. Kadang aku menjadi seorang adik yang manja. Kadang aku menjadi teman tempatnya bercerita dan berkeluh-kesah. Kadang aku menjadi kekasih, yang diam-diam menyelipkan selembar puisi di dalam tasnya untuk dia baca. Dia mempercayaiku ketika kadang aku bahkan tidak percaya pada diriku sendiri. Dia mengajakku menyusun rencana-rencana masa depan tentang kehidupannya, kehidupanku, dan kehidupan kami kelak.

Jadi, bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta padanya, Ibu?

Sungguh, dia memang lelaki yang sederhana. Tapi dia memperlakukanku dengan cara yang istimewa. Maka kami meminta restumu, Ibu, untuk menjadi teman hidup dalam menjalani seluruh sisa waktu yang ada. Kami meminta doamu, agar kami bisa selalu bersama dan menerima satu sama lain dalam segala keadaan.

Terimakasih, Ibu. Terimakasih telah mendengarkan ceritaku kali ini. Semoga ibu selalu sehat dan bahagia, sampai hari di mana aku bisa membawanya bertemu dengan Ibu, dan Ibu akan bisa melihat kenapa dia bisa membuatku jatuh cinta.

Penuh cinta dariku,

Putri kecilmu