Kata orang, hidup adalah pilihan. Bagiku, dalam hidup tidak selalu menyediakan beberapa pilihan. Hidup adalah sebuah peran dan perjalanan. Tuhan yang maha adil menciptakan sebuah penyeimbang di segala sisi kehidupan. Ada hitam dan putih, suka dan duka, tawa serta tangis. Kali ini aku setuju bahwa kehidupan seperti halnya roda yang berputar. Tidak selalu ada di atas atau di bawah. Semua imbang dan semua merasakan di setiap sisinya.

Jika hari ini kita bisa tertawa lepas, maka besok tidak ada yang bisa menentukan apakah kita melakukan peran yang sama atau malah sebaliknya. Kita pula tidak bisa memilih peran apa yang setiap hari akan kita lakukan. Menjadi antagonis kah, yang selalu angkuh selalu bahagia tanpa melihat sekeliling atau protagonis. Entahlah, tidak ada yang bisa menentukan akan jadi apa kita setiap harinya.

Maka hidup bukanlah pilihan, tapi perjalanan yang harus kita lalui apapun itu dan sebuah peran yang harus dilakukan dalam kondisi apapun itu.

Seperti halnya saat itu. Ketika aku berjalan menyusuri tempat yang bagiku tidak asing, jalanan yang selalu kulewati setiap harinya. Tidak ada yang berbeda atau berubah, semua sama seperti dulu. Hanya saja takdir yang mengubah semua menjadi tidak biasa. Bertahun-tahun aku selalu tidak ingin menengok satu tempat di salah satu sudut jalan itu. Tempat yang mengubah begitu banyak dari kehidupanku. Tempat yang merekam suara-suara tangis, rengekan bahka candaan kecil.

Mungkin tidak terlalu banyak yang kuingat tentang semua. Namun dada ini terasa sakit ketika memandang sebuah rumah kecil itu. Jika aku mengikuti ego dan pikiranku, aku mengumpat dalam hati, rasanya Tuhan tidak adil kepadaku. Apa salah gadis kecil sepertiku hingga Tuhan menggambil semua yang seharusnya aku miliki, yang seharusnya bisa aku rasakan.

Advertisement

Aku tidak pernah memilih kehidupan ini, aku pula tidak pernah ingin seperti ini. Mereka yang merebut semuanya, mereka yang merampas apa yang menjadi hakku. Sungguh dada ini terasa sesak jika harus mengingat apa yang sudah terjadi. Walau sudah lama berlalu, sulit rasanya menghapus setiap luka yang hingga saat ini masih tergores.

Lamunanku tiba2 saja pecah, aku ingat kata ibu, "cintai apapun yang ada dalam hidupmu, walau itu sudah menyalahi hakmu". Sebuah kalimat yang luar biasa bagiku, moto hidup ibu yang selalu ibu lakukan. Aku tahu dan aku mengerti jauh dalam hatinya sakit itu masih ada tapi tidak ia tunjukan. Ibu bagiku segalanya, mengajari cara mencinta hal apapun.

Sungguh aku tidak pernah membenci mereka yang menyalahi hakku. Tidak, aku percaya semua adalah perjalanan yang harus aku lalui. Jauh sebelum aku terlahir, mungkin hal ini sudah tercatat dalam takdir hidup yang harus aku jalani. Tuhan, maafkan jika aku pernah berkata ini tidak adil. Hari ini aku yakini, Engkau maha pemberi skenario yang baik dan maha pengatur rencana yang indah. Jika dulu aku tidak mendapatkan apapun. Tidak mengapa, aku ikhlas dan mungkin dikehidupan selanjutnya Engkau menggantikan itu semua. Aku percaya.