Sedikit ketidak percayaanku menjadi sumbu panas yang perlahan menjadi api keegoisan. Masa penyesuaian diri dengan lingkungan baru memang kadang sulit untuk kita lalui. Tapi aku hanya ingin kau luangkan sedikit waktumu untuk sekedar mengingatku atau menyadari bahwa aku ini masih milikmu. Kesibukanmu memang tak seharusnya ku ganggu, bahkan sedikit bercerita pun kau tak mau.

Stalking akun sosmedmu jadi canduku

Terlepas semua sifat kekanakanku, yang ku tau hanya aku ini sangat menyayangimu dulu. Hingga aku begitu ingin tau apa saja kegiatanmu saat jauh dariku, berteman dengan siapakah kamu sekarang? Adakah disana wanita yang membuatmu tertarik? Ah, aku tau pasti lebih cantik dariku. Masih bolehkah aku cemburu sekarang? Wah aku baru ingat, kau selalu melarangku cemburu sejak dulu. Komitmen kita yang terjalin sejak lama harus berakhir karna egoku. Ia bak virus yang meracuni kinerja otak dan fikiranku. Luka-luka yang pernah terjadi dulu tiba-tiba kembali menyayat hati, tak dapat ku tahan lagi hanya dalam hitungan hari. Hingga akhirnya ku putuskan untuk sendiri. Kau tau ini bukan pertama kali, tapi sudah kesekian kali. “kau pernah bilang bahwa akulah orang pertama yang menjatuhkan harapanmu di awal tahun baru lalu, tapi hey, apa kau lupa apa penyebabnya?”

Saat logika tak lagi surprise, hati yang selalu ingin servive.

Aku masih ingat rasa manis nasi gorengmu yang kau bawakan buat bekal mantai kita dulu. Semua kadang terasa lucu, saat aku sengaja telat masuk kelas selama 1 jam hanya untuk menemani sarapanmu. Kau pun juga pernah bolos 1 hari full dari jadwal less mu untuk merayakan happy anniversary kita yang pertama sekaligus terakhir waktu itu. Kau menggandengku kemana pun tanpa malu. Miris memang, setelah semua pengorbanan dan kebaikan hatimu yang dengan tega ku kecewakan sedemikian dalam. Kau pria yang pertama kali mengajarkanku arti sebuah kepercayaan. Memang masih sulit, tapi aku belajar banyak darimu. Kau selalu bisa mengatasi manjaku, entah bagaimana usahamu, itu yang membuatku terharu. Kau juga yang selalu siap menawarkan pundakmu saat aku kelelahan selama perjalanan menuju rumah. Tanganmu mempererat peganganku agar aku tak terjatuh. Tak jarang kau terlihat mengamatiku tertidur dipundakmu tanpa memperhatikan jalan di depanmu, aku bersyukur pernah memilikimu. “semua kenanganmu masih terekam jelas di benakku, entah sampai kapan pun itu”

Advertisement

Biarlah rasa ini hanya aku yang tau, semoga kelak kita akan lagi bertemu.

Saat ku ingat lagi masa lalu, atau tak sengaja melihat foto-fotomu yang masih tersimpan rapi di folderku. Mata ini tak lagi bisa melihat dengan jelas, tiba-tiba berlinang, berharap hal yang lebih indah terjadi lagi bersamamu. Kau tak hanya merpati yang mengajakku berkelana bersamamu, bukan hanya panutanku, bukan hanya pria yang membimbing ku untuk menjadi wanita yang lebih dewasa dengan semua usahamu, namun sekarang aku sia-siakan itu. Aku harus beradaptasi tanpamu yang dulu selalu menemani, sifat ketergantunganku terhadapmu yang membuat smua seperti ini. Maafkan aku yang akhirnya mengundurkan diri dari semua usahamu ini. Aku belum belajar sehingga belum siap menghadapi ujian yang tak mudah ini. Aku masih terlalu dini untuk berextra sabar menantimu kembali saat semua perlakuan ini masih terjadi. Terima kasih atas pengorbananmu selama ini terhadapku, aku tau belum bisa menjadi wanitamu. Semoga wanita beruntung yang saat ini bersamamu, mampu memberikan hal yang lebih indah daripada aku. “sekarang kau pasti mencaciku kenapa aku buat smua ini, padahal akulah yang mengakhiri. Tak apa, ini untuk kebaikanmu”

Special untukmu, si Ndut yang pernah mengukir kenangan manis dihariku dulu.