Teringat sebuah dialog ironi yang pernah kualami 6 tahun silam, dengan seorang gadis yang sempat kucintai dan sempat mengisi benakku dengan semua kisah-kisah bersamanya. “Bila suatu saat kau pergi meninggalkanku, jangan undang aku ke pernikahanmu” Ujar gadis itu kepadaku. Lalu kujawab “Apabila semua akan berakhir dengan keterpisahan, tentu aku bukan yang pertama naik kepelaminan. Andai aku menikah nanti dan aku mengundangmu, kau akan hadir ke acaraku ditemani seorang pria beruntung, ia suamimu. Tapi apabila kau yang mengundangku, bila kupaksakan hadir sekalipun, aku akan datang dengan teman-temanku, dan aku akan melihat seorang wanita yang pernah mengisi ruang terdalam di hatiku, sedang duduk di pelaminan dengan seorang pria yang akan membuatnya bahagia”.

Atas izin Tuhan dan tentunya diawali oleh berbagai desas-desus. Hal itupun menjadi kenyataan. Hanya saja pada waktu pernikahannya aku tak bisa hadir karena dalam kondisi fisik yang kurang stabil. Pernah aku menceritakan kisah patah hatiku kepada seseorang, ia tak merespon dengan gaya melodrama, ia hanya mengucapkan “Kau masi terlalu bahagia untuk seseorang yang sedang patah hati”, ia pun pergi meninggalkanku.

Memahami arti kebahagiaan tidak semudah menuliskan kata “Bahagia”, itulah alasan mengapa perlu perenungan dan ketabahan. Malam-malamku bersamanya, pada awal kisah, aku melihat bahwa tidak ada satupun angin yang berhembus tanpa memberikan salam kepadaku, aku melihat seluruh awan tersenyum kepadaku, aku mendengar derak debu menyisipkan surat suka cita untukku. Tepatnya pada suatu malam, ketika gadis itu menutup teleponnya setelah berbicara hampir satu jam denganku. Aku kirimkan pesan sederhana kepadanya lewat sms.

“Wahai jantung hatiku, andai cinta mengetahui betapa besarnya kecintaanku kepadamu. Aku yakin, cinta akan memohon kepada Tuhan untuk menjadi kekasihku”.

Ia tak membalas pesanku, aku menanti balasannya bagai telinga yang merindukan nada, bagai mata yang menanti warna dan bagai jiwa yang didekap harapan. Saatnya aku harus jatuh pada sebuah muara keterpurukan. Pesan itu adalah pesan terakhirku. 2 minggu tepatnya. Aku harus sendiri tanpa sebuah nama. Di situ kerinduan mengajarkan kepada hatiku agar tetap menjadi hati walau dalam sejuta rasa sepi. Sulit menjelaskan sesuatu yang tak memiliki awal, karena tak akan memiliki akhir. Balasan darinya adalah pesan bahwa ia harus bersama dengan laki-laki lain. Cintaku kepadanya ku awali dengan sebuah janji, dan ia memberiku waktu. Dan ia membunuhku.
Seseorang pernah mengatakan kepadaku:

Advertisement

“Dalam peperangan kau hanya mampu mati sekali, namun dalam wilayah cinta, kau dapat mati berkali-kali”.

Awalnya, aku sulit memahami kalimat itu, tapi setelah merpati hatiku terbang dan tak kembali, aku menyadari bahwa aku telah kehilangan diriku, dan aku harus mengambilnya kembali. Sulit mengambil diriku kembali. Akhirnya aku menganggap diriku yang itu telah mati. Iya, diriku adalah yang saat ini, masa laluku telah mati dan masa depanku belum lahir.

Perlu waktu satu tahun melepaskan diriku dari jerat duka ini, duka yang mengajarkanku makna bertahan dalam ketulusan, duka yang mengenalkanku arti pengorbanan demi kekosongan, duka yang mencerdaskanku, duka yang menyelipkan makna-makna untuk hidup lebih lama lagi, duka yang selalu sendiri, duka yang tanpa toleransi, tapi bukan duka yang sejati. Aku harus hidup kembali dan mempertahankan jiwa yang kumiliki agar ia tak terpenjara dalam duka yang sejati. Karena menurutku, duka sejati adalah ketika masalalumu memperkosa seluruh harapanmu. Sebagai penutup, ada syair luar biasa dari seseorang yang pernah menjadi guru dan sahabatku.

“Jalan-jalan dunia bak runtuhan gunung sahara
Cerita cinta dimulai bukan dari sebuah rinai yang lungkrah
Cinta diarak oleh sosok yang kau sebut kekasih
Tapi jangan sekali-kali mencintainya, cintailah cinta
Karena kekasih dapat pergi, namun cinta kekal abadi”