Pernahkah kamu mendengar bahwa tak semua orang berjodoh di dunia? Tuhan berfirman, jika seseorang tak bertemu dengan belahan jiwa duniawinya, maka kelak ia akan menemuinya di akhirat.

Pernah jugakah kamu mendengar bahwa pada dasarnya Tuhan menciptakan mahluk-Nya berpasang-pasangan?

Sungguh, kedua kalimat paradoks itu menimbulkan tanda tanya besar:

"Apa berarti bahwa kesendirian seseorang itu sebenarnya telah digariskan dan menjadi sesuatu yang tak dapat diubah?"

Mengerikan, menyedihkan.

Advertisement

Betapa seseorang tercipta untuk kelak tak memiliki siapa-siapa di hidupnya. Betapa seseorang terlahir di dunia untuk kelak terbangun dan tertidur lagi tanpa seseorang ada bersamanya. Betapa seseorang tumbuh dari zigot menjadi daging untuk kelak hidup dengan penuh pengharapan dan penantian, terjebak dalam permainan seolah kelak ia memang akan menemui seseorang, memiliki seseorang dalam hidupnya. Di saat nyatanya, ia telah Dia gariskan untuk hidup sendirian.

Sendirian.

Sungguh, betapa pun otak berputar, tak kunjung ada satu pun alasan logis bahwa manusia bisa hidup bertahan dan bahagia seutuhnya seorang diri, meski ia telah mengisi hidupnya dengan ibadah. Ibadah memang menenangkan jiwanya dan memberinya jawaban akan pertanyaan-pertanyaan pilu. Tapi, betapa pula manusia hanyalah mahluk berakal yang tak sempurna, pasti masih ada rongga-rongga kosong yang selalu menuntut dihuni. Apapun caranya, bagaimana pun kondisinya.

Hidup sendirian hanyalah sesuatu yang terlalu mustahil untuk niscaya dijalani.

Bahkan meski janji itu sudah nyata dan tak ada satu pun yang bisa membantah-Nya.

Tapi, bukankah terlalu memilukan untuk merasakan hidup bertahun-tahun di dunia ini tanpa bisa mencicipi sedikit saja cinta dari sesama manusia yang bermakna pasangan, tambatan hati, belahan jiwa? Tapi, bukankah terlalu merana untuk berulang kali meniup lilin dengan harapan-harapan sama yang tak kunjung jadi kenyataan?

Dan bukankah terlalu menyiksa untuk bergerak setiap hari hanya sebagai penonton kebahagiaan sandiwara cinta orang-orang di sekeliling tanpa benar-benar pernah mengalaminya sendiri? Pahit ataupun manis itu.

Ah, sudahlah.

Tahu seperti itu, mengapa tak sejak kecil kamu diajarkan untuk berharap sesuatu yang lebih realistis saja? Bukan untuk menjadi seorang dokter, arsitek, atau guru di kemudian hari, melainkan untuk sekedar bertemu dengan sosok pasangan jiwa dan hidup bersama selama-lamanya.

Bukankah cinta adalah esensi yang tak terhapuskan dari kehidupan ini?

Bahkan meski janji-Nya sudah begitu nyata bahwa ada jodohmu di sana jika kamu tak menemuinya di sini.

Bukankah tetap tak bisa, manusia hidup seorang diri?