Jarak, satu hal yang membentang angkuh diantara kita. Memisahkan kita sejauh ini. Membuatku selalu menahan rindu. Membenamkan inginku untuk bertemu denganmu. Ratusan hari kulalui tanpa sosok nyatamu disini. Bila kuingat, sudah lama kita tak bertatap muka, sudah lama kita tak berjalan beriringan. Kadang aku merasa iri pada mereka yang dengan bahagianya bisa menghabiskan waktu bersama, entah hanya berdua atau beramai-ramai. Sementara aku, hanya bisa berduaan dengan handphone yang kubawa kemanapun setiap saat agar selalu bisa terhubung denganmu.

Aku tak pernah menginginkan kondisi seperti ini. Aku yakin kau pun begitu bukan? Hanya saja keadaan yang mengharuskan kita untuk berjauhan.

Kau pergi meninggalkan kota ini. Kota yang menyimpan sejuta kenangan tentang kita, tempat kita dipertemukan, berkenalan, saling jatuh hati, mengucap janji, bersuka cita, bersedih hati, semua kita ciptakan di sini. Termasuk perpisahan ini. Setiap jalan yang kulewati, setiap tempat yang kudatangi bahkan hampir setiap sudut kota ini sepertinya kompak membuat anganku melayang padamu.

Tanpa hadirmu terasa ada yang kurang dihariku. Tak ada lagi suara scooter-mu yang berhenti di depan rumah. Tak ada lagi kencan romantis di malam minggu. Tak ada lagi yang memberiku kejutan tiba-tiba. Dan yang paling menyedihkan tak ada lagi senyum manis yang selama ini menjadi pendongkrak semangatku.

Rasanya separuh hatiku menghilang. Separuh bahagiaku tak disini. Bahagiaku sedang berada di ratusan kilometer dari sini.

Advertisement

Aku hanya wanita biasa yang tak kuasa menahan air mata bila pikiran buruk merasuk ke otakku. Sering terbesit di benakku hal yang sama sekali tak pernah kuharapkan. Aku tak tahu bagaimana jadinya bila ternyata pekerjaan bukan satu-satunya alasanmu pergi kesana. Bila ternyata kau bertemu wanita lain yang tak pernah absen hadir di dekatmu saat ini. Dan bila ternyata kau tak tahan dengan hubungan jarak jauh ini dan lebih memilih mencari penggantiku. Aku ketakutan sendiri dengan semua prasangka yang membuat kacau kepalaku itu. Hanya suara lembutmu di ujung telepon yang mampu menenangkan kerisauan di hati ini. Suara bisikanmu, suara gelak tawamu, suara seriusmu, tak mengertikah kau aku merindukan mendengarkannya secara langsung. Aku merindukan sosokmu.

Jika bulan bisa berbicara mungkin ia akan berkata bosan. Melihatku selalu tersedu di tengah dinginnya malam.

Tapi tenanglah sayang, di tengah rindu yang mendera aku di sini selalu mendoakanmu. Selalu memohon pada yang Maha Baik agar kau disana selalu dalam kebaikan-Nya. Tak masalah jika sekarang kita dipisahkan untuk saling berjuang dengan cara kita sendiri. Aku disini dan kau disana. Kita sama-sama meraih mimpi di jalan yang berbeda sebelum akhirnya kita dipertemukan dan dipersatukan di jalan yang sama nanti. Aku tak pernah berhenti percaya, tak pernah berhenti berharap.

Saat kau merindukanku lihatlah ke atas kita masih di bawah langit yang sama. Kita masih memandang bulan yang sama. Itu berarti kita tak pernah jauh seperti hati kita yang akan selalu dekat.