Karena hidup adalah cerita. Jadi ceritakan saja meski orang-orang lelah mendengarkannya. Hai, untuk semua orang yang membaca ceritaku.

Aku terlahir karena cinta suci ayah dan ibuku. Mereka seperti udara yang selalu ku hela. Ayah dan ibu yang selalu mengajakku berbicara, sebelum aku mengenal kata. Kasih sayang dan cinta dari ibu tak pernah kurang. Mengalir terus menerus, laksana mata air yang selalu memancarkan air- air untuk kehidupan.

Ayah, sosok yang selalu terlihat kuat. Ayah juga seperti ibu, meski lisannya tidak selembut ibu. Tapi sikap penyayangnya terlihat jelas. Banyak moment yang ku rindukan bersama superhero ini. Hanya 16 tahun aku menikmati belaian perhatian dan cinta kasih dari sosok ayah. Aku rindu, dengan semangat ayah membangunkanku dengan lantunan ayat suci, mengantarku ke sekolah, lalu menjemputku juga. Jika aku telat ke sekolah dan tidak sarapan, ayah menyuapiku ketika aku hendak mengenakan sepatu.

Jika liburan tiba, ayah selalu mengajakku ke sawah dan ke gunung. Menggendongku ketika menyebrangi sungai, membelikan aku makanan agar aku tidak bosan menunggu ayah yang sedang melihat hamparan padi kami. Ayah bilang, “Sawah dan gunung ini sebagai investasi masa tua kalau ayah dan ibu pensiun nanti. Buat biaya kalian melanjutkan pendidikan.”

Ayah selalu bahagia jika berada di tengah hamparan padi yang menguning dan ditemani gemercik air sungai. Suasana di sawah dan di gunung itu damai dan tenang. Momen yang sangat berkesan itu, saat ayah mengajariku mengendarai sepeda motor. Dari rona wajahnya, ayah sangat khawatir. Ayah takut jika bidadari kecilnya terjatuh. Tapi aku berkeberanian mantap dan ku katakan pada ayah, “Aku pasti bisa, Yah. Jangan takut.”

Advertisement

Ah. Kini momen itu tinggal dalam balutan kenangan. Ayah sedang tidur indah di sana, diantara bidadari- bidadari sesungguhnya. Jika aku kangen, aku hanya bisa melihat dan memeluk fotonya. Lalu berziarah ke makam, memeluk nisan ayah. Dan mengingat semua nasihat-nasihat ayah.

Ayah, aku akan menjaga ibu untuk ayah. Because you are my shine.

Dalam batinku, aku masih ingin ayah di sini. Melihatku sukses meraih cita- citaku dan melihatku memakai toga. Ayah dan ibu selalu ada dalam setiap langkahku menapaki bumi ini. Aku akan terus mengukir prestasi dan karya sebagai hadiah untuk ayah dan ibu.

Aku hanya bisa menceritakannya dalam bait-bait rindu. Dan di setiap bait-bait rindu, ku harap ayah selalu bahagia. Akan selalu ku kirim bait- bait rinduku. Hanya lewat bait- bait rindu aku dapat berbagi dengan ayah.

Terima kasih ayah dan ibu untuk setiap nafas cinta dan kasih sayang. Aku akan selalu jadi bidadari kecilnya ayah. Aku akan berusaha untuk menjadi pelangi ketika badai usai.