Hallo bu, apa kabarmu disana? Bagaimana denganmu ayah? Kuharap kesehatan akan selalu dilimpahkan oleh-Nya pada kalian wahai malaikatku. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik bagi kalian. Karena hanya doa dan harapanlah yang dapat senantiasa kuberikan.

Ibu, apakah kepanikan masih selalu menghiasi tiap tindakanmu? Apakah masih selalu hadir keributan yang selalu membangunkan dan mengganggu istirahatku? Jujur Bu, hal itulah yang kini ku rindu dan sangat ku dambakan. Bagaimana denganmu Ayah? Masihkah kuat tekad menempel di dirimu? Masihkah tetes keringat menjadi saksi ketekunanmu? Jujur Yah, aroma tubuh lelahmu merupakan suatu kelangkaan yang sulit ku temukan kini. Dan kuat tekadmu lah yang menjadi tuntunan dalam tiap langkahku.

Ibu.. Ayah.. Hadirku saat ini bukan untuk membuatmu larut dalam risau. Bukan pula ingin memenuhi malammu akan pikiran-pikiran buruk tentangku. Aku hanya ingin menceritakan satu kisah dalam fase hidupku. Hanya ingin mencurahkan sesak di hati ini padamu.
Aku lelah Bu. Aku jatuh Yah.
Tapi aku tahu ini bukanlah alasan yang dapat menghambat inginku. Aku tak dibesarkan dengan perlakuan manja yang membuatku mudah menyerah dan bertekuk lutut pada tantangan.

Ibu.. Masihku ingat ucap mereka. Kata mereka aku hebat. Mereka memuji ku karena kini ku disini. Di tempat ini. Apa bagusnya kota ini Bu? Bagiku kota ini rekayasa yang hanya menampilkan kemewahan dan keindahan untuk menutupi kenyataan menyakitkan di baliknya. Kata mereka ini kota yang indah. Kata mereka ini kota besar dimana segalanya ada disini. Tapi tahukah Bu itu semua hanya omong kosong yang tak perlu dipercaya. Semua itu hanya gambaran imajinasi mereka.

Ayah.. Masih ku ingat setiap kata indah yang kau tanamkan padaku. Engkau pernah mengajarkan ku untuk selalu baik pada siapapun. Katamu aku tidak boleh memandang mereka berbeda-beda. Bahkan katamu jangan sekalipun berpikiran negatif pada mereka. Tapi harus ku katakan padamu Yah, kebaikan bisa jadi bumerang disini. Kebaikan bisa jadi penghancur diriku sendiri, Yah. Harus seperti apa lagi aku bersikap? Dapatkah kau tunjukkan aku jalan yang harus ku jalani dan ajarkan aku keteguhan hati yang tiada mati Yah?

Advertisement

Ibu.. Ayah.. Aku lelah…
Aku lelah berpura-pura agar diterima. Aku lelah berusaha membahagiakan semuanya. Aku lelah harus selalu berusaha menjaga sikap dan tutur kata. Dan aku lelah harus selalu berusaha menghargai mereka yang bahkan sedikitpun tak ada niat untuk menghargaiku. Aku lelah Yah.. Aku lelah Bu.. Aku lelah berpura-pura baik-baik saja.

Ibu.. Ayah.. Salahkah aku?
Salahkah aku jika aku berbeda dengan mereka? Salahkah aku jika egois dan ingin membahagiakan diriku? Salahkah aku jika terkadang melakukan hal yang tidak mereka sukai? Dan salahkah aku jika aku juga ingin dihargai? Katakan bu.. Sampaikan yah.. Apakah aku salah?

Ah sudahlah Bu. Jangan terlalu dipikirkan..
Sudahlah Yah. Jangan terlalu dikhawatirkan..
Ini hanya sekedar pikiran bodoh dariku yang masih dalam proses pendewasaan. Masih ada jalan yang terlalu panjang dan dan jurang yang terlalu terjal yang harus siap kuhadapi. Hanya ridho kalianlah yang sangat ku harapkan.

Aku yang hingga saat ini masih berusaha mencari jawaban dan jalan keluar dari semua badai yang menerpa.