Pernah kah kamu menyimpan perasaan sesal di hati, yang hingga kini masih belum bisa termaafkan? Hingga terus menerus menyalahkan diri sendiri, seolah ada beban hidup yang mengiringi. Mencoba untuk mengalihkan tetapi tetap saja, pada akhirnya perasaan ini akan kembali hadir menguasai hati.

Tak mudah memang untuk melupakan sebuah kejadian, sebagaimana halnya sejarah yang akan selalu membayangi pada masa depan. Bagaimanapun, hal baik atau sekalipun buruk yang pernah terjadi tak bisa terlepas dalam diri kita.

Setiap orang menemukan penghubung kenangan melalui caranya masing masing, ada yang hanya sekedar melihat, mendengar atau mengamati suatu hal seakan terulang ingatan di masa lampau. Dalam semesta ini, banyak sekali terdapat berbagai pembelajaran hidup atas tiap-tiap peristiwa maupun kejadian yang mengandung ibrah tersendiri. Juga kehidupan mengajarkan kita berbagai banyak hal seperti berjuang, melepaskan, juga belajar ikhlas untuk kehilangan.

Seperti halnya dengan perpisahan, keterbatasan waktu hidup di dunia adalah hal singkat yang sering terlalaikan, hingga tersadar bahwa ternyata kekekalan waktu, memanggilnya pada kehidupan abadi yang sesungguhnya, sesuatu yang telah dijanjikan itu pun tiba.

Kesedihan pun menyergap diri saat di mana kita harus berpisah dengan seseorang, yang tenyata mempunyai nilai penting dan luar biasa hebat dalam hidup. Jika ditanya, siapa orang yang bisa memberikan pengaruh besar dalam hidup? Maka akan kita terima jawaban yang bervariatif, boleh jadi sahabat atau kerabat, guru atau mungkin seseorang yang amat berjasa lainnya, siapapun itu yang jelas telah memberikan arti penting untuk sebuah perubahan.

Advertisement

Tapi buatku, Bapak lah orangnya, seseorang yang kini telah pergi untuk selamanya. Masih teringat benar sampai saat ini, serangkaian kejadian dengan beliau. Bapak yang waktu itu mengenakan topi, dengan rambut yang telah beruban, sambil menatap punggungnya dari belakang mengantarku sekolah dengan menggunakan sepeda ontanya (onthel), lalu pamit mencium tangannya.

Tak berhenti di situ, berlanjut hingga aku masuk dalam dunia pekerjaan, sepeda ontanya masih saja setia mengantarku, ingat pula aku yang dulu waktu kecil selalu menagih kado ketika hari ulang tahun tiba, selalu minta dibelikan es krim, selalu minta keluar untuk jalan jalan sore dan meminta boneka seperti yang dimiliki teman lainnya, hingga aku pun seringkali merajuk jika setiap permintaan tak dipenuhi. Namun Bapak selalu saja berusaha untuk memenuhi, entah bagaimana caranya.

Jadi teringat dengan muka lelahnya, muka tertawanya, muka sedihnya, muka marahnya, cara jalan Bapak, saat beliau dari belakang, semuanya masih ingat dan tetap akan kuingat sampai kapanpun. Aku sadar, bahwa diri belum sempat membalas semua kebaikannya. Hanya hadiah doa yang dapat aku kirimkan selalu, serta memohonkan harap ampunan untuknya, senantiasa berdoa kelak Bapak diberi tempat yang terbaik disisi-Nya.

Memang, kini aku baru menyadari bahwa diri tak cukup bakti pada masa hidup beliau. Bahkan sekedar untuk membuat kenangan manis di akhir hayatnya saja, belum terwujud. Jika sudah begitu, maka baru timbul rasa menyesal, seakan diserang pertanyaan bertubi tubi, kenapa dan kenapa waktu secepat ini memisahkan kita? Terlambat menyadari memang, itu masih lebih baik dibandingkan dengan yang tidak merasakan hal apapun. Maka tak berlebihan jika mendengar atau menyebut satu kata ini pun membuat mata berlinang, ''BAPAK''.

Membahas tentang segala jasa pimpinan dalam rumah tangga ini tak akan pernah habis untuk dijabarkan, karena abdinya kepada keluarga memang begitu besar. Sosok yang senantiasa hadir inilah, selalu memberikan kasih sayang yang amat cukup menjadi pelipur hatiku, pada kehidupan yang dirasa semakin keras.

Beliau pula yang mengajarkan arti tanggung jawab, kerja keras untuk mendapatkan apa yang diinginkan, bersabar dengan rasa sakit yang mengiringi, belajar tuli dari rendahnya cemoohan yang sorak sorai, memaafkan dengan lapang hati yang luar biasa sulitnya, bersabar akan ada waktu di mana apa yang kita tanam akan bertunas dengan hasil yang memuaskan dan tak lupa selalu mengingatkan bahwa dunia memang tempatnya kesusahan untuk terus berjuang perbaiki hidup.

Ladang amal nan jihad untuk kita manusia, berusaha mencari keridhaan dari Sang Pencipta, berharap pada Sang Khaliq untuk mendapatkan keberkahan dalam hidup supaya dijauhkan dari segala hal yang membawa kesia-siaan.

Masih ingat betul percakapan kita waktu itu pak, hidup ini sebenarnya untuk apa? Jika tidak diisi dengan perbuatan baik juga ibadah? Sampai saat ini berusaha untuk menerapkan contoh prilaku dari beliau, banyak sekali pelajaran hidup yang tidak semuanya bisa kita dapatkan dari pendidikan formal. Terkadang melalui keadaan sekitar lah kita mendapatkan pelajaran yang lebih nyata.

Terima kasih banyak ya, Pak atas semua perjuangan hidup dan kebaikan selama ini yang diberikan kepada kami.
Aku sadar rasa sesal ini sungguh amat tak berguna, lebih tak berguna lagi ketika aku merindukanmu saat tiada. Andai saja masa dapat terulang sekali lagi, akan aku tebus semua rasa salah ini dengan pengabdian bakti untuknya, meski aku tahu hanya dengan berandai-andai pun tidak dapat mengembalikan semuannya.

Namun harapku tetap ingin menyapa, dapatkah kau melihatku dari kejauhan sana? Melihatku menyesali semua perilaku, meiihatku menangis memohon maaf, Pak?

Benarlah kata orang, berbuat baiklah selama bapak ibu masih ada, jangan tunggu hingga penyesalan datang dan akhirnya menyadarkan diri dari kesalahan.