Begitu banyak rasa yang tak bisa kujelaskan hanya melalui sebuah rangkaian kata. Begitu keras dia berjuang, kepayahan hingga mungkin sampai limbung merasakan beratnya perjuangan. Mungkin. Karena selama kedua mataku terbuka dia terlihat baik-baik saja. Selalu baik-baik saja kelihatannya. Sandiwara hebat.

Ah, tapi tahu apa aku. Seberapa berat beban yang harus dia tanggung pun kelihatannya aku juga belum paham. Membanting tulang mati-matian harus dijalani demi keberlanjutan kuliahku. Sensasi sakit yang kerap kali kurasa ketika kulihat betapa dia selalu berusaha memenuhi kebutuhanku. Dia tersenyum. Memang selalu tersenyum. Dan senyum itulah yang mengiris-iris rasa. Jalan apapun itu dia lakoni, selagi masih halal.

Dia selalu mencari jalan agar aku bisa sama dengan yang lain. Pun harus melalui keadaan yang sangat tidak mudah. Di tengah sulitnya berjuang muncul suara-suara merendahkan. Tetangga. Ya, tetangga. Benar sekali. Cemoohan dan bahkan mungkin gunjingan yang senantiasa mereka lakukan.

Apakah salah jika seorang bapak ingin melihat anaknya memiliki kesuksesan? Apakah itu sebuah kesalahan? Apakah bapakku hidup dengan meminta uang mereka? Tidak. Apakah bapakku mengemis pada mereka? Tidak. Miskin pun kami, harga diri tetap yang pertama. Luruh air mata melihat orang tua direndahkan, sesak tak terbayangkan. Tapi tidak apa-apa, aku terima semuanya. Kelak akan kubuktikan, jika Allah mengijinkan, aku bisa membanggakan.

Begitu banyak angan dan mimpi yang ku rancang untuk membahagiakannya. Sungguh-sungguh aku belajar semoga kelak bisa sukses di kemudian. Bapakku sayang akan kubuktikan aku bisa kau banggakan.

Advertisement

Salam Cinta

Putri yang selalu mencintaimu