“Kamu seneng jalan-jalan sama aku hari ini?” tanya gadis manis di depan saya .Saya hanya bisa diam sambil sesekali menggaruk kelopak mata yang tidak gatal.

Sambil tersenyum syahdu dan memamerkan lesung pipinya yang dalam,ia memiringkan kepalanya kekanan lalu mengipaskan jemarinya di depan wajah saya. “Halo! Kok diem? Ngeliatin apa sih?”

“Em … Umm … kamu” Jawab saya dengan rasa malu yang besar.

Ia tersenyum sekali lagi sambil menunduk. Merapikan ujung rambutnya kebelakang telinga dan menunjukkan lesung pipi itu sekali lagi. Lesung pipi yang membuat saya tiba-tiba lupa nama bapak saya. “Tuh kan mulai lagi,kamu paling pinter deh kalo buat aku ge er.” Ujarnya malu.

Saya beranikan diri untuk memegang tangan mungilnya dan menatap matanya dalam-dalam. Angin lembut pendingin udara di dalam bus Causeway Link Ekspress ini membuat kami kedinginan dan semakin saling berdekatan. Mata kami beradu, nafas kami memburu. Saya merasa seperti Andrew Garfield yang sedang bersiap-siap mencium Emma Roberts di salah satu tribun lapangan baseball dalam film The Amazing Spiderman. Saya deg-deg an. Tetapi tiba-tiba, bus berhenti dengan sangat mendadak. Suara decitan rem bus terdengar sampai ke kursi belakang. Genggaman tangan kami terlepas dan kepala saya terantuk jok depan bus yang cukup keras. Saya terbangun.

Advertisement

Perjalanan empat jam dari Terminal Bus Larkin ke Kuala Lumpur memang cukup membosankan. Hampir sepanjang perjalanan saya tertidur dan hanya sesekali mengamati pemandangan hamparan pohon kelapa sawit yang tidak ada habisnya. Sambil sesekali memandangi baliho bergambar Lee Chong Wei yang sedang mempromosikan raket badminton, saya memakan potongan terakhir Sari Roti rasa coklat yang saya bawa dari Indonesia. Bekal terakhir saya hari itu.

***

Terlalu bagus dan bersih untuk sebuah terminal merupakan ungkapan pertama kali saya saat menginjakkan kaki di Terminal Bandar Tasik Selatan atau TBS. Iya,bus Causeway Link Ekspress yang membawa saya dari Johor Baru ke Kuala Lumpur memang berhenti di terminal ini. Mulai beroperasi sejak tahun 2011,Terminal Bandar Tasik Selatan menjadi salah satu terminal paling mewah seantero Malaysia.

Terminal ini terletak di sisi selatan pusat kota Kuala Lumpur dan melayani perjalanan bus antar kota dan antar negara dari Kuala Lumpur ke wilayah di sisi selatan Semenanjung Malaysia seperti Melaka, Johor Baru, Seremban, Muar, Tanjung Pahat dan juga Singapura. Terminal Bandar Tasik Selatan begitu nyaman dan juga wangi. Beda sama Terminal Kampung Rambutan yang bau pesing, banyak preman dan preman yang bau pesing.

I wanna go to the Bukit Bintang, can you tell me how to get there?” Tanya saya kepada salah satu petugas pusat informasi. Selama di Kuala Lumpur, saya memang lebih sering berkomunikasi dengan bahasa Inggris kepada penduduk lokal. Bukannya riya’ atau gaya, soalnya saya lebih sulit memahami penduduk lokal berbicara melayu.

You can take the train, sir! You have to go to KL Sentral first and then you can change the train to the bukit bintang” Jelasnya ramah dengan penuh senyum. Sayang dia laki-laki.

You can get the coin from the vending machine over there. After that,you have to take the stairs, going down and wait in the second platform.”

“Thank you so much, sir!” Jawab saya dengan penuh kedipan manja.

Setengah jam kemudian, saya sudah duduk manis di platform dua menanti kereta datang. Sambil ditemani sebotol air mineral dan hembusan angin masa lalu, dua orang India mendatangi saya dan bertanya kereta mana yang harus mereka naiki untuk pergi ke Klang. Setelah saya menjelaskan bahwa saya juga pertama kali ke Kuala Lumpur dan bukan Sahrukh Khan, mereka berdua pun pergi.

Kurang dari 20 menit, kereta yang akan membawa saya ke Kuala Lumpur Sentral pun datang. Interior di dalam kereta kurang lebih sama dengan commuter line yang ada di Jakarta. Nothing special. Hanya saja mungkin lebih dingin dan lebih bersih. Saya duduk di kursi panjang dekat pintu kereta. Di samping kanan saya, tampak sepasang anak muda India yang sedang berpacaran. Membuat iri memang. Sang pria merayu gadis di sebelahnya dengan bahasa India yang biasa saya tonton di televisi. Ingin rasanya saya coba menghangatkan suasana dengan menyetel musik India keras-keras sembari menabuh tabla dan meniup suling. Tapi karena takut tiba-tiba mereka bergoyang dan mengeluarkan ular cobra dari saku celana lalu kereta ini jadinya malah pergi ke Mumbai, saya urungkan niat tersebut.

Tidak sampai 30 menit kereta ini berjalan, saya pun akhirnya tiba di KL Sentral.Salah satu stasiun kereta terbesar di Malaysia.