Sabtu pagi aku ke Bandara Adisucipto, ku tunggu dirimu dipintu terminal kedatangan. Lama aku menatap pintu yang banyak lalu lalang. Memang kini kita tak berada di kota yang sama. Setelah ego memisahkan kita, kau memutuskan pergi meninggalkanku jauh, merantau. Kau beralasan demi hidup yang lebih baik walaupun memang bukan itu alasan utama.

Canggung rasanya mendengar suaramu kemarin sore. Disaat semua kenangan sudah terlewat, kau menghubungiku dengan nomor lain. Tak pernah kusangka nomor yang kupakai sejak SMA masih ada. Ku kira semua sudah hilang bersama cerita yang tlah usai dulu. Tapi anggapan ini salah, ada cerita lain yang kini bisa dirajut. Kau memintaku bertemu di bandara.

Lamunanku terhenti saat kau melambaikan tangan. Hai… Pelukan hangat dan ciuman dipipi. Raut wajah yang masih sama, cara menyapa yang sama hingga kehangatan tidak berubah sedikitpun. Aku lupa apa yang membuat dulu kita terpisah. Sepanjang perjalanan banyak canda yang terlontar. Kau berujar tentang mandirinya dirimu ditempat perantauan, begitu asik aku mendengarnya hingga lupa kalau kita ini sudah jauh.

Sedikit aku menyinggung halus dirimu dengan menyetel lagu "Sepatu – Tulus". Aku memang tak mau mengungkapkannya langsung karena mungkin lebih baik hal itu tak perlu dibahas. Ku harap kau tahu dengan lagu inilah aku ingin kau tau. Sayangnya kau terus bercerita tanpa celah hingga tak mengerti apa maksudku.

Sudahlah..

Advertisement

Suara deburan ombak sudah menyambut kedatangan kita dari jauh. Kau mengajakku untuk kembali membuka kenangan dimasa lalu ke Pantai Pandansari. Kuingat pagi itu pantai seakan masih berkabut. Sejauh mata memandang percikan air hanya menjadi embun. Saung menghadap pantai menjadi tempat kita bertaut hari itu. Status? Tak tahu lah apa yang dalam pikiran kita berdua. Rasanya memang tak menjadi masalah.


Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata

Ketika kita berdua

Hanya aku yang bisa bertanya

Mungkinkah kau tahu jawabnya

Malam jadi saksinya

Kita berdua diantara kata

Yang tak terucap

Berharap waktu membawa keberanian

Untuk datang membawa jawaban

Mungkinkah kita ada kesempatan

Ucapkan janji takkan berpisah selamanya


Hei.. Ingatkah kau lagu Payung Teduh – Berdua Saja? Ditempat inilah pula kita dulu berdua bersama hingga udara malam yang mengusir kebahagiaan. Lagu itu mengingatkan, ada hal yang tidak bisa aku sampaikan hingga kini berpisah. 

Aku bangun dari tidur. Ya Tuhan, ternyata tadi adalah sekedar bunga di dalam tidurku.