Dia tahu?
Kepingan kenangan yang pernah kau jalani bersamanya masih bisa kau susun utuh, sempurna, tanpa cela. Setiap jalan yang kau lalui berisi ingatan tentangnya, setiap tempat yang kau datangi membuat matamu berkaca-kaca. Sejenak kau berusaha menggunakan logika terbalik, jangan pernah lari dari kenyataan, jangan berusaha menghilangkan kepedihan dengan cara melupakan. Rasa sakit tidak akan dengan mudah hilang dan tak ada hati yang bisa pulih seperti sedia kala, tapi cobalah mengihklaskan. Membiasakan diri dengan menganggap setiap penderitaan adalah proses menuju pendewasaan.

Dia tahu?
Perlahan kau mulai bangkit, mencoba mengikhlaskan. Meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa Tuhan punya rencana yang jauh lebih baik dari yang kamu harapkan. Tidak ada lagi airmata, tidak ada lagi penyesalan, dan kau akan menjadi lebih bahagia. Hingga kau dipertemukan dengan masa lalu, masa lalunya. Kau kembali terhenyak, ternyata mengikhlaskan itu sangat tidak mudah dan kaupun semakin terhempas dalam. Berpikir sepertinya kau memang tidak layak untuknya. Mungkin pertemuan dengannya adalah sebuah kesalahan, namun kau tak sanggup untuk melepaskan. Serpihan hati yang susah payah kau kumpulkan kembali berserakan.

Dia tahu?
Tuhan sangat Penyayang, Dia tidak akan pernah membiarkanmu sendirian, memberi jalan untuk mengikhlaskan, memberi ruang untuk memaafkan. Tapi hari ini lagi-lagi kau dipertemukan kembali dengan masa lalu, ini tidak lagi hanya tentang dia, tapi tentang kalian. Pertahananmu seketika runtuh dan tanpa sadar airmata kembali mengalir. Lagi-lagi kau kalah pada tekad yang kau pancang sendiri bahwa kau akan menjadi lebih kuat. Kau kembali mengenang sebuah permulaan yang bahagia, yang saat itu tidak pernah terbersit bahwa kau akan terluka.

Dia tahu?
Kau sudah menyusun banyak rencana yang ingin kau lakukan bersamanya, berpikir untuk mengukir kenangan indah berdua. Percaya pada semua ucapan dan janjinya. Dia yang memintamu untuk tidak pernah pergi dan kau hanya diam tanpa jawaban. Kau memang tak pernah menjanjikan apapun padanya, tapi kau berjanji pada dirimu sendiri bahwa tak akan ada yang tersakiti. Namun seiring berjalannya waktu, kebersamaan kalian hanya menjadi ruang untuk saling menyakiti dan perpisahan adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri sakit hati.

"I was getting along with everything fine and then you happen. I do not need a reason to be angry with God"

Advertisement

Dia tahu?
Kau memang tidak berhak marah pada Tuhan. Tuhan pemilik rasa cinta yang sebenarnya, Dia berhak mengambilnya kapan saja. Tidak ada yang salah dalam pertemuan kalian, itu adalah kesempatan untuk saling mengenal dan memahami. Namun, mungkin Tuhan memiliki rencana lain yang masih sulit dimengerti. Harapan selalu ada, namun Tuhan tetap penentu segalanya. Akan lebih indah jika tidak banyak ikut campur didalamnya, memaksakan sesuatu yang bukan kehendak-Nya. Selamat memperbaiki diri, selamat memantaskan diri untuk siapapun yang telah Tuhan persiapkan untukmu. Luka itu adalah milikmu, kepedihan itu hanya untukmu. Kau akan berjuang sendiri dan kau memang harus berjuang sendiri. Ini adalah kesempatan lain yang Tuhan berikan agar kau sadar bahwa kau tak bisa bergantung pada siapapun karena hanya Dia tempat bergantung terbaik dan karena hanya Dia yang tidak akan pernah meninggalkamu sendiri.