Teruntuk segelitir sahabatku yang masih bertahan

Aku masih memikirkan tentang banyak hal yang mungkin dapat aku tuangkan ke dalam tulisan. Entah sejak kapan tepatnya aku suka menulis, mungkin sejak hari-hariku terasa sepi belakangan ini. Hujan memang selalu dapat membangkitkan kenangan lama, termasuk kenangan bersama para sahabat terbaik. Sudah lebih dari setahun yang lalu aku memilih untuk kembali lagi ke Kota Kecil tempat dimana dulu aku dilahirkan dan menghabiskan sebagian besar usiaku. Menikmati hari-hari bersama keluarga dan tentu saja asyik dengan aktivitas di tempatku bekerja sekarang.

Dear sahabatku, Bagaimana keadaan kalian sekarang? Rasanya baru kemarin saja kita bertemu saat masa orientasi mahasiswa baru. Masih hangat di benakku kapan pertama kali kita mulai akrab, rasanya ingin tertawa ketika kembali membuka foto-foto jadul kita saat masih polos dan culun. Ternyata kita sudah enam tahun saling mengenal dan sampai sekarang kalian masih bertahan menjadi bagian dari cerita hidupku, bahkan ketika jarak ruang dan waktu menjadi sekat diantara kita. Kita dipertemukan dalam ikatan persahabatan bukan karena adanya dominasi persamaan, namun justru karena banyak perbedaanlah yang membuat kita bertahan sampai detik ini. Dari berbagai perbedaan latar belakang kebudayaan kita belajar untuk saling mengenal, memahami, dan menerima.

Persahabatan kita bukanlah sebuah drama tragedi yang penuh dengan kesedihan. Bukan pula drama komedi yang penuh dengan gelak tawa. Persahabatan kita adalah kumpulan-kumpulan scene film terbaik tentang kehidupan yang penuh dengan dinamika. Suka dan duka telah memberi warna tersendiri bagi kita. Dulu kita memang pernah saling tidak menyukai karena ”keanehan” masing-masing. Pernah juga saling mendiamkan atau atau saling menjauh dan kemudian akan kembali dekat. Kita memang tidak mengingkari hal-hal buruk itu, karena itulah bagian dari dinamika persahabatan. Berbagi kebahagiaan seperti saling memotivasi, saling menguatkan ketika semangat salah satu dari kita mulai goyah serta saling mendoakan dalam kebaikan telah menjadi budaya dalam persahabatan kita.

Jarak dan waktu telah menjadi suatu tabir diantara kita. Sekarang kita sudah berada di dalam dunia kita masing-masing tempat dimana kita akan menempa diri kita sendiri untuk menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri. Kita pun telah bersepakat akan kembali bertemu pada satu titik puncak kesuksesan menurut versi kita masing-masing. Namun dalam proses menuju titik puncak tersebut kita tidak bisa melangkah sendiri-sendiri. Aku tetap membutuhkan kalian, aku butuh para pendengar yang baik yang mau mendengar segala keluh dan kesahku. Karena hanya kepada kalian aku merasa bisa menjadi diriku sendiri, tanpa harus ada yang ditutup-tutupi. Sungguh aku merasa bersyukur bisa memiliki sahabat yang selalu bisa membuatku tersenyum serta dapat diandalkan. Maaf kan aku sahabat karena selama ini aku telah banyak merepotkan kalian. Maafkan aku yang sedikit kepo, sering mengeluh, rempong dan konyol. Terima kasih kalian telah bersedia menjadi konselor terbaikku, yang tidak perah bosan mendengar cerita-cerita dan khayalan-khayalanku, memberiku kesempatan untuk dapat berpikir jernih, dan bijak dalam mengambil keputusan-keputusan sulit dalam hidup.

Advertisement

Ratusan kilo meter jarak yang memisahkan memang menjadi kendala tersendiri bagi kebersamaan kita. Dalam keterbatasan itu kita menyiasatinya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan informasi untuk tetap bisa saling berinteraksi. Setiap hari kita saling sapa dari kota masing-masing, bercerita tentang banyak hal mulai dari berita terkini yang sedang hits dilakangan selebritis atau politikus sampai tentang siapa saja orang yang kita temui setiap harinya. Tidak lupa kita juga saling mengucapkan selamat tidur ketika bintang mulai redup dan berbagi semangat ketika mentari pagi menyapa, saling mengingatkan untuk makan agar selalu kuat menghadapi kenyataan hidup, yah begitulah bahkan persahabatan kita lebih romantis dari kisah romeo dan julliet sekalipun dan yang pasti membuat banyak orang lain iri.

Sebenarnya beberapa kali kita pernah berencana untuk reuni kecil-kecilan dan mengagendakannya sejak jauh-jauh hari namun ujung-ujungnya saat hari H tiba acarapun gagal terlaksana karena kesibukan masing-masing, dan kita tetap saling memahami kondisi masing-masing. Saling berkirim koleksi foto-foto aib saat ”masih muda” memang menjadi hiburan tersendiri bagi kita. Melihat wajah dan ekspresi kocak kalian yang aku ambil secara diam-diam ternyata mampu mengocok perut. Nampaknya benar jika ada yang bilang bahwa ”Hanya sahabat terbaiklah yang hobi gemar mengoleksi foto-foto aib kita”.

Momen yang paling asyik sekarang adalah ketika kita membicarakan urusan asmara. Kadang kalian membuatku gemas ketika kalian berusaha mati-matian untuk menjodoh-jodohkanku dengan orang yang kalian rekomendasikan, namun kejengkelanku itu hanyalah sekadar akting. Sejujurnya aku merasa sangat bersyukur memiliki sahabat yang sangat perduli kepadaku. Baiklah, do’akan saja aku agar bisa segera menemukan seseorang yang telah Tuhan siapkan untukku karena aku yakin dengan do’a kalian yang tulus akan lebih didengar oleh-Nya. Dalam ruang tunggu ini kita akan selalu saling memotivasi, dan saling mendoakan dalam diam.

Tentunya di setiap obrolan kita pasti ada tema-tema tertentu yang menjadi trending topik untuk dibahas. Jika di masa kuliah dulu kita sibuk membicarakan organisasi, skripsi dan revisi, perkembangan teknologi, fashion, drama favorit, tempat makan termurah, atau bahkan rute pendakian. Maka sekarang isu sensitif yang sering kita bahas adalah mengenai tugas-tugas perkembangan kita sendiri pada masa dewasa awal ini. Idealnya sekarang ini kita memang harus sudah sampai pada tahap mencari dan menemukan calon pasangan hidup, kemudian membina kehidupan rumah tangga. Juga meniti karier dalam rangka memantapkan kehidupan ekonomi serta menjadi warga negara yang bertanggungjawab. Maka tidaklah salah jika tema yang sering kita bicarakan tidak jauh-jauh dari rencana pernikahan impian dan perencanaan karier.

Kawan, kita sekarang ini memang telah memasuki awal masa usia dewasa, kita menyadari bahwa kita bukan seorang remaja lagi yang masih pantas untuk bermanja-manja dan merengek kepada ayah dan ibu kita. Bahkan sekarang kita adalah panutan untuk banyak orang, khususnya bagi orang-yang yang lebih muda dari kita. Sekarang ini juga bukan waktu yang tepat untuk bermain-main lagi dalam urusan perasaan. Namun di dalam fase ini jujur saja aku sangat khawatir jika kalian akan menjadi terlalu sibuk dengan peran dan tugas kalian masing-masing. Aku takut akan kehilangan kalian dan duniaku akan menjadi semakin sepi.

Setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk dapat mencapai kesuksesannya dalam bidang pribadi, belajar, sosial dan kariernya. Kita disini tidaklah sedang berada dalam satu komunitas yang engaja siapkan untuk mengikuti perlombaan lari, siapa yang tercepat dialah yang menang. Bukan itu. Namun kita disatukan dalam ikatan persahabatan untuk saling berempati, saling tolong menolong, dan perduli satu sama lain. Dalam persahabatan ini kita juga akan belajar untuk memainkan peran ganda, yaitu sebagai pendengar dan pihak yang didengarkan karena semua orang mungkin bisa berbicara namun tidak semua orang bisa menjadi pendengar yang baik.

Terkadang aku memang iri ketika melihat kalian mendapatkan suatu kebahagiaan sementara aku tidak. Namun percayalah aku akan lebih sakit ketika harus melihat kalian bersedih. Entah mengapa sampai sekarang aku belum bisa menemukan orang-orang sebaik dan sehebat kalian. Waktu terus bergulir, orang datang dan pergi silih berganti namun kalian akan tetap hidup dalam hatiku. Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku dan membuatku duniaku menjadi semakin ciut. Jika kalian dapati aku terlalu lambat berjalan maka berjanjilah bahwa kalian akan tetap menggandeng tanganku, bersabar mendampingiku sampai kita dapat berlari bersama menuju titik puncak kesuksesan itu. See you on top my Besties !