Hati manusia itu rapuh, tapi masih bisa dibebat. Juga, hati manusia itu bisa remuk, tapi masih bisa kupungut. Dan hati manusia itu lunak, mudah berubah kapan saja. Jadi siapa yang mampu mengendalikan hati manusia? Bukankah itu harusnya aku sendiri?

Masa muda adalah masa di mana aku bebas menyukai siapa pun, menjudge seseorang adalah milikku. Tapi aku lupa, lupa kalau kelak yang kusukai ‘kan lenyap, karena memang dia bukan takdirku. Saat itu usiaku masih belasan tahun, di mana hatiku mengusai kehidupanku tanpa memakai logika. Dan itu adalah masa muda yang penuh gairah tanpa tujuan akhir.

Kini saat usiaku sudah menginjak angka 20, gairah itu rasanya hilang. Cintaku pun bukan untuk semua orang. Aku kini banyak memikirkan masa depan, seperti apa akhirnya cintaku berlabuh?

Aku takut hati ini berlabuh pada orang yang salah di saat aku sudah siap untuk menikah. Aku takut hati ini berlabuh pada orang yang salah di saat aku belum siap untuk menikah. Aku juga takut, hati ini berlabuh pada orang yang sangat salah, di saat aku siap dan dia belum siap.

Segala ketakutan itu menghantuiku. Aku takut hati ini ‘kan terluka, saat cinta terus berbunga bahkan berakar tapi tak pernah sampai ke pernikahan. Hanya menyisakan luka dan akar yang mencakar di hatiku. Bukankah aku tak salah untuk menjaga hati ini?

Advertisement

Beban rasanya jika aku harus menanggung cinta tanpa pernikahan, bukankah itu kesalahan melabuhkan cinta?

Aku hanya ingin melabuhkan hatiku pada dia yang ‘kan menjadi takdirku. Aku hanya ingin menjaga hatiku dari rasa benci untuk seseorang yang tak pernah kesampaian. Dan aku hanya ingin hidup bahagia dengan hati yang murni tanpa menyisakan cinta pada seseorang yang selain takdirku.