Di Gunung Salak Bogor, orang kota yang pendatang merayakannya dengan meriah. Gelegar kembang api, petasan, dan bakar-bakaran. Sementara orang kampung yang penduduk asli, merayakan dengan nongkrong sambil menanti luncuran kembang api dan bunyi petasan si orang kota. Beda kasta beda cara.

Lalu apa yang ditinggalkan tahun baru?

Tahun baru, beda kasta beda cara. Orang kota, orang pintar meninggalkan sampah, sisa-sisa pesta pisah sambut tahun baru. Sampah terompet, sampah kembang api, sampah bakar-bakaran, bahkan sampah panggung hiburan. Orang kampung, orang bodoh ketinggalan sisa-sisa sampah yang harus dibersihkan. Katanya, orang kota orang pintar lebih bersih dari orang kampung orang bodoh. Lebih sadar orang kota daripada orang kampung. Gak tahu dari mana benarnya?

Tahun baru, beda kasta beda cara.

Tiap tahun baru…. Orang kota orang pintar bikin coretan tentang rencana yang akan dilakukan setahun ini. Ada harapan ada doa. Orang pintar menyebutnya RESOLUSI TAHUN BARU. Orang kampung orang bodoh boro-boro bikin resolusi, cari SOLUSI atas himpitan ekonomi saja tidak sempat dicoretkan. Bisa gak makan kalo kebanyakan bikin coretan. Mereka hanya bisa kerja dan cari pekerjaan untuk sesuap nasi, melanjutkan hidup yang dianugerahi Allah. Itu saja.

Tahun baru, beda kasta beda cara.

Advertisement

Orang kota, orang pintar bikin resolusi ukurannya fisik dan material semata. Ingin punya rumah, punya mobil baru, pengen nikah dengan orang pintar yang kaya dan ganteng. Lebih baik segalanya dari standar fisik. Karena urusan fisik gampang diukur, gampang dihitung dan gampang terlihat publik.

Sementara orang kampung, orang bodoh biasa saja, tanpa resolusi. Tetap fokus pada solusi ekonomi. Sambil membenahi dimensi kejiwaan, mental. Di tengah "keterbatasan" orang kampung bilang tahun baru ingin ibadah yang lebih bagus, ingin tetap semangat, tanpa keluh kesah, gak mau putus asa. Dan sebagainya yang urusannya mental, bukan fisik.

Tahun baru, beda kasta beda cara.

Orang kota, orang pintar bertumpu pada capaian fisik material. Orang kampung, orang bodoh lebih ke moralitas, spiritualitas. Karena fisik materi takkan puas bila dikejar. Tapi butuh sikap mental dalam mengelolanya.

Tahun baru, bisa menjadi sama di kasta yang beda. Kapan?

Ketika orang kota orang kampung, ketika orang pintar orang bodoh sama-sama punya CARA yang baru untuk menjadi “DIRI yang BARU”. Diri yang Baru. Diri yang cara berpikirnya baru. Cara merasanya baru. Cara bersikap yang baru. Cara bertindak yang baru. Diri yang jiwanya berubah. Mentalnya berubah. Diri dan cara hidup yang lebih baik dari sebelumnya.

Tahun baru, gimana bisa menjadi diri yang baru?

Tidak gampang tapi tidak sulit untuk menjadi "DIRI yang BARU". Diri yang baru itu butuh KOMITMEN dari kamu untuk berubah. Mengubah dimensi fisik material menjadi jiwa batiniah. Tidak akan ada diri yang baru tanpa mau berubah, dari kondisi yang kurang baik menjadi lebih baik.

Kaum Sufi menyatakan untuk menjadi “DIRI yang BARU” dibutuhkan 3 jiwa yang harus berubah dalam diri kamu:

1. Takhalli; artinya mengosongkan jiwa dari sifat-sifat buruk, seperti: sombong, iri, dengki, riya, cinta pangkat/jabatan, cinta pada dunia.

2. Tahalli; artinya menghiasi jiwa dengan sifat-sifat yang mulia, seperti: jujur, sabar, tawakal, ikhlas, dermawan, rajin, saling menolong, cinta pada Allah.

3. Tajalli; artinya membuka tabir yang menghalangi diri kita sebagai hamba dengan Allah. Hamba yang lebih baik mempersiapkan kematiannya.

Tahun baru, seharusnya tak lagi beda kasta beda cara.

Ketika orang kota bersama orang kampung, ketika orang pintar bersama orang bodoh "mau melupakan masa lalu, mau menyelamatkan masa depan". Dalam hal apapun, soal siapapun.

Dan mau lebih banyak menolong, bukan membiasakan minta tolong.

Karena tahun baru bukan banyak rencana yang hanya wacana. Tapi sedikit rencana yang bisa terlaksana. Hidup di tahun baru tak perlu banyak diskusi, tapi bertumpu pada eksekusi. Bukan resolusi tapi solusi. Bukan sensasi tapi esensi.

SELAMAT TAHUN BARU, ketika orang kota orang kampung, orang pintar orang bodoh saling berpangku.

Gunung Salak, 1 Januari 2016.