Jikalau pepatah, sering sekali menyatakan dunia itu ibarat roda, kadang kita berada diatas, kadang pula berada dibawah. Sungguh dinamis ya, mungkin seperti itulah yang terjadi pada hatimu maupun hatiku saat ini. Dinamis dan tak sama seperti dahulu kala.

Andai engkau tahu, mengapa keadaan yang dinamis ini harus terasa, terasa menyesakkan naluri. Dan andai engkau merasakan sama seperti apa yang sedang aku rasakan.

Aku bahkan bingung, atas dasar apa semua ini terjadi, haruskah aku bertanya padamu, mengapa semuanya nampak berbeda, namun lidahku seperti kelu, keberanianku pun masih mengumpat, sepertinya ada rasa tiada tega untuk mengatakan hal itu terhadapmu. Mungkin lewat rangakaian kata yang ada dalam tulisan ini, aku ingin kamu mengerti yang sesungguhnya.

Sedikit aku akan membawamu ke masa itu, berusaha membuka kembali ingatan lamamu, hanya sebuah ingatan, karena perubahan ini terjadi secara tiba-tiba begitu saja, bahkan tanpa ku ketahui sebabnya.

Kala itu, berbagai sebuah kisah sangat sering kita lakukan, tidak hanya hal yang penting, sesuatu yang sangat tidak penting pun akan menjadi bahan kisah kita. Aku dan kamu bisa jadi pendengar yang baik dan antusias bagi diri kita masing-masing, walau terkadang ada kisah yang sering di ulang, akan tetapi telingaku maupun telingamu masih membuka, membiarkan nada suara kisah itu masuk ke dalamnya.

Advertisement

Namun seiring berjalannya waktu, aku merasa lambat laun cerita yang biasa kita bagikan mulai tak bergeming lagi, dimanakah kumpulan cerita itu. Ataukah cerita-cerita itu mulai menghilang entah kemana, setelah sekian lama, kau dan aku begitu jarang untuk berkata-kata.

Kita mulai diam satu sama lain, hanya sesekali saja kita menyempatkan diri untuk saling bertegur sapa. Terkadang pula hanya di cukupkan untuk memberi segurat senyum. Ya, hanya itu saja. Tak banyak berbagi kisah, tawa dan candapun sekian lama, semakin tak terdengar lagi. Ini tidaklah seperti waktu itu. Semua terasa beda, amat beda, dan tak lagi sama.

Akan tetapi, sejujurnya, masih ada hal yang mengganjal, yang menggiang-nggiang di otakku, berbagai prasangka pun mendatangi hati. Aku paham benar bahwa prasangka-prasangka yang hadir untuk waktu ini bukanlah prasangka yang terdengar baik, harusnya kau cukup mengerti apa yang ku maksud ini, meski belum sepenuhnya aku katakan.

Prasangka itu hadir, seolah-olah membutakan persepsiku, menutupi kemungkinan kemungkinan hal yang di anggap baik. Menyibukkanku untuk mengira-ngira sendiri, apakah gerangan, apa yang sebenarnya terjadi, dan apa jawaban yang keluar dari mulutmu jika kamu mau berbicara.

Segala kemungkinan itu belum terjawab terkecuali jika memang prasangka yang muncul dari pikiranku adalah benar. Aku hanya bisa berpikir mungkin dan mungkin. Mungkin adalah sebuah jawaban dari setiap sudut keraguan dan ketidakpastiaan. Mungkin adalah jawaban sementara karena kau masih senang untuk membungkamkan diri. Karena tiada sepatah katapun yang ku dengar untuk sebuah jawaban mengapa secepat ini engkau berubah.

Aku mengerti bahwa perubahanmu dilakukan secara sadar, namun aku tidak mengerti alasan yang tepat mengapa kamu melakukan ini. Berpikir sejenak, lantas aku mengira-ngira beberapa hal yang mendasari kamu tega melakukan ini.

Masih ku awali dengan kata mungkin, mungkin kamu berubah karena sikapku? Bisa jadi itu benar, karena kau sudah mengenaliku bukan untuk waktu yang singkat. Maka tak heran, jika kamu paham akan pribadiku. apabila ada sifat atau perilaku diriku yang tak kau sukai yang membuatmu muak atas apa yang sedang kita jalani, mengapa tak dari dulu saja kita putuskan untuk tidak saling mengikat atau tidak saling menjalani hal terutama yang menyangkut -pautkan dengan hati. Atau kau berpikir bahwa yang membuatmu letih adalah perubahan sikapku, sehingga kau tanpa berpikir apa apa langsung berubah begitu saja. Begitukah sikap seseorang yang mengaku mencintai pasangannya. Gegabah dan tidak pernah berpikir ulang, kau salah besar. Seharusnya jika kamu mengganggap dirimu benar, seharusnya kau bertanya terlebih dahulu untuk berbagai peristiwa yang terjadi. Jika kau masih menganggap bahwa aku yang berubah, bolehlah sesekali kamu membuat list pengorbanan yang ku lakukan, bahkan untuk saat ini. Dan berpikirlah bagaimana sikapku atas perubahan dirimu, kamu bisa menilainya sendiri.

Kemudian untuk alasan yang kedua, aku juga hanya bisa mengatakan mungkin. Karena aku hanya bisa menebaknya sendiri, karena menunggu sebuah jawaban mengapa kamu tidak berubah tiada akan pernah ku dengar hingga saat ini. Mungkin kamu berubah karena aku bukanlah seseorang yang tepat teruntukmu, dan di sana, entah siapa, yang jelas tak ku ketahui siap. ada seseorang yang berdiri dan memanggil-manggil hatimu. Lalu secara perlahan kamu mulai menunjukan reaksi yang berbeda, secara bertahap kau mulai untuk tidak banyak bicara apalagi berbuat.

Itu semua hanya sebuah perkiraan yang terlintas begitu saja di pikiranku. Kamu seperti memaksaku untuk memecahkan sendiri, menentukan sendiri jawaban atas sikapmu. Dan kamu seperti sengaja tidak tahu-menahu atas perubahan sikapmu sendiri, bahkan kamu sungkan untuk berkata-kata.

“Formerly We are Something, but Now We are Nothing.” Sebuah kata-kata yang tepat untuk mewakili sebuah perasaanmu dan perasaanku saat ini. Seandainya engkau tahu apa yang ku rasakan saat ini, dan seandainya kita bisa bertukar posisi, kamu akan mengerti.

Rasa-rasanya jika aku terus memendam tanya bahkan perasaan padamu, apakah itu adil? Sedangkan kau hanya termangut-mangut saja, dan diam atas keadaan. Sampai kapankah kau akan bersikap seperti itu ?

Sejujurnya keinginanku hanya sederhana, aku ingin kita tidak saling berdiam diri seperti orang asing. Karena aku sendiri tak mampu berdrama seperti ini. Aku menyebut ini drama karena aku yakin perihal ini memang sengaja dibuat, dan kamu yang memulai jalan cerita itu. Sedangkan aku tak kan bisa berdrama, aku tidak mampu membohongi hatiku sendiri, dan pikiranku tidak pernah berkata setuju untuk ikut berperan dalam ceritamu ini. Aku berkata, “aku lelah, apa kamu tidak lelah atas semua ini ?”

Tolong berhentilah, karena ini sungguh menyakitkan, sungguh.

Aku ingin kita tidak saling berdiam diri seperti orang asing. Aku mau kita bersikap seperti biasanya, natural, tidak ada yang dibuat-buat. Aku memang berharap kita bisa seperti waktu itu, sebelum kebisuaan ini menerkam diantara kita. Namun disatu sisi, aku terlihat begitu egois jika aku memaksakan semua keinginan dan harapanku. Namun jika kamu mau berubah, silahkan saja, aku tak kan melarangmu, meski aku sendiri merasa sedih atas sikapmu, aku akan mencoba ikhlas. Namun ketahuilah, berdiam bukanlah tindakan yang tepat apalagi untuk sebuah drama yang menuntun kita pada sebuah perpisan yang tak lagi saling mengenal.

“I wish you happy with your decision although when you walk far away from me.”