Satu hal manis yang kuingat tentangnya adalah ia mampu membuatku bahagia dan menangis di saat yang bersamaan. Ia membangkitkan harapan, lalu menguburkannya. Ia merekatkan puing-puing rinduku, lalu menghancurkannya. Ia membuatku mencintainya, lalu mematahkan hatiku. Tapi aku tak pernah mampu membencinya.

Meskipun airmata hanya mampu meredakan sejenak rasa sakit ini, tapi aku lega. Ia menolongku melupakan sejenak pria yang dulu ku pikir tak mampu ku lupakan. Ia membantuku membabat separuh kenangan tentang pria yang dulu ku pikir sama sekali tak bisa ku hapus.

Ini rasa dan kisah teraneh yang pernah ku alami. Mencintai dengan sepenuh hati, meski akhirnya tertatih-tatih tanpa kejelasan status yang pasti. Merindukan dengan seluruh rasa, walau kenyataan melenceng jauh dari harapan. Tak memiliki, namun merasakan kehilangan yang teramat dalam. Bukan siapa-siapa, tapi menangis tersedu-sedu oleh pengkhianatan yang tidak bisa dikatakan pengkhianatan pula. Bahkan luka juga trauma masa laluku yang belum sempat tersembuhkan harus bertambah karena kehadirannya.

Entah aku harus bersyukur karena kehadirannya, atau justru malah mengumpat karena tak mampu membuatnya jatuh dalam pelukanku. Ternyata banyak hal yang Tuhan perhadapkan padaku untuk mempertimbangkan kembali ego ini. Sepertinya ini bukan cinta. Mungkin aku tak mencintainya. Mungkin aku terobsesi. Hanya terobsesi karena sudah terlalu lama aku lupa bagaimana rasanya memiliki perasaan yang menakjubkan ini.

Aku harus kembali sekuat tenaga untuk melepaskan dan merelakan cinta yang bukan menjadi kepunyaanku. Cinta yang bahkan belum sempat dan takkan pernah kumiliki.