Sama sepertimu,akupun pernah mengalami masa-masa ketika engkau merasa semesta begitu mendukungmu, mendukung untuk menjungkalmu, memberikan kesialan-kesialan dan melemparmu ditempat yang paling dasar, begitu kejamnya alam mempermainkan kehidupan,akh ternyata kau lebih dari yang kuduga,akupun tercengang oleh kisahmu, kisah kehidupanmu, dan masa-masa kelam yang pernah kau lalui yang tak seharusnya hadir di usiamu yang masih 8 th.

Aku tahu kita baru saja bertemu,tapi setidaknya,kau memberiku pelajaran berharga,pelajaran yang tak ingin kudapat dengan cara harus mengalami langsung sepertimu,tapi kau berhasil menampar hatiku,membuatku malu seketika, dengan senyum tulusmu, kau mampu membuatku kalah telak, ternyata kaulah pemenang sebenarnya, dan aku pecundang yang hanya bisa mengeluh.

Bahkan Tuhan tak mengizinkanmu untuk melihat ibumu walau hanya sebentar, tidur di pelukannya ataupun berceloteh tentang teman-temanmu, Tuhan terlalu cepat mengambil Ibumu, tapi walau begitu kau masih bisa tertawa lepas saat aku membacakan dongeng untukmu, kaupun menjalani hidup dengan begitu tegar meskipun getir, kau masih bisa bilang "alhamdulilah ya kak, enak makanannya." Rasa syukurmu pun membuatku tertegun,kau bahkan bisa mensyukuri hal-hal kecil yang sering ku abaikan.

Sempat kau menangis terisak didepanku,saat baru pertama kali masuk sekolah dasar,karena tas sekolahmu yang harus memakai kantong kresek, dan kau tak memiliki seragam,sedangkan tas dan baju teman-temanmu baru, apalagi ditambah ejekan teman-temanmu, yang tak sepantasnya kau terima, tapi bagaiman? Ahh, aku salah menduga,aku kira kau tak akan mau lagi menginjak sekolahan itu, kau ternyata gadis yang tegar,kau tetap sekolah, kau sudah mulai terbiasa dengan ejekan teman-temanmu.

Saat aku bertanya "dek,cita-citanya pengen jadi apa?" dengan wajah polosmu,kaupun menjawab "aku pengen jadi dokter kak,biar nanti bisa nyuntik ibu-ibu hamil,jadi bayi sama ibunya bisa tetap hidup."

Advertisement

Belajar dari kisahmu,aku putuskan untuk menutup mata,menutup pikiran dari carut marut kehidupan,berfikir takjim sejenak,apakah masih pantas aku berulang kali mengutuk takdir Tuhan? jika ternyata kau saja yang memiliki kisah yang jauh lebih menyakitkan masih bisa tersenyum ramah ke dunia.